Di zaman ketika orang bisa jatuh cinta lewat scrolling dan putus lewat typing, muncul sebuah nasehat : hidup ini seperti listrik. Ya, listrik. Bukan PLN-nya yang suka padam, tapi arusnya—yang katanya menentukan apakah hidup kita terang atau justru konslet batin.
Pesannya sederhana: “Keburukan menarik keburukan,
kebaikan menarik kebaikan.” Kalau ini dijadikan status WhatsApp, mungkin
akan dianggap bijak. Tapi kalau dipikir-pikir lebih dalam, ini agak menegangkan
juga. Artinya, kalau pagi kita sudah iri lihat tetangga beli motor baru, siang
kita bisa tambah iri, sore bisa naik level jadi dengki, dan malam hari… ya
tinggal tunggu hati kita minta service besar.
Hati: Antara Power Bank dan Bom Waktu
Menurut nasehat tersebut, hati manusia itu seperti muatan
listrik. Kalau positif, dia akan nyambung dengan yang positif. Kalau negatif,
ya… jangan harap bisa connect ke jaringan kebaikan. Ini menjelaskan
banyak hal. Misalnya, kenapa orang yang lagi bad mood sulit menerima nasihat.
Bukan karena nasihatnya salah, tapi karena hatinya lagi “low battery” dan
chargernya ketinggalan di masa lalu.
Lebih menarik lagi, jujur mengakui bahwa hati itu tidak
stabil. Ini kabar baik sekaligus buruk. Baiknya, kita tidak dituntut jadi
malaikat Wi-Fi full sinyal 24 jam. Buruknya, kita ternyata lebih mirip sinyal
di pelosok: kadang full bar, kadang hilang total hanya karena sedikit awan
emosi.
Dan ketika hati tidak dijaga, terjadilah yang disebut sebagai “ledakan dan kebakaran dalam hati.” Ini metafora yang sangat
akurat. Kita semua pernah merasakannya: marah kecil yang tiba-tiba jadi besar,
kesal ringan yang berubah jadi drama tiga episode. Ternyata, itu bukan karena
orang lain. Itu karena ada korsleting di dalam.
Taubat: APAR untuk Kebakaran Batin
Meski di sini tidak menyebut kata “taubat”, isinya seperti
brosur tersembunyi tentang pentingnya pemadam kebakaran spiritual. Bayangkan
hati kita seperti dapur. Kalau ada api kecil, kita bisa langsung padamkan. Tapi
kalau kita biarkan, tiba-tiba satu rumah batin kita hangus—dan kita masih
sempat bilang, “Ini cobaan.”
Di sinilah pentingnya muhasabah: semacam daily
check apakah hati kita masih layak pakai atau sudah perlu reset pabrik.
Kadang kita terlalu sibuk mencari solusi besar—dzikir panjang, ritual
berat—padahal yang dibutuhkan adalah hal sederhana: berpikir baik, menahan
prasangka, dan tidak overthinking soal hal yang bahkan belum terjadi.
Nasehat ini seperti alarm asap. Tidak memadamkan api, tapi
cukup membuat kita sadar: “Eh, ada yang mulai gosong nih.” Dan jujur saja,
kesadaran seperti itu sering lebih berharga daripada ceramah satu jam yang kita
dengar sambil ngantuk.
Kesederhanaan yang Menampar Halus
Yang menarik, nasehat ini tidak membawa dalil panjang, tidak
ada istilah rumit, bahkan tidak ada nada menggurui. Ia hanya datang, bicara 37
detik, lalu pergi—meninggalkan kita dengan pikiran: “Jangan-jangan selama ini
hati saya sering nyolok ke sumber yang salah.”
Karena memang, dalam hidup ini, kita sering sibuk
memperbaiki tampilan luar—feed Instagram rapi, status bijak, foto profil senyum
teduh—tapi lupa bahwa di dalam, kabel-kabel hati kita sudah kusut seperti
charger lima ribuan.
Hidup Itu Soal Frekuensi
Akhirnya, esai ini membawa kita pada dua kesimpulan penting.
Pertama, keburukan itu menular lebih cepat daripada gosip tetangga. Kedua,
kebaikan juga menular—meski kadang butuh usaha sedikit lebih besar, seperti
mencari sinyal di tempat yang tidak bersahabat.
Jadi, menjaga hati itu bukan proyek sekali jadi. Ia lebih
mirip menjaga koneksi internet: harus rutin dicek, kadang perlu di-restart,
dan sesekali harus sabar ketika dunia terasa “lemot.”
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal seberapa keras
kita berusaha terlihat baik, tapi seberapa konsisten kita menjaga “muatan” di
dalam. Sebab dari sanalah, segala sesuatu bermula—termasuk apakah kita akan
jadi cahaya… atau sekadar lampu yang sering berkedip.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.