Di zaman ketika mie instan saja dianggap terlalu lama jika lebih dari tiga menit, muncul sebuah konten motivasi Islami berdurasi kurang dari dua menit yang berani melawan arus: menyuruh kita… bersabar. Bukan hanya sabar menunggu ojek online, tapi sabar menunggu doa. Sebuah konsep yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti: “Upgrade iman Anda ke paket premium, karena paket gratis tampaknya buffering.”
Ceritanya sederhana: Tapi dari percakapan santai mereka, lahirlah satu kalimat
yang terasa seperti notifikasi dari langit: “Teruskan saja doamu, jangan
berhenti.”
Kalimat ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa generasi
digital, kira-kira berarti: “Silakan klik ‘retry’ tanpa batas, meskipun
server belum merespons.” Bedanya, ini bukan error. Ini justru sistemnya
memang begitu.
Masalahnya, kita sudah terlalu lama dimanjakan oleh dunia
yang serba instan. Kita pesan kopi—datang. Kita klik video—langsung jalan. Kita
kirim pesan—centang dua. Maka ketika kita berdoa dan tidak ada “centang biru
ilahi,” kita mulai curiga: apakah jaringan langit sedang gangguan?
Padahal, seperti yang diingatkan, doa itu bukan
tombol submit sekali klik. Ia lebih mirip subscription seumur
hidup. Berhenti berdoa itu seperti berhenti berlangganan harapan—dan tidak ada
yang lebih mahal dari itu.
Lalu masuklah konsep yang sering bikin dahi berkerut: husnuzhan.
Berprasangka baik kepada Allah, bahkan ketika hidup terasa seperti sinetron
yang episodenya tidak kunjung membaik.
Kita diminta percaya bahwa kegagalan, kehilangan, bahkan
patah hati yang levelnya sudah seperti director’s cut, itu semua adalah
“kebaikan yang menyamar.”
Masalahnya, kebaikan ini sering menyamar terlalu niat.
Sampai-sampai kita ingin bilang, “Ya Allah, kalau ini kebaikan, bolehkah dibuka
sedikit topengnya? Minimal kasih teaser?”
Namun di situlah letak seni keimanan: percaya tanpa spoiler.
Kemudian datanglah bagian yang paling jujur sekaligus paling
menohok: hidup itu melelahkan. Ujian itu capek. Dan ternyata, itu memang fitur,
bukan bug.
Dalam logika spiritual, kelelahan bukan tanda Anda salah
jalan. Justru bisa jadi Anda sedang naik level. Ibarat game, semakin tinggi
levelnya, semakin sulit musuhnya. Bedanya, ini bukan game yang bisa di-pause
untuk makan gorengan.
Dan puncak dari semua ini adalah satu konsep yang paling
sulit diterima oleh manusia modern: menunggu.
Menunggu doa dikabulkan itu seperti menunggu file besar
diunduh dengan koneksi yang naik-turun. Kita bolak-balik cek, “Sudah sampai
mana, ya?” Padahal, mungkin yang sedang diunduh bukan sekadar hasil doa, tapi
versi diri kita yang baru—yang lebih siap menerimanya.
“Suatu saat kamu akan paham,” kata nasihat itu.
Kalimat yang terdengar seperti janji, tapi juga seperti plot
twist yang masih ditahan oleh penulis skenario kehidupan.
Dan akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang terasa
menenangkan sekaligus sedikit “menyentil”: Allah tahu kapan kita siap
menjadi hebat.
Artinya, mungkin masalahnya bukan pada doanya yang tidak
dikabulkan, tapi pada kita yang belum cukup kuat untuk tidak pamer ketika doa
itu benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.