Di zaman ketika orang bisa merasa gagal hanya karena postingannya “cuma” dapat 12 likes (dan 3 di antaranya dari keluarga inti), kita memang hidup dalam standar sukses yang... yah, cukup kreatif. Kreatif dalam arti: bisa bikin orang stres tanpa perlu alasan yang benar-benar jelas.
Maka ketika sebuah utas dari akun @KateriSeraphina muncul
dengan kalimat sederhana “C’est tellement vrai”, rasanya seperti ada
seseorang yang tiba-tiba mematikan alarm lomba lari massal yang tidak pernah
kita sadari kita ikuti. Kita berhenti sejenak, terengah-engah, lalu bertanya:
“Lho, ini kita lagi lari ke mana, ya?”
Masuklah suara dari Romy Schneider, yang dengan santai—dan
mungkin sedikit lelah—mengatakan bahwa sukses itu bukan soal terkenal, kaya,
atau berkuasa. Pernyataan ini, di era sekarang, hampir terdengar seperti
seseorang bilang: “Air putih itu enak,” di tengah festival minuman boba dengan
17 topping.
Tapi justru di situlah kekuatannya.
Bayangkan: selama ini kita diajari bahwa sukses itu seperti
level di game—harus naik terus. Dari karyawan jadi manajer, dari manajer jadi
direktur, dari direktur jadi “orang yang tidak sempat tidur tapi punya kursi
mahal.” Tapi Romy datang dan bilang, “Sukses itu bisa sesederhana bangun pagi
tanpa ingin pura-pura mati lampu.”
Jujur saja, itu standar yang jauh lebih masuk akal.
Ia mereduksi sukses menjadi hal-hal yang sangat “tidak
Instagramable”: bangun dengan bahagia, bekerja dengan orang yang disukai (atau
minimal tidak membuat kita ingin resign setiap Senin pagi), dan tidur dengan
tenang tanpa replay percakapan memalukan lima tahun lalu.
Dan puncaknya: mencintai.
Ini menarik, karena kata “cinta” di dunia modern sering
kalah pamor dibanding “networking” atau “scaling up”. Kita lebih sering
bertanya, “Ini bisa jadi peluang nggak?” daripada “Ini bikin saya hidup nggak?”
Padahal, seperti yang disiratkan oleh pengalaman hidup
Romy—yang sudah mencicipi ketenaran, uang, sekaligus kehilangan—hidup itu bukan
soal seberapa tinggi kita naik, tapi seberapa utuh kita bertahan.
Di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan selama ini
kita bukan gagal sukses… tapi salah lomba.
Apalagi di tahun 2026, di mana semua orang tampak produktif,
bahagia, dan glowing—setidaknya di layar. Sementara di balik layar, banyak yang
diam-diam googling: “cara istirahat tanpa merasa bersalah.”
Fenomena burnout jadi semacam badge of honor: kalau
belum capek, berarti belum sukses. Logika yang, kalau dipikir-pikir, mirip
dengan mengatakan: “Kalau belum kehujanan, berarti belum benar-benar keluar
rumah.”
Di sinilah utas sederhana itu bekerja seperti penawar racun
digital. Ia tidak berteriak. Tidak menyuruh kita “bangkit sekarang juga!” atau
“raih mimpimu sebelum jam 5 pagi!”. Ia hanya berbisik: “Kamu yakin ini yang
kamu cari?”
Dan anehnya, bisikan itu lebih mengganggu daripada teriakan
motivator.
Karena tiba-tiba kita mulai jujur.
Pada akhirnya, esai ini tidak ingin mengajak Anda berhenti
bekerja, apalagi langsung pindah ke pegunungan dan beternak kambing (kecuali
memang itu impian Anda, silakan). Tapi setidaknya, ia mengajak kita untuk
mengecek ulang kompas.
Karena bisa jadi, kita sudah berlari sangat jauh… hanya
untuk menemukan bahwa garis finisnya tidak pernah kita inginkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.