Senin, 27 April 2026

Sukses yang (Mungkin) Salah Kita Kejar — Versi Sedikit Lebih Waras

Di zaman ketika orang bisa merasa gagal hanya karena postingannya “cuma” dapat 12 likes (dan 3 di antaranya dari keluarga inti), kita memang hidup dalam standar sukses yang... yah, cukup kreatif. Kreatif dalam arti: bisa bikin orang stres tanpa perlu alasan yang benar-benar jelas.

Maka ketika sebuah utas dari akun @KateriSeraphina muncul dengan kalimat sederhana “C’est tellement vrai”, rasanya seperti ada seseorang yang tiba-tiba mematikan alarm lomba lari massal yang tidak pernah kita sadari kita ikuti. Kita berhenti sejenak, terengah-engah, lalu bertanya: “Lho, ini kita lagi lari ke mana, ya?”

Masuklah suara dari Romy Schneider, yang dengan santai—dan mungkin sedikit lelah—mengatakan bahwa sukses itu bukan soal terkenal, kaya, atau berkuasa. Pernyataan ini, di era sekarang, hampir terdengar seperti seseorang bilang: “Air putih itu enak,” di tengah festival minuman boba dengan 17 topping.

Tapi justru di situlah kekuatannya.

Bayangkan: selama ini kita diajari bahwa sukses itu seperti level di game—harus naik terus. Dari karyawan jadi manajer, dari manajer jadi direktur, dari direktur jadi “orang yang tidak sempat tidur tapi punya kursi mahal.” Tapi Romy datang dan bilang, “Sukses itu bisa sesederhana bangun pagi tanpa ingin pura-pura mati lampu.”

Jujur saja, itu standar yang jauh lebih masuk akal.

Ia mereduksi sukses menjadi hal-hal yang sangat “tidak Instagramable”: bangun dengan bahagia, bekerja dengan orang yang disukai (atau minimal tidak membuat kita ingin resign setiap Senin pagi), dan tidur dengan tenang tanpa replay percakapan memalukan lima tahun lalu.

Dan puncaknya: mencintai.

Ini menarik, karena kata “cinta” di dunia modern sering kalah pamor dibanding “networking” atau “scaling up”. Kita lebih sering bertanya, “Ini bisa jadi peluang nggak?” daripada “Ini bikin saya hidup nggak?”

Padahal, seperti yang disiratkan oleh pengalaman hidup Romy—yang sudah mencicipi ketenaran, uang, sekaligus kehilangan—hidup itu bukan soal seberapa tinggi kita naik, tapi seberapa utuh kita bertahan.

Di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan selama ini kita bukan gagal sukses… tapi salah lomba.

Apalagi di tahun 2026, di mana semua orang tampak produktif, bahagia, dan glowing—setidaknya di layar. Sementara di balik layar, banyak yang diam-diam googling: “cara istirahat tanpa merasa bersalah.”

Fenomena burnout jadi semacam badge of honor: kalau belum capek, berarti belum sukses. Logika yang, kalau dipikir-pikir, mirip dengan mengatakan: “Kalau belum kehujanan, berarti belum benar-benar keluar rumah.”

Di sinilah utas sederhana itu bekerja seperti penawar racun digital. Ia tidak berteriak. Tidak menyuruh kita “bangkit sekarang juga!” atau “raih mimpimu sebelum jam 5 pagi!”. Ia hanya berbisik: “Kamu yakin ini yang kamu cari?”

Dan anehnya, bisikan itu lebih mengganggu daripada teriakan motivator.

Karena tiba-tiba kita mulai jujur.

Bahwa mungkin kita tidak butuh lebih banyak pencapaian, tapi lebih banyak ketenangan.
Bahwa mungkin kita tidak kekurangan ambisi, tapi kelelahan arah.
Dan bahwa mungkin—ini yang paling berbahaya—kita sebenarnya sudah cukup, tapi tidak pernah diberi waktu untuk merasa cukup.

Pada akhirnya, esai ini tidak ingin mengajak Anda berhenti bekerja, apalagi langsung pindah ke pegunungan dan beternak kambing (kecuali memang itu impian Anda, silakan). Tapi setidaknya, ia mengajak kita untuk mengecek ulang kompas.

Karena bisa jadi, kita sudah berlari sangat jauh… hanya untuk menemukan bahwa garis finisnya tidak pernah kita inginkan.

Dan kalau itu benar, kabar baiknya sederhana:
Anda tidak harus berlari lebih cepat.
Cukup berhenti, tarik napas, dan pelan-pelan pulang.

Ke tempat yang sangat sederhana, tapi sering kita abaikan:
pagi yang ringan, hati yang penuh, dan malam yang tidak perlu dimenangkan—cukup dijalani.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.