Di zaman ketika notifikasi lebih sering berbunyi daripada suara hati, manusia modern hidup dengan satu keyakinan sederhana: musuh terbesar adalah deadline. Padahal, kalau mau jujur sedikit—dan ini agak menyakitkan—deadline itu cuma tukang parkir. Yang narik uang (dan iman) justru sesuatu yang tak kelihatan: kolaborasi epik antara iblis dan hawa nafsu.
Sebuah nasihat santai dari seorang kiai membuka rahasia yang
selama ini mungkin kita kira cuma teori: ternyata hidup ini bukan sekadar
drama, tapi produksi film besar. Dan kita? Ya… kadang bukan pemeran utama, tapi
figuran yang terlalu percaya diri.
Iblis dan Nafsu: Duo Tanpa Album, Tapi Hits Terus
Ada satu fakta menarik: iblis itu tidak punya hawa nafsu.
Dia tidak tergoda diskon, tidak kalap lihat flash sale, dan tidak tiba-tiba
pengen bakso jam 11 malam. Stabil. Konsisten. Fokus. Kalau iblis punya
LinkedIn, mungkin skill utamanya: “Strategic Temptation, 1000+ years
experience.”
Sementara itu, manusia? Baru lihat bakso lewat saja sudah
goyah. Nafsu ini ibarat tombol “auto-yes” dalam diri kita. Iblis cukup
membisikkan trailer, nafsu langsung memproduksi filmnya.
Iblis itu sutradara. Nafsu itu aktor. Dan kita? Kadang jadi
penonton yang tidak sadar kalau itu film kita sendiri.
Kuda Liar, Kereta, dan Kusir yang Sering Ngantuk
Kiai memberikan analogi yang sangat membumi: nafsu itu kuda
liar, tubuh adalah kereta, dan akal adalah kusir.
Masalahnya, kusir ini sering ngantuk.
Bayangkan kuda liar dengan tenaga 1000cc, tapi kusirnya
habis begadang nonton serial. Ya jelas saja keretanya nyungsep ke jurang. Bukan
karena kudanya jahat, tapi karena yang pegang kendali lagi low battery.
Lucunya, kita sering menyalahkan kudanya: “Nafsu ini memang
susah dikendalikan!” Padahal kusirnya saja belum sarapan iman.
Islam ternyata tidak menyuruh kita membunuh kuda itu. Kalau
semua nafsu dimatikan, hidup jadi seperti sayur tanpa garam—halal sih, tapi
hambar. Yang diminta adalah: pegang kendali. Jadi kusir yang melek, bukan yang
tiap belokan bilang, “Ya sudah lah ya, ikuti saja arus…”
Iblis: Satu-Satunya Makhluk yang Full-Time Tanpa Cuti
Mari kita bandingkan jadwal harian:
- Manusia:
kerja, makan, scroll, rebahan, overthinking, tidur.
- Iblis:
menyesatkan manusia.
Tanpa jeda. Tanpa burnout. Tanpa libur nasional.
Lebih mengkhawatirkan lagi, dia bisa melihat kita, sementara
kita tidak bisa melihat dia. Ini bukan pertandingan yang fair. Ini seperti main
catur tapi lawan kita bisa lihat semua langkah kita, sementara kita masih sibuk
cari pion yang jatuh ke bawah meja.
Dan trik paling canggih dari iblis bukan menakut-nakuti.
Bukan. Dia tidak datang dengan suara horor. Dia datang dengan bisikan yang
elegan: membuat kita merasa penting.
Kedudukan Jomblo: Jabatan Tanpa SK
Ini mungkin salah satu inovasi terbesar iblis: memberi kita
“kedudukan palsu”.
Tiba-tiba kita merasa:
- paling
bijak,
- paling
paham agama,
- paling
menderita,
- paling
benar,
- bahkan…
paling tampan (ini yang paling berbahaya).
Padahal realitanya? Belum tentu tetangga sebelah tahu nama
kita.
Inilah yang disebut “kedudukan jomblo”: gelarnya ada, tapi
tidak diakui siapa-siapa. Seperti presiden tanpa negara. Atau menteri tanpa
kementerian. Atau influencer tanpa followers (ini tragis).
Iblis tidak perlu menjatuhkan kita ke jurang. Cukup membuat
kita berdiri di atas awan khayalan—lalu kita sendiri yang melompat dengan
percaya diri.
Tanda Bahaya: “Saya Lebih Baik dari Dia”
Selamat. Anda sedang dites.
Ini adalah fitur premium dari godaan iblis. Versi upgrade.
Bukan lagi soal maksiat biasa, tapi soal kesombongan—penyakit yang membuat
iblis diusir dari langit.
Dan hebatnya, kesombongan ini bisa pakai berbagai kostum:
- kostum
agama (“Saya lebih alim”),
- kostum
sosial (“Saya lebih berkelas”),
- kostum
estetika (“Feed saya lebih rapi”),
- bahkan
kostum kesederhanaan (“Saya lebih rendah hati dari dia”—ini level dewa).
Begitu perasaan ini muncul, iblis tidak perlu kerja keras
lagi. Dia cukup duduk, minum kopi metaforis, dan menonton kita merusak diri
sendiri.
Kita Ini Kusir, Bukan Penumpang
Pada akhirnya, hidup ini bukan soal menghilangkan
iblis—karena itu di luar kuasa kita. Bukan juga soal menghapus nafsu—karena itu
bagian dari kita. Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupakan:
kita ini kusir.
Kita yang pegang kendali. Kita yang menentukan arah. Mau ke
jurang atau ke tujuan.
Dengan bekal akal, kesadaran, dan sedikit kerendahan hati
(yang sering kita tunda), sebenarnya kita punya peluang menang. Memang tidak
mudah—karena lawannya sudah berpengalaman ribuan tahun. Tapi setidaknya kita
tidak bertarung tanpa senjata.
Kalau jawabannya mulai meragukan, mungkin sudah waktunya
turun sebentar dari panggung, duduk, dan berkata jujur pada diri sendiri:
“Sepertinya… saya ini cuma figuran yang terlalu semangat.”
*Wallahu a’lam.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.