Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang melihat jam dinding sebagai penunjuk waktu, dan yang melihatnya sebagai pengingat bahwa hidupnya sedang “di-skip intro”-kan tanpa tombol pause. Jika Anda termasuk golongan kedua—selamat, Anda sudah setengah jalan memahami isi kajian “Belajar Indah Bersama Allah.” Setengahnya lagi? Ya… tinggal diamalkan. Itu bagian yang biasanya bikin kita pura-pura sibuk.
Waktu: Bukan Sekadar Jam, Tapi Dompet Bocor
Mari kita mulai dari kenyataan pahit: waktu itu seperti
dompet bocor, tapi yang jatuh bukan uang—melainkan umur. Dan lebih tragisnya,
tidak ada cashback, tidak ada promo “beli satu hari gratis satu hari.”
KH. M. Luqman Hakim dengan elegan (dan sedikit mengancam secara halus)
mengingatkan bahwa setiap detik adalah aset sekali seumur hidup.
Bayangkan jantung Anda berdetak sekitar 133.000 kali sehari.
Itu artinya, kalau setiap detak adalah pesan WhatsApp dari Allah, kita ini
sudah mute chat-Nya sejak lama. Parahnya lagi, tidak ada fitur “mark as
unread” di akhirat.
Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: dari sekian banyak
detak itu, berapa yang kita isi dengan dzikir? Dan berapa yang kita isi
dengan... scroll TikTok sambil bilang, “Ini terakhir, serius”?
Dzikir: Dari Level Pemula Sampai “Auto Mode Ilahi”
Dalam dunia dzikir, ternyata ada “level-up” seperti game.
Tapi sayangnya, ini bukan game yang bisa di-cheat.
Level pertama: dzikrul khalqi. Ini dzikir ala “aku
ingin pahala, ya Allah.” Sah-sah saja, ini starter pack. Ibaratnya, kita masih
daftar gym karena ingin terlihat keren, bukan karena cinta olahraga.
Level kedua: mulai sadar bahwa kita berdzikir bukan karena
kita hebat, tapi karena Allah duluan yang “mention” kita. Jadi ini bukan kita
yang aktif, tapi kita yang di-reply.
Level ketiga? Nah ini sudah masuk zona “mind blown.” Di
sini, Allah mengingat Diri-Nya sendiri, dan kita cuma numpang lewat sebagai
refleksi. Ibarat kaca, kita bukan wajahnya—kita cuma permukaan yang kebetulan
memantulkan.
Kalau Anda mulai bingung, itu normal. Bahkan mungkin itu
tanda Anda mulai “naik level.”
Ibadah yang Tidak Bisa Di-Save
Dalam hidup, kita terbiasa dengan konsep “nanti saja.” Nanti
shalatnya diqadha, nanti puasanya diganti, nanti tobatnya kalau sudah tua
(klasik sekali).
Tapi sayangnya, ada ibadah yang tidak punya tombol “save
game”: dzikir, syukur, dan sabar di momen tertentu.
Anda tidak bisa bilang, “Ya Allah, kemarin saya dapat rezeki
tapi lupa bersyukur. Bisa diulang dari checkpoint?” Tidak bisa. Hidup ini bukan
game RPG, ini lebih mirip live streaming—sekali lewat, ya sudah.
Maka setiap momen itu unik. Bahkan rasa kesal di jalan,
antrean panjang, atau sinyal lemot—itu semua adalah “soal ujian” yang tidak
akan keluar dua kali.
Cinta: Hati Bukan Kos-Kosan
Ini bagian yang paling “menampar tapi pakai sarung.” Hati
manusia, itu, hanya punya satu lubang cinta. Bukan seperti tas
emak-emak yang bisa muat segalanya.
Masalahnya, kita sering isi lubang itu dengan cicilan,
target karier, drama keluarga, dan wishlist belanja. Lalu kita heran kenapa
cinta kepada Allah terasa sempit. Ya iyalah—sudah penuh!
Lucunya, kita ini seperti orang yang menyimpan charger di
tas penuh kabel, lalu bingung kenapa tidak bisa menemukan yang asli. Padahal
dari awal sudah salah konsep: hati itu bukan gudang, tapi ruang eksklusif.
Solusinya? Bukan berarti harus meninggalkan dunia, tapi
menata ulang siapa yang jadi “prioritas utama.” Dunia itu boleh, tapi jangan
sampai dia jadi main character.
Spiritualitas di Era Notifikasi
Kajian ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, di mana
konsentrasi kita bisa kalah oleh notifikasi “flash sale 90%.”
Kita hidup di era di mana:
- Scroll
lebih panjang dari dzikir
- Story
lebih rutin dari istighfar
- Dan
“typing…” lebih sering dari tafakkur
Namun justru di tengah kekacauan itu, pesan tasawuf menjadi
semacam antivirus ruhani. Ia tidak menyuruh kita kabur dari dunia, tapi
mengajari kita cara tidak tenggelam di dalamnya.
Dengan mengubah pola pikir dari “aku harus mencintai Allah”
menjadi “Allah sudah mencintaiku duluan,” ibadah berubah dari beban menjadi
balasan. Dari kewajiban menjadi kerinduan.
Dan itu… jujur saja… jauh lebih ringan. Seperti balas chat
orang yang kita suka—tidak perlu dipaksa, malah ditunggu-tunggu.
Hidup Indah, Tapi Bukan Filter Instagram
Akhirnya, “Belajar Indah Bersama Allah” bukan tentang hidup
tanpa masalah. Ini bukan paket wisata spiritual all-inclusive.
Ini tentang mengisi setiap detak dengan makna. Tentang
menyadari bahwa hidup tidak perlu sempurna untuk menjadi indah—cukup hadir
bersama Allah di setiap momen.
Jadi mulai sekarang, mungkin kita tidak perlu langsung jadi
wali. Cukup mulai dari hal kecil:
- Ingat
Allah di sela aktivitas
- Bersyukur
sebelum mengeluh
- Dan
sesekali berhenti scroll untuk… ya, bernapas dengan sadar
Karena siapa tahu, di antara satu detak dan detak
berikutnya, kita sedang belajar sesuatu yang sederhana tapi mahal: bagaimana
caranya hidup… dengan indah.
abah-arul.blpgspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.