Di zaman ketika ibu jari lebih sering olahraga daripada kaki, kita menemukan sebuah tragedi sunyi: manusia masih bernapas, tetapi pikirannya mulai megap-megap. Bukan karena kurang oksigen, melainkan karena terlalu banyak notifikasi. Di tengah kondisi genting ini, seorang pelukis bernama Kateri Seraphina datang membawa kabar yang terdengar sederhana, tapi efeknya seperti kopi pahit tanpa gula: mungkin kita kehilangan kemampuan berpikir… gara-gara tidak diajarkan menulis sambung.
Ya, Anda tidak salah baca. Bukan karena teori konspirasi global, bukan karena alien, tapi karena kita berhenti menyambung huruf.
Ketika Huruf Diputus, Pikiran Ikut Tersendat
Dulu, menulis itu seperti lari pagi: mengalir, konsisten,
kadang ngos-ngosan tapi tetap sampai tujuan. Cursive—atau tulisan
sambung—memaksa tangan kita bergerak tanpa jeda. Dari huruf ke huruf, seperti
kereta ekonomi yang tidak berhenti di setiap stasiun kecil.
Sekarang?
Menulis sudah seperti naik ojek online: berhenti, jalan,
berhenti lagi, sambil cek notifikasi.
Akibatnya, pikiran kita pun ikut-ikutan. Dulu mengalir seperti sungai, sekarang seperti Wi-Fi warung kopi: kadang lancar, kadang connecting…
Dunia Cepat, Pikiran Cepat… Tapi Kosong?
Kata orang zaman sekarang, kita hidup di era kecepatan.
Semua harus cepat: makan cepat, jawab cepat, jatuh cinta cepat, putus juga
lebih cepat.
Tapi ada satu masalah kecil: cepat tidak selalu berarti
dalam.
Ini yang sejak lama sudah diingatkan oleh Nicholas Carr dan
Cal Newport. Mereka bilang, otak kita sekarang lebih sering “loncat-loncat”
daripada “menyelam”. Kita tahu banyak hal, tapi seperti tahu judul buku tanpa
pernah baca isinya.
Dan di sinilah cursive seperti tokoh minor yang diremehkan, tapi sebenarnya pahlawan. Ia memaksa kita untuk tidak lompat. Ia menyuruh kita duduk, diam, dan berpikir sampai selesai—sesuatu yang bagi sebagian orang modern terasa seperti hukuman penjara ringan.
Scroll, Scroll, Scroll… Lalu Lupa Kita Lagi Ngapain
Mari jujur sebentar.
Berapa kali Anda buka HP cuma mau cek satu hal, lalu 20
menit kemudian Anda sedang menonton video kucing yang pakai helm?
Itulah dunia tanpa “cursive mental”. Semua terputus. Tidak
ada alur. Tidak ada napas. Pikiran kita jadi seperti playlist acak tanpa tombol
“repeat”.
Padahal, menurut orang Yunani kuno (yang belum kenal
TikTok), napas itu inti dari hidup. Tanpa napas, tidak ada pikiran. Tanpa
pikiran, tidak ada kehidupan.
Sekarang kita punya napas, tapi dipakai untuk menghela saat loading.
Anak Kecil, Buku, dan Seekor Anjing: Kemewahan Baru
Bayangkan sebuah pemandangan sederhana: seorang anak kecil
duduk tenang membaca buku, ditemani anjing lucu, tanpa gangguan notifikasi,
tanpa bunyi “ting”.
Dulu itu disebut “kehidupan biasa”.
Sekarang? Itu sudah masuk kategori “retreat spiritual
premium”.
Keheningan, fokus, dan kesederhanaan—tiga hal yang dulu gratis—sekarang terasa seperti barang langka yang harus dipesan jauh-jauh hari.
Kembali ke Cursive (Atau Setidaknya, Kembali Bernapas)
Solusi yang ditawarkan sebenarnya sederhana: ajarkan lagi
menulis sambung.
Tapi mari kita realistis. Mengembalikan cursive ke sekolah
mungkin lebih sulit daripada mengembalikan mantan yang sudah bahagia.
Namun, inti pesannya bukan di hurufnya, melainkan di
ritmenya.
Tentang memberi ruang bagi pikiran untuk:
- tidak
tergesa-gesa,
- tidak
terpotong,
- dan
tidak selalu ingin segera selesai.
Karena tidak semua hal harus cepat. Beberapa hal justru perlu dirasakan pelan-pelan—seperti kopi, hujan, atau membaca pesan panjang tanpa langsung balas “ok”.
Kita Tidak Kehilangan Pena, Tapi Kehilangan
Aliran
Akhirnya, mungkin masalah kita bukan sekadar tidak bisa
menulis cursive.
Dan di tengah dunia yang terus menyuruh kita bergerak lebih
cepat, mungkin yang paling radikal justru ini:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.