Ada dua jenis manusia dalam sejarah: yang benar-benar kerja, dan yang fotonya masuk buku pelajaran. Dalam kisah penemuan Borobudur, kita lama diajari bahwa sang bintang utama adalah Thomas Stamford Raffles—sosok yang kalau diibaratkan film, muncul dengan musik orkestra, jas rapi, dan aura “aku menemukan ini semua”.
Tapi kemudian datang plot twist dari Facebook. Nama baru pun muncul: Tan Jin Sing. Dan tiba-tiba, sejarah terasa seperti sinetron yang episode panjangnya baru kita tonton di tengah-tengah.
Babak 1: Raffles, Si Visioner yang (Katanya) Tidak Turun ke Lapangan
Dalam versi klasik, Raffles adalah pahlawan: ia “menemukan” Candi Borobudur, menyelamatkannya dari hutan, lalu menaruhnya di peta dunia.
Masalahnya, versi ini agak mirip bos startup yang bilang, “Kita harus inovatif!”—lalu pulang, sementara timnya begadang.
Menurut narasi tandingan, Raffles memang memberi perintah. Tapi yang benar-benar masuk hutan, ketemu semak, ular, dan mungkin juga rasa ragu eksistensial adalah Tan Jin Sing dan kawan-kawan. Jadi kalau ini film, Raffles itu executive producer, sementara Tan Jin Sing adalah stuntman yang benar-benar loncat dari tebing.
Babak 2: Tan Jin Sing, Multiverse Sebelum Marvel
Yang membuat cerita ini makin seru bukan hanya soal “siapa kerja, siapa terkenal”, tapi soal identitas Tan Jin Sing.
Ia bukan sekadar Kapiten Cina. Ia juga disebut sebagai bangsawan Jawa. Ia hidup di antara dua dunia: Jawa dan Tionghoa, elite dan rakyat, birokrat dan petualang semak-semak.
Kalau hari ini, mungkin bio Instagram-nya akan berbunyi:
“Jawa-Tionghoa | Bupati | Kapiten | Explorer | Anti ular π”
Narasi ini seperti ingin berkata: identitas itu bukan kotak-kotak Excel. Ia lebih mirip gado-gado—campur, tapi justru enak.
Babak 3: Rachmat dan Paimin, Tokoh Figuran yang Sebenarnya Tokoh Utama
Di balik dua nama besar itu, ada Rachmat (mandor) dan Paimin (warga desa). Mereka ini tipe orang yang dalam film hanya muncul 3 detik, tapi sebenarnya tanpa mereka filmnya tidak jalan.
Mereka tahu lokasi, mereka ikut membuka jalan, mereka yang mungkin pertama kali berkata, “Pak, ini candinya, tapi masih ketutup ilalang.”
Namun seperti biasa, sejarah punya kebiasaan buruk: ia lebih suka mengingat yang pakai seragam resmi daripada yang pakai caping.
Babak 4: Sejarah Itu Bukan Tunggal, Tapi Rame Kayak Grup WA
Tulisan tentang Tan Jin Sing ini pada dasarnya ingin melakukan satu hal sederhana tapi radikal: bilang bahwa sejarah itu tidak tunggal.
Masalahnya, kita terlalu lama hidup dengan satu versi, seperti hanya baca satu review restoran lalu yakin itu yang paling benar—padahal belum cek komentar netizen yang lain.
Babak 5: “Meluruskan Sejarah”
Tentu saja, semangat “meluruskan sejarah” kadang juga seperti diet ekstrem: niatnya bagus, tapi bisa berlebihan.
Padahal kenyataannya mungkin lebih membosankan (dan lebih masuk akal): ini kerja tim, tapi dengan struktur kekuasaan kolonial yang tidak adil.
Semua berkontribusi—hanya saja tidak semua dapat panggung.
Siapa yang Menemukan?
Jadi, siapa sebenarnya “penemu” Borobudur?
Jawaban jujurnya mungkin tidak dramatis: tidak ada satu orang.
Borobudur tidak “ditemukan” seperti menemukan kunci motor yang hilang. Ia lebih seperti “diingat kembali” oleh banyak orang dengan peran berbeda-beda.
Dan mungkin, pelajaran paling penting dari kisah ini bukan soal siapa yang paling berjasa, tapi ini:
Tan Jin Sing, Raffles, Rachmat, Paimin—mereka semua seperti kru dan aktor dalam satu produksi besar bernama masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.