Selasa, 07 April 2026

Jalan Terang: Ketika Iblis Lembur dan Manusia Hobi Nyasar

Di tengah dunia yang serba cepat—di mana notifikasi lebih sering datang daripada hidayah—manusia modern punya satu hobi baru: bingung secara profesional. Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah nasihat sederhana dari seorang Kiai yang tidak neko-neko, tidak pakai istilah berat, tapi justru menohok tepat di ulu hati: hidup itu cuma dua jalur—Jalan Terang atau jalan gelap. Tidak ada jalur “nanti dulu saya mikir”.

Masalahnya, manusia ini unik. Sudah jelas ada jalan terang, malah pilih jalan gelap. Bukan karena tidak tahu, tapi karena merasa, “Kayaknya yang gelap ini lebih estetik.” Seolah-olah hidup ini feed Instagram—yang penting dramatis, bukan logis.

Menurut sang Kiai, ini bukan semata soal kurang ilmu. Ini soal “lawan tanding” yang tidak kelihatan tapi rajin banget kerja: iblis. Dan yang bikin minder, iblis ini bukan tipe pekerja santai. Dia lembur 24 jam. Sementara kita? Baru diajak bangun tahajud saja sudah negosiasi lima kali dengan bantal.

Kiai itu dengan jujur berkata, “Saya ngajak sekali, iblis bisiki 24 jam—ya jelas saya kalah.” Ini bukan pengakuan kekalahan, tapi pengakuan bahwa manusia sering terlalu percaya diri melawan sesuatu yang bahkan kita tidak sadar sedang kita dengarkan. Kadang kita merasa, “Ini keputusan saya.” Padahal, itu suara ego yang sedang cosplay jadi kebijaksanaan.

Lucunya lagi, manusia sering keras kepala mempertahankan hidup yang jelas-jelas tidak enak. Sudah susah, tetap dipertahankan. Sudah gelap, malah ditambah lampu mati. Kalau ditanya kenapa tidak pindah ke jalan terang, jawabannya sederhana: “Sudah nyaman di sini.” Ini seperti orang kehujanan tapi menolak masuk rumah karena sudah basah sekalian.

Masuk ke urusan rezeki, nasihat ini makin menarik. Dalam keyakinan kita, rezeki itu sudah dijamin. Tapi tetap saja banyak yang hidupnya seret. Kenapa? Karena mereka tidak mau lewat “kepelintasan”—jalan kecil, sempit, mungkin tidak terlihat keren, tapi di situlah rezeki diselipkan Tuhan.

Sebaliknya, manusia lebih suka jalan besar. Jalan tol kehidupan. Lebar, mulus, ramai—tapi ternyata kosong. Tidak ada berkah. Ini seperti masuk mall mewah cuma buat lihat-lihat, pulangnya lapar.

Kita sering mengira rezeki itu ada di tempat yang kelihatan wah: pekerjaan bergengsi, bisnis besar, atau sesuatu yang bisa dipamerkan. Padahal, bisa jadi rezeki kita ada di hal sederhana: pekerjaan kecil tapi halal, relasi yang tulus, atau bahkan ketenangan hati yang tidak bisa dibeli dengan cicilan.

Dan di sinilah puncak kebijaksanaan Kiai itu: “Biarlah setiap orang berjalan di jalannya masing-masing.” Sebuah kalimat yang terdengar seperti menyerah, padahal ini level sabar yang sudah naik kelas. Kita tetap mengajak, tapi tidak maksa. Karena ternyata, memaksa orang masuk jalan terang itu sama sulitnya dengan menyuruh kucing mandi pakai sabun wangi—niatnya baik, hasilnya chaos.

Dalam tradisi yang mengajarkan qonaah, ini jadi pengingat penting: tugas kita bukan jadi satpam hidayah orang lain. Tugas kita adalah memastikan diri sendiri tidak ikut-ikutan nyasar. Karena ironis sekali kalau kita sibuk menarik orang dari jalan gelap, tapi kaki kita sendiri sudah satu di jurang.

Tentu saja, nasihat ini bukan tanpa kekurangan. Penjelasan tentang “iblis di dalam tubuh” mungkin terdengar terlalu simpel bagi yang suka diskusi tasawuf level dewa. Tidak ada panduan teknis seperti dzikir sekian kali atau wirid jam sekian. Tapi mungkin justru di situlah kekuatannya—ini bukan buku manual, ini alarm.

Dan seperti semua alarm, tugasnya bukan menjelaskan panjang lebar. Tugasnya cuma satu: membangunkan.

Jadi, di tengah hidup yang makin ribut ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: suara siapa yang sedang kita ikuti? Jalan mana yang sedang kita tempuh? Dan yang paling penting—apakah kita benar-benar ingin sampai, atau cuma menikmati drama tersesat?

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal seberapa jauh kita berjalan, tapi apakah kita berjalan di bawah cahaya… atau sekadar nyaman di kegelapan.

Amin.

abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.