Di tengah derasnya arus konten keislaman—yang kadang lebih deras daripada kuota malam—muncullah sebuah pesan sederhana namun agak “mengganggu kenyamanan rebahan”: ilmu itu bukan untuk dikoleksi, tapi untuk dipraktikkan. Sebuah potongan kajian berjudul agak dramatis, “Ketika Hakikat Tersingkap, Apa yang Terjadi?”, hadir seperti notifikasi penting di antara lautan video kucing dan resep mie instan level dewa.
Pesannya singkat, tapi efeknya panjang: siapa yang
mengamalkan ilmu yang ia miliki, maka Allah akan membukakan ilmu baru yang
sebelumnya tidak ia ketahui. Ini semacam sistem upgrade spiritual—bedanya,
bukan pakai langganan premium, tapi pakai amal. Dan yang lebih menarik: tidak
ada fitur “skip ads”. Semua harus dilalui dengan kesabaran dan keikhlasan.
Masalahnya, di era sekarang, banyak dari kita sudah sampai
tahap “tahu segalanya, melakukan seadanya.” Kita hafal kutipan, fasih
membagikan hadis di status, bahkan bisa debat panjang soal fiqh—tapi ketika
azan berkumandang, kita masih sibuk menawar diskon di marketplace. Ilmu jadi
seperti koleksi buku di rak: rapi, banyak, tapi berdebu. Ia tidak menghidupkan,
malah diam-diam memberatkan.
Padahal dalam tradisi tasawuf, ada konsep yang cukup
“misterius tapi logis”: ilmu ladunni. Ilmu yang tidak didapat dari
Google, bukan pula dari seminar berbayar, tapi dari “langganan langsung” ke
langit—tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku. Syarat utamanya
sederhana: amalkan dulu yang sudah tahu. Ibaratnya, Tuhan tidak akan kirim file
baru kalau folder lama saja belum pernah dibuka.
Di sinilah menariknya pendekatan para ulama sufi—termasuk
gaya khas seorang dai seperti yang mampu menjembatani kitab
klasik seperti Al-Hikam dengan realitas kita yang lebih akrab dengan swipe
daripada tafakur. Tidak mempersulit, tidak pula mengintimidasi. Pesannya
justru membumi: “Amalkan saja dulu yang ada.” Tidak perlu menunggu jadi alim
level ensiklopedia berjalan.
Lucunya, kita sering membayangkan “hakikat tersingkap” itu
seperti adegan film: cahaya turun dari langit, suara bergema, lalu kita
tiba-tiba jadi bijak seperti orang tua dalam novel klasik. Padahal kenyataannya
mungkin jauh lebih sederhana—dan sedikit kurang dramatis. Hakikat itu bisa jadi
muncul dalam bentuk hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, atau
tiba-tiba kita sadar bahwa marah-marah di kolom komentar itu tidak sebermanfaat
yang kita kira.
Dalam istilah tasawuf, ini disebut mukasyafah—tersingkapnya
tabir. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: seperti tiba-tiba sinyal
hati jadi full bar. Tidak lagi buffering saat menghadapi ujian hidup. Tidak
mudah error saat diuji emosi. Dan yang paling penting, tidak lagi tergantung
pada validasi eksternal—karena sudah “terhubung” ke sumber utama.
Yang menarik lagi, pesan ini justru disampaikan lewat format
video pendek—yang biasanya kita anggap sebagai habitat hiburan dangkal. Tapi di
tangan yang tepat, bahkan durasi 60 detik bisa menjadi pintu menuju refleksi
panjang. Kita dipaksa berhenti sejenak dan bertanya: “Ilmu yang sudah aku tahu
ini… sudah pernah aku pakai belum?”
Jawaban jujurnya sering kali membuat kita ingin cepat-cepat
scroll lagi.
Pada akhirnya, esai ini tidak sedang mengajak kita menjadi
sufi dalam semalam—itu juga tidak realistis. Tapi ia mengingatkan sesuatu yang
jauh lebih penting dan sering kita abaikan: bahwa perjalanan menuju kedalaman
tidak dimulai dari hal besar, melainkan dari langkah kecil yang konsisten. Dari
satu amal sederhana yang benar-benar dilakukan, bukan hanya dipikirkan.
Jadi mungkin, sebelum kita mencari kajian baru, membeli buku
baru, atau menyimpan quote baru, ada baiknya kita membuka “folder lama” dalam
diri kita. Lihat apa saja yang sudah kita tahu, lalu pilih satu saja untuk
diamalkan hari ini.
Siapa tahu, dari satu langkah kecil itu, “Wi-Fi langit”
mulai menyala.
Dan ketika itu terjadi, kita akan paham satu hal yang sering
kita lupakan: bukan banyaknya ilmu yang membuat kita terang, tapi amal yang
membuat ilmu itu benar-benar menyala di dalam dada.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.