(atau: bagaimana petani, saham, dan perasaan “kurang terus” akhirnya duduk satu meja dan saling menatap canggung)
Di zaman ketika notifikasi lebih rajin muncul daripada niat
taubat, manusia modern tampaknya sepakat pada satu hal: kalau bisa cepat,
kenapa harus pelan—meskipun tidak jelas juga mau cepat ke mana. Kita bangun
pagi dengan alarm bernada motivasi, lalu tidur malam dengan perasaan bersalah
karena belum cukup produktif, padahal bahkan kopi pun belum sempat mencerna
dirinya sendiri.
Lalu datanglah sebuah nasehat berjudul “HIDUP TENANG DAN
DAMAI”. Ia hadir seperti teman lama
yang tidak menghakimi, hanya duduk di samping kita dan berkata, “Kamu capek
ya?”—dan anehnya, kita langsung ingin menangis, atau setidaknya menunda membuka
email.
Nasehat itu mempertemukan dua tokoh imajiner: seorang petani
dan seorang manusia kota. Si petani hidup di rumah pinggir sawah, makan cabai
dari pohon sendiri, ikan dari kolam sendiri, dan kemungkinan besar juga bahagia
dari stok sendiri. Sementara manusia kota hidup dari grafik naik-turun yang
lebih dramatis daripada hubungan tanpa status, mengejar angka yang kalau sudah
didapat pun biasanya langsung terasa kurang.
Pesannya sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk dunia
yang suka kerumitan: ketenangan tidak datang dari banyaknya yang kita punya,
tetapi dari cukupnya yang kita rasa.
Masalahnya, manusia modern punya alergi ringan terhadap kata
“cukup”. Kita lebih nyaman dengan kata “lagi sedikit”, “hampir”, atau “next
target”. Kata “cukup” terdengar seperti pensiun dini dari ambisi, padahal
sebenarnya ia lebih mirip cuti dari kegelisahan.
Dalam nasehat itu, ada kalimat yang terdengar seperti tamparan
halus: “Segala perilaku kita adalah cerminan hati. Kalau hatimu tenang, maka
tindakanmu akan tenang.” Ini menarik, karena selama ini kita sering
menyalahkan dunia luar atas kekacauan dalam diri—traffic, deadline, ekonomi,
bahkan cuaca—padahal mungkin yang sebenarnya perlu diatur bukan jadwal,
melainkan hati.
Dalam khazanah Islam, ini bukan barang baru. Ada zuhud
(tidak lengket pada dunia), qana’ah (merasa cukup), dan tawakal
(berserah diri). Tiga konsep yang, jika dijadikan paket bundling, bisa
menyaingi aplikasi meditasi mana pun—tanpa perlu langganan premium.
Namun, mari kita jujur sebentar (tenang, tidak lama):
gambaran petani dalam nasehat itu agak terlalu… sinematik. Seolah-olah hidup di
desa adalah kombinasi antara iklan sabun herbal dan puisi nostalgia. Padahal di
dunia nyata, banyak petani yang lebih sering panen utang daripada panen padi.
Harga komoditas naik-turun seperti mood hari Senin, dan akses layanan dasar
masih jadi perjuangan.
Jadi, mengidealkan kehidupan sederhana tanpa melihat
realitasnya bisa berbahaya. Ia bisa berubah dari nasihat menjadi pelarian, dari
refleksi menjadi romantisasi. Seolah-olah solusi dari stres adalah pindah ke
desa, padahal yang kita bawa ke desa tetap hati yang sama—lengkap dengan
kegelisahannya.
Begitu juga dengan kehidupan kota. Tidak semua yang sibuk
itu lupa akhirat, dan tidak semua yang santai itu dekat dengan Tuhan. Ada orang
yang bekerja dari pagi sampai malam demi nafkah halal, dan itu justru bentuk
ibadah yang sangat konkret—meskipun tidak sempat duduk di bawah pohon sambil
makan cabai hasil tanam sendiri.
Di sinilah letak keindahan sekaligus jebakan dari nasihat
“tenangkan hati”. Ia benar, tetapi bisa disalahpahami. Ia dalam, tetapi bisa
terdengar dangkal. Seperti mengatakan kepada orang yang tenggelam, “Coba lebih
rileks saja”—secara konsep tidak salah, tapi secara praktik… ya, mari kita
realistis.
Namun demikian, bukan berarti pesan ini harus kita buang
bersama sisa-sisa ambisi yang tidak tercapai. Justru sebaliknya: kita perlu
menyimpannya sebagai kompas, bukan sebagai peta. Ia tidak memberi tahu kita
harus tinggal di mana atau bekerja sebagai apa, tetapi mengingatkan bagaimana
cara merasa.
Bahwa hidup tidak harus selalu berlari, karena tidak semua
tujuan butuh kecepatan—beberapa hanya butuh kesadaran. Bahwa “cukup” bukan
akhir dari perjalanan, melainkan cara menikmati perjalanan itu sendiri.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu menjadi petani untuk
merasakan tenang, dan tidak harus meninggalkan kota untuk menemukan damai. Yang
kita butuhkan barangkali hanya satu hal yang paling sulit dijaga di era serba
cepat ini: hati yang tidak ikut terburu-buru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.