Di zaman ketika notifikasi lebih cepat datang daripada hidayah, kita hidup dalam peradaban yang unik: sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit update status. Dunia modern tampaknya berhasil menciptakan satu spesies baru—Homo Offensus—manusia yang bisa marah hanya karena emotikon yang salah.
Di tengah kondisi genting ini (genting bagi hati, bukan bagi
negara), sebuah nasihat sederhana muncul seperti air kelapa di tengah puasa
scroll media sosial: “Syariat itu Dunia, Hakikat itu Akhirat.”
Kalimatnya pendek. Dampaknya panjang. Terutama bagi mereka yang baru saja tersinggung lima menit lalu.
Syariat: Saat Kita Masih Ribut dengan Ayam Goreng
Menurut Kiai dalam kisah ini, syariat itu urusan
lahiriah—yang tampak, yang bisa diukur, yang bisa dipamerkan diam-diam (atau
terang-terangan, tergantung niat dan jumlah followers). Shalat, puasa,
sedekah—semua penting. Tapi masalahnya, sering kali kita berhenti di situ.
Akibatnya? Kita jadi manusia yang rajin ibadah, tapi masih
bisa perang batin hanya karena ada yang bilang:
“Ayam gorengmu kelihatannya kering.”
Langsung panas. Bukan ayamnya—kita.
Padahal kalau direnungkan, ini kan cuma ayam. Dia tidak tahu
kita tersinggung. Dia bahkan sudah wafat dengan ikhlas. Tapi kita? Masih
memperjuangkan kehormatannya seperti itu warisan keluarga.
Di titik ini, kita sedang berada di level jasad: segala sesuatu diukur dari “punyaku”, “namaku”, “statusku”. Dan semua itu, sayangnya, gampang tersinggung.
Hakikat: Ketika Dicaci, Kita Malah Ngopi
Berbeda dengan hakikat, yang tidak tampak tapi
terasa. Ini wilayah ruh—tempat di mana seseorang tidak lagi sibuk menjaga harga
diri di mata manusia, tapi menjaga kejernihan hati di hadapan Tuhan.
Di level ini, kalau ada orang berkata:
“Kamu itu tidak penting.”
Orang hakikat akan menjawab (dalam hati, sambil senyum):
“Memang. Dari dulu juga saya bukan siapa-siapa.”
Lalu dia lanjut ngopi.
Bayangkan betapa hemat energinya hidup seperti ini. Tidak
perlu klarifikasi. Tidak perlu debat. Tidak perlu bikin thread sepanjang
skripsi hanya untuk membuktikan bahwa kita “layak dihargai”.
Karena di level ini, yang dihargai bukan lagi opini publik, tapi ketenangan batin.
Ukuran Kedewasaan: Dari Segenggam Beras ke Sekarung
Analogi beras dalam nasihat ini sangat jujur sekaligus
menampar pelan.
Anak kecil mengambil beras segenggam. Orang dewasa sepiring.
Orang tua sekarung.
Nah, pertanyaannya: jiwa kita ini lagi ambil beras yang
mana?
Kalau baru dikritik sedikit langsung meledak, mungkin kita
masih di level “beberapa butir”. Secara umur sudah dewasa, tapi secara batin
masih trial version.
Sementara orang yang sudah matang secara ruhani, dia tidak
lagi menghitung hal-hal kecil. Mau dipuji? Biasa saja. Mau dihina? Lebih biasa
lagi.
Karena dia sudah “belanja” di pasar akhirat—bukan lagi di minimarket validasi manusia.
Kita Ini Lucunya di Mana?
Yang paling lucu dari semua ini adalah: kita sering merasa
sudah “dekat dengan Tuhan”, tapi masih sensitif terhadap komentar tetangga.
Kita bisa tahan lapar saat puasa, tapi tidak tahan dikritik
saat buka puasa.
Kita hafal doa-doa panjang, tapi kalah oleh satu kalimat
pendek:
“Kayaknya kamu salah deh.”
Langsung runtuh.
Di sinilah nasihat Kiai terasa seperti cermin yang jujur: bukan ibadah kita yang salah, tapi mungkin kita terlalu cepat puas di level syariat.
Catatan Penting (Sebelum Disalahpahami)
Jangan buru-buru menyimpulkan:
“Oh, berarti tidak usah syariat, langsung saja hakikat.”
Itu seperti bilang:
“Tidak usah sekolah dasar, langsung saja jadi profesor.”
Syariat itu pondasi. Hakikat itu isi rumahnya. Kalau
pondasinya belum ada, yang dibangun bukan rumah—tapi ilusi.
Jadi tetap shalat, tetap puasa, tetap berbuat baik. Hanya saja, upgrade sistem hati juga perlu dilakukan.
Dari Baper ke Bening
Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan sederhana namun
mengganggu:
Kita ini masih mudah tersinggung, atau sudah mulai
tenang?
Kalau masih sering panas karena hal sepele, mungkin kita
masih hidup sebagai “jasad yang sensitif”.
Tapi kalau mulai bisa tersenyum saat diremehkan, diam saat
difitnah, dan santai saat tidak dihargai—selamat.
Itu tanda bahwa dalam diri kita, pelan-pelan, ruh mulai
mengambil alih kendali.
Dan di situlah hidup menjadi lebih ringan.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.