Di zaman sekarang, ukuran kebahagiaan itu sederhana: saldo naik, wajah glowing, dan story Instagram penuh “Alhamdulillah ya, Allah baik banget hari ini.” Kalau bisa ditambah caption “MasyaAllah rezeki anak soleh,” meskipun baru saja memotong antrean orang lain di jalan, itu nilai plus.
Masalahnya, hidup tidak sesederhana “saldo
bertambah = Allah sayang.” Kadang, justru sebaliknya: saldo bertambah, tapi itu
tanda Anda sedang diberi… kebebasan penuh untuk tersesat dengan gaya premium.
Selamat datang di dunia istidraj: ketika hidup lancar, tapi arah hidup justru makin ngawur.
Sukses Tanpa Rem: Mode “Sakarepmu” Diaktifkan
Dalam sebuah kajian , dijelaskan bahwa
bentuk “hukuman” paling halus itu bukan bangkrut, bukan sakit, bukan juga WiFi
lemot saat Zoom penting.
Ini seperti Tuhan berkata, “Ya sudah, silakan. Sakarepmu.”
Bayangkan Anda punya anak yang mulai nakal. Biasanya orang
tua akan menegur. Tapi kalau suatu hari orang tua diam saja, bahkan membiarkan
anak itu melakukan apa pun—itu bukan karena sayang. Itu karena… sudah capek.
Nah, dalam konsep istidraj, “diamnya” Tuhan itu justru alarm paling keras—sayangnya kita sering tidak dengar, karena lagi sibuk hitung omzet.
Kisah Klasik: Pengusaha Sukses, Hati Off-line
Ada kisah dari zaman Nabi Musa AS: seorang pemuda sukses
luar biasa. Kaya, sombong, dan doyan maksiat. Tapi anehnya, bisnisnya makin
lancar. Tidak ada tanda-tanda “karma instan” seperti yang sering kita harapkan
dari sinetron.
Dengan percaya diri, dia menantang: “Mana siksaannya?”
Dia tidak lagi merasa butuh Tuhan. Tidak merasa bersalah.
Tidak gelisah saat jauh dari-Nya. Bahkan mungkin masih rajin upload quotes
religi—sekadar estetika.
Itu seperti HP mahal, sinyal full, tapi tidak pernah dipakai nelpon orang yang paling penting.
Adab Hilang: Dari “Hamba” Jadi “Bos Kehidupan”
Masalah utamanya bukan pada kekayaan. Islam tidak pernah
alergi pada sukses. Yang jadi masalah adalah hilangnya adab—rasa tahu
diri bahwa kita ini hamba, bukan CEO semesta.
Begitu adab hilang, manusia berubah pelan-pelan:
- Doa
bukan lagi permohonan, tapi daftar tuntutan
- Ibadah
bukan lagi kebutuhan, tapi formalitas
- Sukses
bukan lagi amanah, tapi pembenaran
Padahal, napas saja kita tidak pernah ikut rapat saat diputuskan.
Zaman Modern: Ketika Istidraj Pakai Filter HD
Ukuran keberkahan berubah jadi:
- jumlah
followers
- engagement
rate
- dan
seberapa sering video kita masuk FYP
Karena ternyata, yang membuat manusia jauh dari Tuhan bukan hanya penderitaan—tapi juga kenyamanan yang berlebihan.
Jadi, Harus Miskin Biar Selamat?
Tidak juga. Tenang.
Islam tidak menyuruh kita jadi sengsara agar masuk surga.
Tapi Islam mengingatkan: sukses itu amanah, bukan bukti otomatis cinta Tuhan.
Kuncinya ada di tiga hal sederhana (yang sering kita anggap
remeh):
- Tawakkal
→ sadar bahwa hasil bukan milik kita
- Husnudzon
→ tidak mudah menilai keadaan sebagai “pasti baik” hanya karena enak
- Mengikuti
sunnah → tetap punya arah, bukan sekadar mengikuti tren
Alarm yang Tidak Berbunyi
Akhirnya, mungkin kita perlu sedikit curiga pada hidup yang
terlalu mulus.
Bukan paranoid, tapi waspada.
Jadi kalau hari ini hidup Anda lancar, doa cepat terkabul,
dan semua terasa “on track”—itu kabar baik.
Tapi jangan lupa tanya satu hal penting:
“Hati saya ikut mendekat, atau justru makin menjauh?”
Dan sayangnya, tidak ada tombol “unsubscribe”.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.