Di zaman ketika notifikasi lebih rajin menyapa daripada kesadaran diri, ada satu nasihat klasik yang selalu terasa baru: istiqomah. Bukan istilah asing, tapi sering terasa seperti aplikasi yang kita punya… namun jarang dibuka.
Esai ini bukan ingin menggurui. Ia hanya ingin mengajak bercermin—meski kadang yang terlihat bukan wajah, tapi daftar alasan.
Masalahnya, semakin sering kita mengucapkannya, semakin mahir kita membuat alasan. Dan tanpa sadar, alasan-alasan itu bukan lagi soal waktu atau tenaga, tapi tanda bahwa hati mulai kehilangan arah.
Lalu ada fase yang lebih halus tapi lebih licin: merasa sudah cukup baik.
Baru beberapa kali konsisten, hati mulai berbisik, “Sepertinya aku sudah naik level.” Sedikit lebih rajin, sedikit lebih khusyuk, lalu muncul rasa spesial—seolah-olah kita sudah masuk jalur cepat menuju ketenangan.
Padahal, bisa jadi itu hanya ilusi. Semacam hadiah kecil yang membuat kita lengah. Karena ketika merasa “sudah sampai”, biasanya kita justru berhenti melangkah.
Bayangkan hidup seperti ladang. Tanpa pembatas yang jelas, air akan mengalir ke mana saja. Begitu juga dengan amal—tanpa niat yang terjaga, ia mudah bercampur: sedikit untuk kebaikan, sedikit untuk pengakuan, sedikit lagi untuk kepuasan diri.
Akhirnya, yang terlihat baik di luar belum tentu jernih di dalam.
Istiqomah bukan garis lurus tanpa gangguan. Ia lebih seperti perjalanan panjang dengan banyak belokan—yang penting bukan seberapa lurus jalannya, tapi apakah kita masih bergerak.
Karena hidup bukan lomba siapa yang paling cepat terlihat baik, tapi siapa yang paling jujur dalam memperbaiki diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.