Senin, 03 Desember 2018

Kado Tuk Anakku di Hari Difabel


Kado untuk anakku di hari Difabel Internasional 2018 (3/12/2018)
Aku goreng kembali Puisi-puisi yang pernah kupersembahkan sebelumnya.
berharap dapat memicu perenungan dan semangat bagi yang memiliki
anak difabelatau atau yang berempati padanya :


Duniamu seluas kotak tv

:manarul anakku
oeh : Imam Burhanuddin
Ketika teman sebayamu
Dengan riangnya mencoratcoret
Langitlangit kelas
Menebar tawa menarinari
Di halaman sekolah
Kau menangisi lara
Dalam rumah dengan pintupintu
Merangkeng jiwa
Sendiri berteman televisi
Sembari menguburi mimpimimpi
Tak ada yang peduli
Atau mereka tak tahu
Kamu juga punya mimpi
Mereka cuma tahu
Duniamu seluas kotak tv

(04/02/12)

Maafkan aku anakku

Inginku menggelar siang
Dihari depanmu
Tapi sampai kini
Basa malammu belum bisa kuterjemahkan

Senampan andai yang selalu kusuguhkan
Belum genapkan angan di hatimu
Mengapa kata harus menjadi duta hasrat
Tidak bahasa jiwa saja
Setidaknya tukku dan kau anakku
Sehingga ku tahu apa yang kau mau

(04/02/12)


Imam Burhanuddin

Inyong Bocah ABK

Angger bae nyong teyeng ngetung
mesti tek etung tetes cut setetes
Banyu udan sing drojos kang langit
Pirang pirang jam nyong batiri udan
Sekang jendela
Tangan tek dawa dawakna
Nyaweli udan pengin kenalan
Dumdum crita
Dunya ramai tur brisik
Ning dina dina
Gawene nengumah dewekan
Inyong dadi jimat
Bocah siji sing kudu derumat
Neng bapa tunggal
Liane nyingkir
Padahal udu wong kentir
Kur kurang pikir

Ajibarang, 20/11/13

Selasa, 26 Desember 2017

Duniamu seluas kotak tv




Duniamu seluas kotak tv
:manarul anakku
oeh : Imam Burhanuddin

Ketika teman sebayamu
Dengan riangnya mencoratcoret
Langitlangit kelas
Menebar tawa menarinari
Di halaman sekolah
Kau menangisi lara
Dalam rumah dengan pintupintu
Merangkeng jiwa
Sendiri berteman televisi
Sembari menguburi mimpimimpi
Tak ada yang peduli
Atau mereka tak tahu
Kamu juga punya mimpi
Mereka cuma tahu
Duniamu seluas kotak tv

(04/02/12)

Maafkan aku anakku

Inginku menggelar siang
Dihari depanmu
Tapi sampai kini
Basa malammu belum bisa kuterjemahkan

Senampan andai yang selalu kusuguhkan
Belum genapkan angan di hatimu
Mengapa kata harus menjadi duta hasrat
Tidak bahasa jiwa saja
Setidaknya tukku dan kau anakku
Sehingga ku tahu apa yang kau mau

(04/02/12)

Kamis, 21 Desember 2017

Puisi Nggo Biyung Inyong





Ibu

Awan putih di kepala
menambah terang keriput kening
beban sujudmu yang panjang
pada kehidupan
nasehat nasehat semanis senyum
di kulum
seringkali diabaikan
walau getir pahit kehidupan
tak jarang menghadang kenyataan
ibu
sujudku hanya untuk tuhan
tapi kerapkali nakal
dalam sujudku
tampak telapak kakimu yang sorga

Tutong, Brunei November 1997

Selasa, 05 Desember 2017

Renungan





Ngarai Di Balik Bukit 1
Oleh : Imam Burhanuddin
                                                                                          
Bukit nan hijau di ketinggian 1926 meter
Di atas permukaan air laut itu tak begitu sulit didaki
Tak terjal
Bahkan tak seterjal eskalator sebuah mall

Tak kalah hijau dan indahnya
Ngarai di balik bukit
Hamparan padang rumput luas menghijau
Sungai mengalir jernih
Tak hanya menarik wisatawan
Tapi juga para penggembala

Itu dua dekade lalu
Kini padang rumput nan hijau
Dan sungai mengalir jernih
Tak lagi

Kambing dan sapi penggembala
Merubah habitat aslinya

Ngarai dibalik bukit nan hijau
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tinggal cerita
Entah sampai kapan habitat asli kembali
Semula

Ajibarang, 14 Maret 2017





Ngarai Di Balik Bukit 2
Oleh : Imam Burhanuddin

Dua dekade sebelumnya
Ngarai di balik bukit
Terkenal wingit dan sepi
Para kyai dan santri dijadikan pasukan
Pembuka jalan
Akses menuju ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Sehingga semua mudah  mengaksesnya
Tak terkecuali penggembala sapi dan kambing

Ajibarang, 16 Maret 2017





















Ngarai Di Balik Bukit 3
Oleh : Imam Burhanuddin             

Dua dekade sesudahnya
Para kyai dan santri kadang masih dimintai petuah
Dan doanya
Dengan syarat tidak mendekat
Ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas  permukaan air laut
Yang tak  begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tak lagi wingit dan sepi
Petuah dan doa hanya diperlukan
Saat para penggembala susah mengaksesnya
Tidak di saat melimpahnya berkat dan nikmat
Terhampar di tengah penggembala


Ajibarang, 16 Maret 2017

Rabu, 16 Agustus 2017

Dakwah Kebangsaan Gus Titut


Kyai yang jadi seniman biasa, tapi seniman ketika jadi kyai luar biasa.
Bagaimana ia mengajarkan beragama dengan arif, bagaimana mengajarkan agama yang baik, yang santun sehingga Islam benar benar sebagai agama yang  rahmatal lil'alamin.

Hebatanya seniman "edan"  ini dengan ketotalitasnya sebagai aktor, penyair ia berdakwah lebih dari dua jam tanpa jeda, mengalir, runtut, menghibur dan semua undangan  syukuran hari kemerdekaan ke 72 di desa Pancasan (16/8) tersihir sehingga ahir ceramah undangan merasa sangat enjoi sehingga tak beranjak dari kursinya .

Gus Titut luar biasa.  Matur NU wun Gus Titut atas pencerahannya.