Sastra yang Bikin Gelisah: Ketika Buku Tidak Mau Diajak Damai
Ada dua macam buku di dunia ini. Pertama, buku yang membuat kita mengantuk setelah membaca tiga halaman. Kedua, buku yang membuat kita tidak bisa tidur meskipun sudah tamat tiga ratus halaman.
Buku jenis pertama biasanya kita letakkan di meja samping tempat tidur. Buku jenis kedua kita letakkan di meja yang sama, tetapi pikiran kita justru berjalan-jalan ke mana-mana. Kita mulai mempertanyakan kehidupan, keyakinan, hubungan dengan orang lain, bahkan keputusan membeli kopi seharga tiga puluh ribu rupiah padahal uang di dompet tinggal lima puluh ribu.
Begitulah sastra yang sesungguhnya. Ia tidak selalu datang membawa ketenangan. Kadang-kadang ia datang seperti tamu yang tidak tahu diri: duduk di ruang tamu, memesan teh, lalu bertanya, "Sebenarnya, selama ini kamu hidup untuk dirimu sendiri atau hanya sibuk memenuhi harapan orang lain?"
Pertanyaan seperti itu tentu tidak sopan jika diajukan ketika kita sedang menikmati gorengan. Namun, sastra agung memang tidak selalu memahami etika waktu makan.
Buku Bukan Tukang Pijat Pikiran
Kita hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dirancang agar terasa nyaman. Kursi harus empuk, kasur harus lembut, makanan harus menggugah selera, dan pendapat kita harus selalu dibenarkan.
Kalau membaca sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan, kita tersinggung. Kalau menemukan pendapat yang berbeda, kita curiga. Kalau ada orang mengkritik pandangan kita, kita segera mencari kelemahan orang tersebut. Pokoknya, jangan sampai pikiran mengalami benturan. Kasihan, katanya, sudah bekerja keras sejak pagi.
Kebiasaan itu terbawa sampai ke dunia membaca. Kita mencari buku yang membenarkan keputusan kita, menghibur kesedihan kita, dan meyakinkan bahwa semua masalah hidup terjadi karena orang lain memang kurang ajar.
Kalau sedang patah hati, kita mencari buku yang menjelaskan bahwa mantan kita tidak pantas dicintai. Kalau sedang gagal, kita mencari buku yang mengatakan bahwa kegagalan adalah awal kesuksesan. Kalau sedang malas bekerja, kita mencari kutipan tentang pentingnya istirahat dan keseimbangan hidup.
Akhirnya, buku berubah menjadi tukang pijat pikiran. Datang membawa masalah, pulang dengan perasaan nyaman, tetapi kebiasaan buruk tetap dipelihara.
Padahal, sastra yang kuat tidak selalu bersedia memijat. Kadang-kadang ia justru menekan bagian yang sakit sambil berkata, "Nah, di sini rupanya masalahnya."
Kita mengaduh. Buku itu diam.
Dan untuk pertama kalinya, kita mulai berpikir.
Penulis yang Tidak Mau Menjadi Motivator
Bayangkan seorang penulis sedang duduk di hadapan penerbit. Penerbit bertanya, "Apa pesan utama novel Anda?"
Penulis menjawab, "Saya ingin pembaca mempertanyakan moralitasnya sendiri, menyadari bahwa manusia bisa mencintai sekaligus menyakiti, dan memahami bahwa kebenaran tidak selalu sesederhana yang mereka bayangkan."
Penerbit mengangguk pelan.
"Bagus. Bisa dibuat lebih optimistis? Misalnya, setiap tokoh menemukan kebahagiaan, penjahat bertobat, orang miskin menjadi kaya, dan semua masalah selesai pada halaman terakhir?"
Penulis terdiam.
"Itu bukan novel saya."
"Kalau begitu, minimal tambahkan kalimat: Jangan menyerah, karena badai pasti berlalu."
Begitulah nasib sastra di tengah industri yang menyukai segala sesuatu serba cepat, mudah dicerna, dan berakhir bahagia. Penderitaan boleh masuk cerita, asalkan jangan terlalu lama. Konflik boleh muncul, asalkan segera diselesaikan. Tokoh boleh mengalami krisis eksistensial, tetapi sebaiknya sudah sembuh sebelum bab terakhir.
Padahal, kehidupan nyata tidak memiliki kewajiban untuk menyediakan akhir yang memuaskan.
Ada orang baik yang hidupnya tetap sulit. Ada orang jujur yang kalah dalam persaingan. Ada orang yang sudah berusaha memperbaiki diri, tetapi masih mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan, ada orang yang membaca puluhan buku pengembangan diri, tetapi tetap marah ketika disalip kendaraan dari sebelah kiri.
Sastra yang jujur berani menghadirkan kenyataan seperti itu. Ia tidak harus mengubah setiap luka menjadi pelajaran, setiap kegagalan menjadi keberhasilan, atau setiap kesedihan menjadi unggahan motivasi berlatar matahari terbenam.
Sebab, tidak semua luka membutuhkan slogan. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk diakui.
Cermin yang Tidak Mengenal Fitur Edit
Media sosial mengajarkan kita mengelola penampilan. Foto bisa disunting, wajah bisa diperhalus, latar belakang bisa diganti, dan kehidupan bisa dikemas seolah-olah setiap hari merupakan perjalanan menuju kebahagiaan.
Kita dapat mengunggah foto sedang membaca buku tebal dengan secangkir kopi di sampingnya. Dari foto itu, orang mungkin menyimpulkan bahwa kita intelektual, tenang, dan memiliki kedalaman batin.
Padahal, lima menit sebelumnya kita baru saja mencari kacamata yang ternyata bertengger di kepala sendiri.
Tidak masalah. Manusia memang punya banyak lapisan.
Masalahnya muncul ketika kita mulai memperlakukan kehidupan seperti foto profil: yang ditampilkan hanya bagian yang bagus, sedangkan sisanya dipotong sampai tidak kelihatan.
Di sinilah sastra memainkan peran yang agak menyebalkan sekaligus penting. Ia tidak selalu bersedia mengikuti penyuntingan kita. Ia menunjukkan kesombongan di balik kebaikan, ketakutan di balik keberanian, dan kepentingan pribadi di balik pidato yang terdengar mulia.
Kita membaca kisah seorang tokoh yang menghakimi orang lain, lalu mendadak merasa tidak nyaman. Sebab, semakin jauh membaca, semakin mirip tokoh itu dengan diri sendiri.
Awalnya kita berkata, "Orang ini memang buruk sekali."
Lima halaman kemudian kita bergumam, "Tapi, bukankah saya juga pernah melakukan hal serupa?"
Dua puluh halaman berikutnya kita menutup buku sebentar.
Bukan karena bosan, melainkan karena cermin itu mulai berbicara terlalu banyak.
Sastra yang baik tidak sekadar menunjukkan siapa kita menurut pengakuan kita sendiri. Ia membantu kita melihat siapa kita ketika tidak sedang berusaha terlihat baik.
Algoritma Ingin Kita Bahagia, Bukan Selalu Bijaksana
Di internet, kita hidup dalam lingkungan yang semakin pandai membaca selera. Kita menyukai satu video, lalu disodori sepuluh video serupa. Kita membaca satu pendapat, lalu berjumpa dengan seratus pendapat yang memperkuatnya.
Akhirnya, dunia terasa sederhana. Semua orang yang sepakat dengan kita tampak cerdas, sementara mereka yang berbeda pendapat tampak perlu mengikuti seminar kebijaksanaan.
Algoritma tentu tidak bermaksud menjadikan kita sombong. Ia hanya berusaha mempertahankan perhatian kita. Kebetulan saja, perhatian manusia sering lebih mudah dipertahankan dengan kemarahan daripada dengan keraguan.
Satu kalimat yang memuji kelompok kita bisa mendapatkan ribuan tanda suka. Satu tulisan yang mengajak kita memeriksa kesalahan sendiri mungkin hanya dibaca oleh tujuh orang, termasuk penulisnya, dua sahabatnya, dan seseorang yang tidak sengaja mengeklik tautan.
Padahal, pertumbuhan intelektual justru sering dimulai ketika kita berjumpa dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan.
Kita membaca novel dari sudut pandang orang yang selama ini kita benci. Kita menemukan bahwa tokoh yang salah ternyata memiliki alasan yang dapat dipahami. Kita menyadari bahwa orang yang kita anggap benar pun dapat melakukan sesuatu yang keliru.
Bukan berarti semua pendapat sama benarnya. Bukan pula berarti kita harus kehilangan prinsip setiap kali membaca buku yang berbeda.
Justru sebaliknya: kita belajar membedakan prinsip yang sungguh-sungguh kita pahami dari keyakinan yang selama ini hanya kita warisi, ulangi, dan pertahankan karena takut kehilangan tempat di tengah kelompok.
Sastra tidak meminta kita membuang akal sehat. Ia mengajak kita menggunakannya, termasuk ketika hasilnya membuat kita harus merevisi pendapat sendiri.
Dan itu pekerjaan yang berat. Mengubah pikiran ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengganti foto profil.
Tidak Semua Pertanyaan Harus Segera Dijawab
Kita menyukai jawaban karena jawaban memberikan kesan bahwa persoalan sudah selesai.
Mengapa hidup terasa hampa? Jawabannya, kurang bersyukur.
Mengapa hubungan berakhir? Jawabannya, belum berjodoh.
Mengapa orang berbuat jahat? Jawabannya, kurang pendidikan moral.
Semua persoalan seolah-olah dapat dimasukkan ke dalam beberapa kalimat pendek, lalu disimpan dalam lemari bernama Kumpulan Hikmah Kehidupan.
Padahal, manusia jauh lebih rumit daripada daftar isi buku motivasi.
Ada orang yang bersyukur tetapi tetap bersedih. Ada orang yang saling mencintai tetapi tidak mampu hidup bersama. Ada orang berpendidikan tinggi yang menggunakan kecerdasannya untuk menipu orang lain.
Sastra yang baik memberi ruang bagi kerumitan itu. Ia tidak selalu menawarkan jawaban final, sebab terkadang jawaban yang terlalu cepat justru menutup kemungkinan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.
Kita mungkin selesai membaca sebuah novel tanpa mengetahui apakah tokohnya benar atau salah. Namun, kita menjadi lebih memahami mengapa manusia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Itu bukan kegagalan sastra. Itu salah satu keberhasilannya.
Sebab, tujuan membaca bukan semata-mata mengumpulkan jawaban untuk memenangkan perdebatan. Ada kalanya membaca berarti belajar menunda penghakiman, mengakui keterbatasan pengetahuan, dan bersedia tinggal sedikit lebih lama bersama pertanyaan yang belum selesai.
Tentu saja, ini tidak berlaku untuk semua urusan. Kalau ditanya mau makan apa, kita tidak perlu merenungkan absurditas eksistensi selama tiga jam. Nasi goreng tetap nasi goreng, meskipun dibaca dengan perspektif filsafat.
Tetapi untuk memahami manusia, kita memang perlu kesabaran yang lebih panjang daripada waktu memasak mi instan.
Membaca untuk Menjadi Sedikit Lebih Manusiawi
Pada akhirnya, sastra bukanlah perlombaan untuk mengetahui siapa yang paling banyak membaca buku atau siapa yang paling sering mengutip kalimat para filsuf.
Ada orang yang hafal banyak kutipan tentang kerendahan hati, tetapi tidak tahan dikoreksi. Ada yang gemar mengutip keadilan, tetapi selalu merasa dirinya pantas mendapat pengecualian. Ada pula yang mampu membahas kebebasan berpikir selama satu jam, asalkan semua peserta diskusi sepakat dengannya.
Buku memang dapat menambah pengetahuan. Namun, pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang menjadi bijaksana. Perpustakaan yang penuh tidak menjamin bahwa pemiliknya memiliki hati yang lapang.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah buku ditutup.
Apakah kita menjadi lebih sabar menghadapi orang yang berbeda pendapat? Apakah kita lebih berani mengakui kesalahan? Apakah kita mulai menyadari bahwa pengalaman hidup orang lain tidak selalu dapat diukur menggunakan ukuran kita sendiri?
Kalau iya, barangkali sastra telah bekerja dengan baik.
Kalau belum, tidak perlu langsung menyalahkan bukunya. Mungkin kita memang baru membaca dengan mata, sementara ego masih sibuk menjaga pintu masuk.
Membaca karya besar terkadang terasa seperti menjalani pemeriksaan batin tanpa jadwal. Tidak ada dokter yang memberi resep, tidak ada petugas yang menjamin kesembuhan, dan tidak ada sertifikat bahwa kita sudah menjadi manusia yang lebih baik.
Yang ada hanya sebuah cerita, beberapa pertanyaan, dan kesempatan untuk melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.
Itu pun sudah berharga.
Sebab, manusia tidak selalu membutuhkan buku yang membuatnya merasa paling benar. Kadang-kadang ia membutuhkan buku yang membuatnya berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata dengan jujur, "Jangan-jangan, selama ini saya juga ikut menyumbang masalah."
Kalimat itu memang tidak cocok dijadikan slogan seminar motivasi. Tidak cukup gagah untuk dicetak di kaus. Bahkan, kurang menarik untuk dijadikan status WhatsApp.
Namun, mungkin justru di sanalah kebijaksanaan mulai tumbuh.
Buku yang Tidak Mau Menyenangkan Pembacanya
Gagasan yang beredar melalui akun @WorldWAdab mengingatkan kita bahwa sastra agung tidak harus membuat pembacanya nyaman. Ia dapat mengganggu keyakinan, membongkar prasangka, dan mengajukan pertanyaan yang selama ini kita hindari.
Sastra semacam itu tidak selalu datang untuk menghibur. Kadang-kadang ia datang untuk mengusik. Tidak selalu memberi jawaban, tetapi memperlihatkan bahwa pertanyaan kita selama ini terlalu sederhana. Tidak selalu menenangkan hati, tetapi membuat kita lebih jujur dalam memahami kegelisahan.
Tentu, kita tetap boleh membaca buku yang menghibur. Hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus menjadikan setiap halaman sebagai sidang pengadilan terhadap diri sendiri. Kita berhak menikmati cerita ringan, tertawa, dan sesekali membaca sesuatu tanpa merasa sedang mengikuti ujian filsafat.
Tetapi jangan sampai seluruh bacaan kita hanya menjadi ruang gema yang memantulkan keyakinan sendiri.
Sesekali, bacalah buku yang membuat kita tidak nyaman. Bacalah tokoh yang berbeda dari kita. Dengarkan suara yang selama ini kita abaikan. Biarkan sebuah cerita menggoyahkan kesimpulan yang terlalu cepat kita anggap sebagai kebenaran mutlak.
Siapa tahu, setelah selesai membaca, kita tidak langsung menjadi lebih pintar. Namun, kita mungkin menjadi sedikit lebih rendah hati, sedikit lebih berhati-hati ketika menghakimi, dan sedikit lebih mampu memahami manusia yang rumitnya bukan main.
Dan jika setelah membaca buku yang bagus kita justru merasa semakin hebat, semakin suci, dan semakin berhak mengoreksi seluruh umat manusia, barangkali ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan:
Jangan-jangan, yang kita baca selama ini bukan sastra, melainkan cermin yang sudah kita atur agar selalu memuji wajah sendiri?
Nah, kalau pertanyaan itu membuat kita terdiam, jangan buru-buru menutup bukunya.
Bisa jadi, untuk pertama kalinya, buku tersebut berhasil membaca kita.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/26/2026 02:10:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.