Dua Samudera dalam Satu Perahu
Ketika Akar dan Sayap Akhirnya Duduk Semeja
Ada jenis rekonsiliasi yang sangat mudah dilakukan: dua orang bertengkar, lalu salah satunya mentraktir kopi.
Ada juga rekonsiliasi yang lebih rumit: dua tokoh besar yang pernah berhadapan dalam kontestasi organisasi, kemudian beberapa tahun kemudian ditempatkan dalam satu lembaga negara.
Yang pertama membutuhkan uang untuk membayar kopi.
Yang kedua membutuhkan sejarah, kesabaran, dan mungkin kursi yang cukup panjang.
Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Di antara nama-nama itu terdapat K.H. Said Aqil Siraj dan K.H. Yahya Cholil Staquf.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya daftar nama pejabat baru.
Tetapi bagi mereka yang mengikuti dinamika Nahdlatul Ulama, dua nama tersebut dalam satu ruangan bisa terasa seperti melihat dua tokoh dari episode berbeda tiba-tiba muncul dalam satu frame film.
Dulu berhadapan.
Sekarang duduk bersebelahan.
Sejarah rupanya memang mempunyai selera humor.
Dari Muktamar ke Ruang Wantimpres
Kita perlu mundur sebentar ke Muktamar Ke-34 NU.
Dalam kontestasi itu, Said Aqil Siraj dan Yahya Cholil Staquf berada di dua sisi pertarungan politik organisasi. Gus Yahya akhirnya memperoleh 337 suara, sedangkan Kiai Said mendapatkan 210 suara.
Setelah itu tentu saja kehidupan berjalan terus.
Tetapi organisasi besar seperti NU tidak selalu berjalan seperti orang pulang dari warung.
Tidak cukup bilang, “Sudahlah, yang kemarin jangan dipikirkan.”
Sebab di organisasi, terutama organisasi sebesar NU, yang kemarin kadang masih menjadi bahan pembicaraan minggu depan, bulan depan, bahkan menjadi bahan diskusi di grup WhatsApp yang anggotanya tidak pernah ikut muktamar.
Karena itu, pertemuan kembali kedua tokoh tersebut dalam Wantimpres mempunyai makna simbolik yang menarik.
Dulu mereka berada dalam kompetisi.
Sekarang mereka berada dalam satu lembaga.
Dulu pertanyaannya adalah: siapa yang memimpin?
Sekarang pertanyaannya berubah menjadi: bagaimana memberi nasihat kepada Presiden?
Ini perkembangan yang cukup sehat.
Sebab setelah bertahun-tahun berdebat mengenai siapa yang paling layak duduk di kursi depan, akhirnya keduanya memperoleh kesempatan untuk duduk di ruangan yang sama dan membicarakan bagaimana kapal negara jangan sampai menabrak karang.
Dan ini jauh lebih baik daripada terus memperdebatkan siapa yang paling berhak memegang kemudi.
Akar dan Sayap
Metafora paling menarik dari tulisan ini adalah akar dan sayap.
Kiai Said digambarkan sebagai akar.
Gus Yahya sebagai sayap.
Metafora ini indah.
Walaupun kalau dibawa ke pelajaran biologi agak membingungkan.
Sebab kalau akar punya sayap, kita perlu memanggil ahli botani.
Tetapi sebagai metafora kepemimpinan, ia masuk akal.
Akar adalah sesuatu yang membuat pohon tetap berdiri.
Ia tidak banyak bergerak, tetapi justru karena tidak bergerak itulah pohon tidak tumbang setiap kali angin datang.
Dalam konteks NU, Kiai Said diposisikan sebagai penjaga tradisi, keilmuan pesantren, dan fondasi keislaman yang telah lama hidup di Nusantara.
Selama dua belas tahun memimpin PBNU, ia berada di garis depan dalam menghadapi berbagai ideologi yang dianggap mengancam karakter keislaman dan kebangsaan Indonesia.
Wahabi, HTI, takfirisme, khilafah, dan berbagai gagasan transnasional lainnya menjadi bagian dari medan perdebatan tersebut.
Singkatnya, kalau Indonesia adalah kapal, Kiai Said diposisikan sebagai jangkar.
Masalah dengan jangkar adalah ia memang tidak boleh ke mana-mana.
Kalau jangkar ikut jalan-jalan, kapal bisa kehilangan fungsi jangkar.
Di sinilah muncul kebutuhan akan sayap.
Dan di sinilah Gus Yahya masuk.
Kalau Kiai Said menjaga akar, Gus Yahya membawa cakrawala.
Ia berbicara tentang Islam Indonesia di berbagai forum internasional, dari Vatikan hingga Washington, dan melalui R20 membawa percakapan mengenai agama, perdamaian, dan kemanusiaan ke panggung global.
Kalau Kiai Said berkata, “Jangan sampai akar dicabut,” Gus Yahya seolah berkata, “Baik, tetapi jangan lupa lihat dunia di luar pagar.”
Ini pembagian kerja yang cukup masuk akal.
Sebab kalau hanya punya akar, kita mungkin kokoh tetapi tidak pernah ke mana-mana.
Kalau hanya punya sayap, kita memang bisa terbang, tetapi ada risiko mendarat di tempat yang bahkan Google Maps belum mengenalinya.
Maka kalimat “akar tanpa sayap akan jumud, sayap tanpa akar akan tumbang” sebenarnya mengandung pelajaran yang sederhana:
Tradisi perlu keberanian untuk keluar rumah, tetapi keberanian keluar rumah tetap membutuhkan alamat.
Dua Samudera dalam Satu Perahu
Persoalannya kemudian menjadi menarik.
Bagaimana dua karakter besar tersebut bekerja dalam satu lembaga?
Jawabannya barangkali tidak perlu terlalu romantis.
Kita tidak perlu membayangkan keduanya setiap pagi berjalan beriringan sambil tersenyum seperti adegan terakhir film keluarga.
Rekonsiliasi bukan berarti semua perbedaan mendadak hilang.
Rekonsiliasi justru berarti perbedaan itu tidak lagi menjadi alasan untuk saling menenggelamkan.
Satu orang membawa pengalaman tradisi.
Yang lain membawa pengalaman internasional.
Satu kuat dalam bahasa pesantren.
Yang lain terbiasa berbicara dengan dunia.
Satu menjaga kedalaman.
Yang lain membuka cakrawala.
Mereka seperti dua samudera yang dimasukkan ke dalam satu perahu.
Tentu saja ada persoalan kecil.
Perahu itu jangan sampai bocor.
Sebab kalau bocor, akar dan sayap sama-sama tidak akan banyak membantu.
Dari Kitab Kuning ke Washington
Bayangkan suatu hari Presiden meminta nasihat tentang meningkatnya radikalisme.
Kiai Said mungkin membuka kitab.
Gus Yahya mungkin membuka daftar agenda internasional.
Yang satu berkata:
“Masalah ini harus dibaca dengan khazanah ulama.”
Yang lain berkata:
“Masalah ini juga harus dijelaskan kepada dunia.”
Lalu keduanya berhenti sebentar.
Dan mungkin sampai pada kesimpulan:
“Ya sudah. Dua-duanya.”
Inilah mungkin salah satu kelebihan lembaga pertimbangan.
Ia tidak harus memilih antara tradisi dan modernitas.
Tidak harus memilih antara pesantren dan dunia internasional.
Tidak harus memilih antara kitab kuning dan diplomasi.
Negara justru membutuhkan orang-orang yang bisa memahami bahwa Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan dengan satu jenis kacamata.
Masalahnya, kita sering mempunyai kebiasaan buruk: kalau seseorang berbicara tentang tradisi, kita menyangka dia anti-modern.
Kalau seseorang berbicara kepada dunia internasional, kita menyangka dia sudah terlalu jauh meninggalkan tradisi.
Padahal manusia bisa membawa kitab di satu tangan dan paspor di tangan yang lain.
Tidak ada hukum alam yang mengatakan keduanya harus saling bermusuhan.
Gus Dur dan Dua Jalan yang Bertemu
Ada satu titik temu penting dalam cerita ini: keduanya sama-sama berada dalam garis pemikiran Gus Dur.
Dan mungkin di sinilah kita menemukan benang merah yang lebih besar.
Gus Dur mengajarkan bahwa Islam tidak perlu menjadi musuh Indonesia agar menjadi Islam.
Islam justru dapat menjadi kekuatan moral yang membuat Indonesia semakin manusiawi.
Negara tidak boleh hanya menjadi milik kelompok tertentu.
Kesejahteraan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang memiliki akses paling cepat ke meja kekuasaan.
Dan agama tidak boleh berubah menjadi tiket VIP untuk memperoleh hak istimewa.
Kalau gagasan itu masih menjadi titik temu, maka perbedaan antara akar dan sayap seharusnya bukan masalah.
Justru bagus.
Pohon yang sehat memang membutuhkan akar dan cabang.
Yang menjadi masalah adalah kalau akarnya sibuk berdebat dengan sayap tentang siapa yang paling berjasa membuat pohon hidup.
Sementara itu, batang pohonnya diam-diam sedang dimakan rayap.
Wantimpres: Jangan Hanya Menjadi Ruang Tunggu
Di sinilah makna Wantimpres menjadi penting.
Dewan Pertimbangan Presiden seharusnya bukan sekadar tempat orang-orang penting berkumpul setelah karier panjang untuk kemudian mendapatkan ruangan, meja, kursi, dan mungkin konsumsi rapat.
Negara membutuhkan nasihat yang benar-benar hidup.
Apalagi dunia sedang tidak dalam keadaan santai.
Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok semakin tajam.
Politik identitas berkembang.
Demokrasi di berbagai tempat mengalami tekanan.
Ekonomi global terfragmentasi.
Teknologi berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia membuat regulasi.
Dalam situasi seperti ini, Presiden tidak hanya membutuhkan orang yang pandai mengatakan “setuju”.
Presiden membutuhkan orang yang berani mengatakan:
“Menurut kami, jangan.”
Dan lebih penting lagi:
“Jangan, karena alasan ini.”
Nasihat yang baik bukan tepuk tangan yang dipindahkan ke ruang rapat.
Nasihat yang baik kadang justru membuat orang yang mendengarnya tidak nyaman.
Karena fungsi penasihat bukan memperindah keputusan.
Fungsi penasihat adalah membantu agar keputusan tidak menjadi penyesalan.
Dewan Penjaga Takdir Indonesia?
Sebutan “Dewan Penjaga Takdir Indonesia” memang terdengar megah.
Sedikit terlalu megah, mungkin.
Sebab setelah membaca istilah itu, kita bisa membayangkan para anggota Wantimpres duduk dalam ruangan gelap dengan peta Indonesia raksasa, lalu seorang anggota berkata:
“Takdir bangsa hari ini akan kita tentukan.”
Padahal mungkin kenyataannya lebih sederhana.
Ada rapat.
Ada dokumen.
Ada kopi.
Ada paparan.
Ada perbedaan pendapat.
Ada orang yang melihat jam karena rapat sudah terlalu lama.
Tetapi justru di situlah kebijaksanaan diuji.
Takdir sebuah negara tidak selalu ditentukan oleh pidato yang dramatis.
Kadang ia ditentukan oleh kalimat sederhana dalam sebuah rapat:
“Jangan ambil keputusan itu.”
Atau:
“Pertimbangkan rakyat kecil.”
Atau:
“Jangan sampai kebijakan ini hanya menguntungkan mereka yang sudah kaya.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itulah yang, kalau benar-benar didengar, bisa jauh lebih penting daripada jargon kebangsaan sepanjang tiga halaman.
Rekonsiliasi yang Tidak Perlu Dipamerkan
Ada hal lain yang patut dihargai dari pertemuan dua tokoh ini.
Rekonsiliasi tidak harus berarti keduanya menghapus masa lalu.
Masa lalu tidak perlu dihapus.
Ia cukup ditempatkan pada tempatnya.
Kontestasi adalah bagian dari sejarah.
Perbedaan adalah bagian dari organisasi.
Persaingan adalah bagian dari demokrasi.
Tetapi organisasi yang sehat adalah organisasi yang tahu kapan pertandingan selesai.
Kalau setiap pertandingan terus dimainkan setelah peluit akhir, lapangan akan berubah menjadi tempat orang saling menendang tanpa pertandingan.
Dan itu tidak sehat.
NU, sebagai organisasi besar dengan sejarah panjang, tentu membutuhkan ruang bagi berbagai pandangan.
Tetapi perbedaan akan menjadi kekuatan apabila pada akhirnya orang masih dapat duduk bersama.
Sebab persatuan yang sehat bukanlah keadaan ketika semua orang berpikir sama.
Persatuan yang sehat adalah keadaan ketika orang berbeda pikiran tetapi tidak merasa perlu menghancurkan orang yang berbeda itu.
Dua Tokoh, Satu Kapal
Mungkin inilah gambaran paling sederhana mengenai pertemuan Said Aqil Siraj dan Yahya Cholil Staquf dalam Wantimpres.
Yang satu membawa akar.
Yang lain membawa sayap.
Yang satu mengingatkan dari mana kita berasal.
Yang lain mengingatkan ke mana kita bisa pergi.
Yang satu menjaga rumah.
Yang lain membuka jendela.
Dan Indonesia membutuhkan keduanya.
Tetapi ada satu syarat penting:
Jangan berebut menjadi nahkoda sampai lupa memeriksa kebocoran kapal.
Sebab bangsa ini tidak sedang mengikuti lomba siapa yang paling hebat dalam berpidato.
Bangsa ini sedang menghadapi dunia yang berubah sangat cepat.
Kita membutuhkan tradisi yang tidak membeku.
Kita membutuhkan keterbukaan yang tidak kehilangan arah.
Kita membutuhkan Islam yang berakar di Nusantara sekaligus mampu berbicara kepada dunia.
Dan kita membutuhkan politik yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terus bermusuhan.
Maka mungkin makna paling menarik dari dua tokoh ini duduk dalam satu lembaga bukanlah bahwa mereka tiba-tiba menjadi sama.
Justru sebaliknya.
Mereka tetap berbeda.
Tetapi sekarang perbedaan itu ditempatkan dalam satu meja.
Dan meja, sebagaimana kita tahu, mempunyai fungsi yang sangat penting dalam peradaban manusia:
orang boleh berbeda pendapat, asal masih mau duduk.
Pada akhirnya, rekonsiliasi terbesar bukan ketika dua orang mengatakan, “Kami sudah tidak berbeda.”
Melainkan ketika mereka bisa mengatakan:
“Kami tetap berbeda. Tetapi untuk urusan Indonesia, mari kita bekerja bersama.”
Itulah mungkin makna dua samudera dalam satu perahu.
Bukan membuat laut menjadi tenang.
Melainkan memastikan perahunya cukup kuat untuk melewati badai.
Dan kalau perahu itu benar-benar kuat, semoga para penumpangnya tidak sibuk bertengkar soal siapa yang paling berhak memegang dayung.
Sebab di tengah badai, yang paling penting bukan siapa yang terlihat paling gagah.
Yang paling penting adalah:
kapalnya jangan sampai tenggelam.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/03/2026 03:03:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.