Dunia Memang Berubah, Terutama Setelah Lutut Kita Berubah
Ada satu tahap dalam kehidupan ketika kita mulai menyadari bahwa dunia ini tidak lagi seperti dulu.
Tangga terasa semakin tinggi. Jalan dari rumah ke stasiun mendadak menjadi jauh. Huruf koran mengecil. Angka-angka di telepon seperti sengaja dibuat untuk menghina orang yang mulai rabun. Anak-anak muda berbicara terlalu pelan, tetapi anehnya kita justru semakin sering berkata, “Hah? Apa?”
Musim dingin menjadi lebih dingin. Musim panas menjadi lebih panas. Angin semakin kencang. Salju semakin berat.
Dan yang paling mencurigakan: celana semakin sempit.
Kesimpulan kita sederhana: dunia sedang berubah.
Sama sekali bukan tubuh kita.
Tubuh kita tetap seperti dulu. Yang berubah hanyalah peradaban.
Tangga Adalah Konspirasi Pertama
Dulu kita bisa menaiki tangga dua anak tangga sekaligus.
Sekarang, satu anak tangga saja sudah membutuhkan perencanaan strategis.
Kaki kanan naik.
Berhenti.
Tarik napas.
Evaluasi keadaan.
Kaki kiri menyusul.
Berdoa.
Lalu naik lagi.
Anehnya, tangga tidak pernah mengaku berubah. Ia tetap berada di tempat yang sama. Tingginya mungkin juga sama seperti tiga puluh tahun lalu.
Tetapi bagi manusia yang lututnya mulai mengajukan keberatan administratif, tangga memang tampak seperti proyek infrastruktur yang dirancang oleh musuh pribadi.
Dulu tangga hanyalah sarana menuju lantai dua.
Sekarang ia menjadi pengingat bahwa masa muda ternyata memiliki masa berlaku.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika kita melihat anak muda melompati tiga anak tangga sekaligus.
Kita tidak mengatakan, “Wah, tubuh saya sudah menua.”
Kita mengatakan:
“Anak sekarang tidak tahu tata krama.”
Huruf Koran Mengecil Secara Misterius
Kemudian datang masalah penglihatan.
Koran yang dulu bisa dibaca sambil minum kopi kini tiba-tiba menggunakan huruf sebesar semut.
Kita mendekatkan koran ke mata.
Tidak jelas.
Dijauhkan.
Tidak jelas juga.
Akhirnya koran diletakkan di meja.
Lalu kita mencari kacamata.
Kacamata tidak ada.
Setelah lima belas menit mencari, ternyata kacamata itu sudah bertengger di kepala.
Pada tahap tertentu, kehidupan bukan lagi soal mencari informasi, melainkan mencari benda yang sedang kita pakai untuk mencari informasi.
Telepon genggam juga mulai terasa seperti alat komunikasi untuk anak-anak muda.
Bukan karena teknologinya sulit.
Tetapi karena tulisan di layarnya terlalu kecil.
Kita memperbesar font.
Layar membesar.
Kita merasa menang.
Lalu sebuah pesan masuk.
Kita lupa mengapa tadi membuka telepon.
Inilah kemajuan teknologi: perangkat semakin pintar, sementara pemiliknya semakin sering bertanya, “Saya tadi mau apa, ya?”
Pakaian Juga Bersekongkol
Tetapi dari seluruh konspirasi dunia, tidak ada yang lebih berani daripada pakaian.
Celana yang dulu longgar sekarang terasa seperti pakaian untuk orang lain.
Kita melihat labelnya.
Ukuran masih sama.
Kita mencurigai produsen.
“Kualitas sekarang memang menurun.”
Celana dicoba lagi.
Perut tetap tidak masuk.
Kesimpulannya jelas: kainnya menyusut.
Ini bukan kenaikan berat badan.
Ini adalah inflasi tekstil.
Kemeja juga mulai menyusut, terutama di bagian perut.
Anehnya, bagian lengan tidak ikut menyusut.
Ini tentu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada tubuh.
Ini pasti desain pakaian modern yang semakin tidak manusiawi.
Dan kita pun membeli ukuran yang lebih besar dengan wajah penuh martabat, seolah-olah sedang melakukan keputusan ekonomi, bukan menyerah kepada gravitasi.
Tali Sepatu: Musuh yang Sebenarnya
Ada pula tali sepatu.
Dulu membungkuk untuk mengikat tali sepatu adalah kegiatan biasa.
Sekarang kegiatan itu memiliki unsur petualangan.
Kita membungkuk.
Perut menghalangi.
Napas tertahan.
Lutut mengeluh.
Punggung mengirim surat protes.
Dan setelah berhasil mengikat satu tali, kita menatap tali sepatu satunya dengan perasaan seperti seorang pendaki yang masih harus menaklukkan puncak kedua.
Di usia tertentu, sepatu tanpa tali bukan lagi soal mode.
Ia adalah teknologi keselamatan hidup.
Slip-on bukan sekadar nyaman.
Slip-on adalah peradaban.
Dunia Juga Berjalan Terlalu Cepat
Kemudian ada kereta.
Dulu kita tiba di stasiun dengan santai.
Sekarang kereta selalu berangkat tepat ketika kita baru mencapai peron.
Kita melihat kereta menjauh.
“Kereta sekarang terlalu cepat.”
Padahal mungkin keretanya tetap sama.
Yang berubah adalah kecepatan kaki kita.
Dulu kita berlari mengejar kereta.
Sekarang kita berdiri sambil menyaksikan kereta pergi, lalu berkata:
“Memang saya juga tidak mau naik.”
Ini adalah salah satu kemampuan luar biasa manusia lanjut usia: mengubah kegagalan menjadi pilihan pribadi.
Tidak sempat naik kereta?
Bukan gagal.
Memang tidak berniat.
Tidak kuat berjalan jauh?
Bukan lemah.
Sedang menikmati lingkungan.
Tidak bisa membaca tulisan kecil?
Bukan rabun.
Sedang mengurangi konsumsi informasi.
Begitulah martabat bekerja: ketika kenyataan mulai tidak bersahabat, kita mengganti definisinya.
Anak Muda Semakin Sopan
Yang lebih aneh lagi, anak-anak muda sekarang semakin sopan.
Mereka menawarkan tempat duduk.
Mereka membantu menyeberang jalan.
Mereka bertanya, “Pak, perlu dibantu?”
Ini sungguh membingungkan.
Mengapa mereka tiba-tiba begitu baik?
Dulu kita menyeberang jalan sendirian tanpa bantuan siapa pun.
Sekarang ada anak muda berdiri di samping kita dengan ekspresi seperti sedang mendampingi seseorang yang baru keluar dari rumah sakit.
Kita tersinggung.
“Memangnya saya sudah tua?”
Anak muda itu tersenyum.
“Tidak, Pak.”
Jawaban itu justru lebih menyakitkan.
Karena kalau mereka menjawab, “Iya,” kita masih bisa berdebat.
Tetapi kalau mereka mengatakan “tidak”, kita tahu mereka sedang sopan.
Teman Sebaya Mendadak Menjadi Sangat Tua
Ada fenomena yang lebih menarik.
Ketika melihat teman sebaya, kita sering berpikir:
“Wah, dia sudah tua sekali.”
Rambutnya putih.
Jalannya pelan.
Punggungnya sedikit membungkuk.
Wajahnya penuh garis kehidupan.
Kita mengangguk prihatin.
“Kasihan. Cepat sekali tua.”
Kemudian kita pulang dan bercermin.
Ternyata wajah yang kita lihat tidak jauh berbeda.
Tetapi kita punya penjelasan.
Cermin itu mungkin kurang bagus.
Lampunya terlalu terang.
Kamera ponsel lebih kejam.
Foto lama lebih jujur.
Dan tentu saja, teman kita memang jauh lebih tua daripada kita.
Ini bukan kesombongan.
Ini mekanisme pertahanan.
Kita semua ingin percaya bahwa penuaan terjadi pada orang lain lebih dahulu.
Kita hanya kebetulan ikut hadir di dalam prosesnya.
Ketika Teman Lama Tidak Mengenali Kita
Puncak ironi datang ketika kita bertemu teman lama.
Kita mengenalinya.
Atau setidaknya kita yakin mengenalinya.
“Kamu, kan?”
Dia menatap kita.
Diam.
Mengerutkan dahi.
Berusaha mengingat.
Kemudian bertanya:
“Maaf, kita pernah bertemu?”
Kalimat itu bisa membuat seluruh filsafat tentang kefanaan menjadi sangat praktis.
Kita ingin menjawab:
“Ya! Kita kuliah bersama!”
Tetapi tiba-tiba sadar bahwa teman itu memang tidak mengenali kita.
Bukan karena dia pelupa.
Mungkin karena wajah kita juga sudah berubah.
Pada saat itulah dunia tidak lagi bisa disalahkan.
Cermin, tangga, celana, koran, kereta, cuaca, dan anak muda akhirnya mendapatkan alibi.
Pelakunya ternyata ada di dalam rumah.
Dan pelaku itu sedang memakai sandal kita.
Menjadi Tua Tanpa Kehilangan Selera Humor
Yang membuat kisah semacam ini indah bukanlah kenyataan bahwa manusia menjadi tua.
Itu sudah pasti.
Yang indah adalah cara manusia bernegosiasi dengan kenyataan tersebut.
Kita boleh kehilangan kecepatan, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan menertawakan diri sendiri.
Mata boleh mulai kabur.
Lutut boleh berbunyi.
Pinggang boleh mengeluarkan suara yang tidak pernah ada dalam katalog tubuh manusia.
Tetapi selama kita masih bisa berkata, “Celana ini yang menyusut,” sebenarnya kita masih memiliki sesuatu yang penting:
selera humor.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling murah.
Tidak perlu seminar.
Tidak perlu sertifikat.
Cukup bercermin dan berkata:
“Wah, dunia benar-benar berubah.”
Lalu kita tersenyum.
Sebab kita tahu, diam-diam, yang berubah bukan hanya dunia.
Dunia Tidak Berubah. Kita yang Sedang Berjalan Menuju Versi Baru Diri Kita
Pada akhirnya, monolog tentang lelaki tua yang menganggap dunia semakin sulit bukan sekadar lelucon tentang usia.
Ia adalah lelucon tentang manusia.
Kita semua memiliki kecenderungan untuk menyalahkan dunia ketika diri kita berubah.
Ketika pekerjaan terasa berat, kita menyalahkan zaman.
Ketika anak-anak berubah, kita menyalahkan generasi.
Ketika pakaian sempit, kita menyalahkan ukuran.
Ketika tulisan buram, kita menyalahkan penerangan.
Ketika kereta tertinggal, kita menyalahkan jadwal.
Dan ketika tubuh mulai melambat, kita menyalahkan dunia yang katanya semakin cepat.
Padahal dunia mungkin hanya sedang berjalan seperti biasa.
Kitalah yang kini berjalan dengan kecepatan berbeda.
Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu.
Sebab menjadi tua bukan berarti harus berubah menjadi patung yang penuh keluhan.
Kita masih bisa tertawa.
Masih bisa mencintai.
Masih bisa bercerita.
Masih bisa bertemu teman lama.
Bahkan masih bisa memakai celana—meskipun mungkin harus memilih ukuran yang sedikit lebih besar sambil berpura-pura bahwa itu adalah keputusan mode.
Pada akhirnya, barangkali usia tua bukan saat ketika dunia berhenti bersahabat dengan kita.
Ia adalah saat ketika kita belajar bahwa dunia tidak pernah berjanji untuk menyesuaikan diri dengan tubuh kita.
Tangga tetap tangga.
Huruf tetap huruf.
Kereta tetap berangkat.
Anak muda tetap muda.
Dan celana tetap... entahlah.
Mungkin memang menyusut.
Kita tidak perlu memperdebatkannya.
Yang penting, sebelum benar-benar lupa, kita masih ingat satu hal:
menjadi tua mungkin tak bisa dihindari, tetapi menjadi tua tanpa humor adalah pilihan yang sangat disayangkan.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/03/2026 01:57:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.