Dulu Cari yang Cantik, Sekarang Cari yang Mengerti
Sebuah Refleksi atas Aforisme Mikhail Zhvanetsky
Ada sebuah fase dalam kehidupan laki-laki ketika melihat perempuan cantik saja sudah cukup untuk membuat jantung bekerja lembur tanpa dibayar. Baru melihat wajahnya lima detik, pikiran sudah menyusun rencana masa depan: menikah, punya anak, membeli rumah, dan menua bersama sambil menyiram tanaman. Padahal, berkenalan saja belum. Bahkan, perempuan itu mungkin tidak tahu bahwa dirinya baru saja dijadikan tokoh utama dalam sebuah film romantis yang seluruh produksinya dibiayai oleh imajinasi seorang lelaki kesepian.
Begitulah masa muda. Hormon bekerja seperti direktur pemasaran yang tidak mengenal hari libur. Mata menjadi komisaris utama, akal sehat hanya pegawai kontrak, sementara hati bertindak sebagai investor yang tidak pernah membaca prospektus.
Mikhail Zhvanetsky, satiris Rusia yang pandai membongkar kelucuan hidup manusia, pernah merangkumnya dalam sebuah aforisme:
"Di masa muda kita mencari tubuh yang indah, dan seiring bertambahnya usia kita mencari jiwa yang terasa akrab."
Pendek, sederhana, tetapi cukup tajam untuk membuat seorang lelaki berusia lima puluh tahun menatap album foto mantannya sambil bergumam, "Oh, rupanya selama ini saya salah memilih departemen."
Pada masa muda, kita mencari keindahan. Setelah dewasa, kita mencari ketenteraman. Persoalannya, tidak semua orang mengalami perubahan itu tepat waktu. Ada yang sudah beruban tetapi masih mengejar kecantikan seperti pemburu diskon menjelang tengah malam. Ada pula yang baru berusia dua puluh lima tahun, tetapi sudah menginginkan pasangan yang bisa memahami diamnya, mengerti isi kepalanya, dan tidak bertanya macam-macam ketika ia pulang dengan wajah seperti menteri yang baru kehilangan jabatan.
Manusia memang makhluk yang rumit. Bahkan, seleranya sendiri sering membuatnya bingung.
1. Masa Muda: Ketika Mata Menjadi Kepala Keluarga
Di masa muda, kriteria pasangan hidup biasanya sangat sederhana. Cantik, tampan, kulit bersih, rambut bagus, senyum menawan, dan kalau bisa memiliki tinggi badan yang cocok untuk difoto bersama tanpa salah satunya tampak seperti sedang mengantar keponakan ke sekolah.
Urusan karakter bisa dibicarakan belakangan.
Yang penting, kalau berjalan berdua di pusat perbelanjaan, orang-orang menoleh. Kita merasa berhasil bukan karena hubungan itu sehat, melainkan karena pasangan kita cukup menarik untuk membuat teman-teman sedikit iri.
Cinta pun berubah menjadi proyek pencitraan.
Foto berdua diunggah ke media sosial dengan keterangan romantis. Orang lain memberikan tanda suka. Kita merasa hubungan sedang berada di jalur yang benar. Padahal, tanda suka dari dua ratus orang tidak otomatis menjamin bahwa dua orang di dalam foto itu saling menyukai ketika listrik mati, uang belanja menipis, atau salah satunya lupa membeli kecap.
Kita sering jatuh cinta kepada penampilan seseorang, kemudian menghabiskan sisa hubungan untuk bernegosiasi dengan kepribadiannya.
Wajahnya memang seperti malaikat, tetapi kalau marah, tutur katanya menyerupai petugas penagihan utang yang baru kehilangan kesabaran.
Senyumnya menenangkan, tetapi kebiasaannya menghilang ketika ada masalah membuat kita merasa sedang menjalin hubungan dengan jaringan internet yang sinyalnya hanya muncul ketika cuaca cerah.
Namun, masa muda punya pembelaan tersendiri. Ia memang masa ketika manusia lebih mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat daripada sesuatu yang perlu dipahami.
Kita belum tahu bahwa kecantikan bisa membuat orang menoleh, tetapi belum tentu membuatnya bertahan. Kita juga belum mengerti bahwa wajah yang menarik perhatian belum tentu memiliki jiwa yang mampu menenangkan pikiran.
Maklum, waktu itu kita belum banyak pengalaman. Kita masih percaya bahwa cinta dapat menyelesaikan segalanya.
Sampai suatu hari, kita bertemu seseorang yang wajahnya membuat kita lupa makan, tetapi perilakunya membuat kita kehilangan nafsu makan selama tiga hari.
Sejak saat itu, pelajaran kehidupan mulai masuk melalui pintu yang tidak kita undang.
2. Kedewasaan: Ketika Hati Mulai Meminta Suasana Kondusif
Bertambahnya usia membawa perubahan yang menarik. Kita mulai menyadari bahwa hubungan bukan hanya tentang siapa yang membuat jantung berdebar, tetapi juga siapa yang membuat jantung tidak perlu berdebar-debar karena takut menghadapi percakapan berikutnya.
Dulu, kita mencari seseorang yang membuat dunia terasa seperti pesta.
Sekarang, kita mencari seseorang yang tidak membuat rumah terasa seperti ruang sidang.
Dulu, kita senang dengan percakapan sampai pukul tiga pagi, membahas masa depan, puisi, bintang-bintang, dan kemungkinan hidup bersama di sebuah rumah kecil dekat pantai.
Sekarang, kita juga senang berbicara sampai pukul tiga pagi, tetapi biasanya karena membahas cicilan, anak demam, atau siapa yang terakhir kali melihat kunci pagar.
Romantisme ternyata mengalami penyesuaian anggaran.
Kita mulai memahami bahwa pasangan ideal bukanlah orang yang selalu mengatakan hal-hal indah, melainkan orang yang tetap bisa diajak berbicara ketika hidup sedang tidak indah-indahnya.
Ia tidak harus memahami seluruh teori filsafat yang kita baca. Cukuplah ia tidak menganggap kita aneh ketika mendadak terdiam memikirkan kehidupan, kematian, dan mengapa harga cabai bisa membuat seseorang mempertanyakan keadilan kosmis.
Ia tidak perlu menyukai semua musik yang kita sukai. Namun, alangkah baiknya jika ia tidak mematikan lagu kesayangan kita sambil berkata, "Musik macam apa ini? Orang stres saja masih punya pilihan."
Kedewasaan mengajarkan bahwa kesamaan jiwa bukan berarti kesamaan seluruh selera.
Dua orang tidak harus memiliki pikiran yang identik. Mereka hanya perlu memiliki ruang yang cukup luas untuk berbeda tanpa merasa terancam.
Sebab, hubungan yang sehat bukanlah hubungan antara dua orang yang selalu sepakat, melainkan hubungan antara dua orang yang bisa berbeda pendapat tanpa harus membuka kembali seluruh arsip kesalahan sejak tahun 2017.
3. Mencari Jiwa yang Serupa: Bukan Berarti Mencari Fotokopi Diri Sendiri
Di sinilah aforisme Zhvanetsky menjadi menarik. Ketika usia bertambah, kita mulai mencari jiwa yang terasa akrab.
Namun, jangan salah mengerti. Jiwa yang serupa bukan berarti mencari seseorang yang seluruh pikirannya sama persis dengan kita.
Kalau kita menyukai kopi pahit, ia harus menyukai kopi pahit. Kalau kita gemar membaca Dostoevsky, ia harus membaca Dostoevsky. Kalau kita sedang murung, ia harus ikut murung. Kalau kita tidak suka berbicara, ia juga tidak boleh berbicara.
Kalau semua harus sama, kita tidak sedang mencari pasangan. Kita sedang mencari kloningan yang bisa memasak.
Bayangkan dua orang dengan sifat yang benar-benar identik. Keduanya sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama merasa paling benar, dan sama-sama yakin bahwa meminta maaf merupakan bentuk kekalahan intelektual.
Ketika bertengkar, siapa yang akan memulai perdamaian?
Tidak ada.
Mereka akan menunggu sampai salah satunya bereinkarnasi menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Karena itu, keserupaan jiwa bukanlah kesamaan watak secara mutlak. Ia lebih dekat kepada kesamaan nilai, kedalaman rasa, cara memandang kehidupan, dan kesediaan untuk saling memahami.
Kita mencari seseorang yang mengerti mengapa kita sesekali membutuhkan kesendirian, tetapi tidak menganggapnya sebagai pengumuman perang.
Kita mencari seseorang yang memahami bahwa diam tidak selalu berarti marah, meskipun tentu saja diam juga tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan untuk menghindari pembicaraan tentang masalah yang nyata.
Kita mencari seseorang yang tidak menuntut kita menjadi tokoh utama dalam sebuah pertunjukan setiap hari.
Bersamanya, kita tidak perlu terus-menerus menjual versi terbaik diri sendiri. Kita boleh lelah, boleh salah, boleh tidak punya jawaban, bahkan boleh duduk berdua tanpa harus memproduksi percakapan demi menjaga suasana.
Sebab, salah satu kemewahan terbesar dalam hubungan adalah kemampuan untuk menjadi diri sendiri tanpa harus menyusun pembelaan seperti terdakwa yang menghadapi pemeriksaan silang.
Tentu saja, kemewahan ini tetap memiliki batas. Menjadi diri sendiri bukan berarti bebas menjadi manusia yang menyebalkan, lalu meminta pasangan memakluminya atas nama cinta.
Ada perbedaan antara diterima apa adanya dan dipelihara keburukannya.
Jiwa yang serupa bukanlah jiwa yang selalu membenarkan kita. Justru terkadang ia berani mengatakan bahwa kita sedang keliru, tetapi melakukannya tanpa membuat kita merasa sedang dibuang dari kemanusiaan.
4. Keheningan: Ketika Tidak Bicara Bukan Lagi Keadaan Darurat
Salah satu gambaran paling indah dalam elaborasi kutipan Zhvanetsky adalah tentang seseorang yang mampu memahami keheningan kita.
Ini penting, sebab manusia modern hidup dalam ketakutan terhadap kesunyian.
Begitu bangun tidur, tangan mencari telepon genggam. Belum sempat menyadari bahwa dirinya masih hidup, ia sudah memeriksa kehidupan orang lain.
Ada foto sarapan, foto liburan, foto pasangan, foto kutipan tentang kebahagiaan, dan foto seseorang yang menulis bahwa ia menikmati kesendirian sambil mengunggah tujuh belas foto dalam sehari.
Kesunyian pun dianggap mencurigakan.
Dalam hubungan asmara, keheningan sering menjadi sumber masalah. Jika pasangan tidak segera membalas pesan, pikiran mulai bekerja seperti kantor intelijen.
Mengapa belum dibalas?
Apakah sedang sibuk?
Apakah sudah bosan?
Apakah ada orang ketiga?
Apakah jaringan internetnya terganggu?
Ataukah ia sedang menyusun strategi untuk mengakhiri hubungan tanpa meninggalkan jejak digital?
Padahal, bisa saja ia sedang mandi.
Namun, bagi orang yang belum berdamai dengan dirinya sendiri, dua tanda centang tanpa balasan dapat berkembang menjadi tragedi lima babak.
Kita menginginkan pasangan yang memahami keheningan, tetapi sering kali kita sendiri belum memahami kecemasan yang muncul ketika tidak mendapat perhatian.
Kita ingin dimengerti tanpa menjelaskan apa-apa, sementara kita menuntut orang lain menjelaskan segala sesuatu, termasuk mengapa ia menggunakan tanda titik di akhir pesan.
"Baik."
Mengapa hanya baik? Apakah ada kemarahan tersembunyi? Mengapa tidak menggunakan emoji? Apakah hubungan kita sedang mengalami kemunduran?
Begitulah cinta pada zaman komunikasi digital: sebuah hubungan dapat terguncang bukan karena pengkhianatan, melainkan karena tanda baca.
Padahal, kedekatan yang matang memungkinkan dua orang untuk tidak selalu berbicara. Mereka bisa duduk bersama, membaca buku masing-masing, minum teh, atau memandangi hujan tanpa merasa wajib mengisi setiap detik dengan percakapan.
Mereka tidak harus selalu menghasilkan kata-kata yang layak dikutip akun sastra.
Kadang-kadang, cinta yang paling tulus hanya berbunyi, "Sudah makan?"
Dan jika dijawab belum, ia mengambilkan makanan.
Tidak ada metafora tentang samudra jiwa. Tidak ada kutipan Dostoevsky. Tidak ada musik latar biola.
Hanya sepiring nasi hangat.
Tetapi pada hari ketika hidup terasa berat, sepiring nasi hangat bisa lebih puitis daripada seribu kalimat tentang cinta abadi.
5. Bahaya Menjadi Terlalu Bijaksana Setelah Patah Hati
Ada satu hal yang patut dicurigai dari perubahan selera manusia: jangan-jangan kita mulai mencari jiwa yang serupa bukan karena semakin dewasa, melainkan karena sudah terlalu lelah menghadapi keributan.
Setelah beberapa kali patah hati, kita menjadi lebih selektif.
Dulu, kita tertarik kepada seseorang yang membuat kita kehilangan akal sehat.
Sekarang, kita tertarik kepada seseorang yang tidak membuat kita harus kehilangan akal sehat.
Dulu, kita menyukai hubungan yang penuh kejutan.
Sekarang, kejutan terbaik adalah ketika pasangan mengatakan bahwa ia akan terlambat sepuluh menit dan benar-benar datang sepuluh menit kemudian.
Dulu, kita mengira cinta sejati harus membuat jantung berdebar.
Sekarang, kita menyadari bahwa jantung yang berdebar terlalu kencang sebaiknya diperiksa penyebabnya, bukan langsung ditafsirkan sebagai tanda takdir.
Pengalaman mengubah definisi romantisme.
Kita tidak lagi menganggap kecemburuan berlebihan sebagai bukti cinta. Kita juga tidak lagi memandang pertengkaran tanpa akhir sebagai tanda hubungan yang penuh gairah.
Kita mulai menyukai ketenangan.
Sayangnya, ketenangan terkadang disalahartikan sebagai kebosanan. Ada orang yang begitu terbiasa hidup dalam kekacauan sampai-sampai ketika bertemu seseorang yang stabil, ia justru merasa ada sesuatu yang kurang.
Tidak ada drama. Tidak ada ancaman putus setiap pekan. Tidak ada pesan panjang pada pukul dua pagi yang dimulai dengan kalimat, "Aku sebenarnya sudah lama memendam ini."
Lalu ia bertanya, "Apa benar dia mencintaiku?"
Barangkali benar. Barangkali justru itulah bentuk cinta yang selama ini tidak dikenalnya: cinta yang tidak mengharuskan seseorang hidup dalam keadaan siaga.
Namun, kita juga harus berhati-hati agar kedewasaan tidak berubah menjadi sinisme. Tidak semua hubungan yang gagal harus membuat kita curiga kepada seluruh umat manusia. Tidak semua mantan merupakan penjahat, dan tidak setiap orang baru harus menjalani pemeriksaan latar belakang emosional selama enam bulan.
Kedewasaan bukan berarti berhenti berharap.
Kedewasaan berarti belajar berharap tanpa menyerahkan seluruh kewarasan kepada harapan itu.
6. Usia Bertambah, Standar Berubah, tetapi Ego Masih Minta Dilayani
Ada paradoks yang lucu dalam perjalanan menuju kedewasaan.
Semakin tua, kita semakin menginginkan pasangan yang sederhana, tulus, tidak suka drama, dan mampu memahami kita.
Namun, apakah kita sendiri sudah menjadi orang yang sederhana, tulus, tidak suka drama, dan mudah dipahami?
Inilah pertanyaan yang biasanya kita hindari dengan sangat terampil.
Kita menginginkan seseorang yang menerima kekurangan kita, tetapi masih sibuk menyembunyikan kekurangan itu ketika berkenalan.
Kita mencari pasangan yang matang secara emosional, tetapi ketika pendapat kita ditolak, suasana hati langsung memasuki musim penghujan.
Kita mengharapkan orang yang mampu memahami diam kita, tetapi ketika ia diam, kita menganggapnya tidak komunikatif.
Kita ingin seseorang yang tidak menghakimi, tetapi sudah menyusun kesimpulan tentang kepribadiannya hanya dari cara ia memesan makanan.
Manusia memang pandai membuat daftar persyaratan bagi orang lain. Daftar untuk dirinya sendiri biasanya masih dalam tahap penyusunan.
Mungkin inilah sebabnya pencarian jiwa yang serupa perlu dimulai dengan pertanyaan yang agak tidak nyaman: apakah kita sudah menjadi jiwa yang layak untuk ditemani?
Bukan berarti kita harus sempurna sebelum mencintai seseorang. Kalau syaratnya demikian, sebagian besar manusia mungkin harus menunda pernikahan sampai akhir zaman.
Yang penting adalah kesediaan untuk terus belajar.
Belajar mendengarkan tanpa buru-buru membela diri. Belajar meminta maaf tanpa menambahkan kata tetapi. Belajar mengakui bahwa pasangan kita bukan pembaca pikiran, sehingga sesekali kita memang perlu menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
Dan, yang paling sulit, belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti menjadikannya petugas pelayanan untuk seluruh kebutuhan emosional kita.
Pasangan bukan psikolog pribadi yang bekerja dua puluh empat jam, bukan mesin pencetak kebahagiaan, dan bukan pegawai negeri yang harus selalu tersedia ketika kita memerlukan bantuan.
Ia manusia lain, dengan kelelahan, ketakutan, kebutuhan, dan sejarah hidupnya sendiri.
Jika kita menginginkan jiwa yang serupa, kita juga harus belajar menghormati jiwa yang berbeda.
7. Dari Tubuh yang Indah Menuju Jiwa yang Membuat Kita Betah
Pada akhirnya, aforisme Zhvanetsky bukanlah ajakan untuk meremehkan kecantikan fisik.
Keindahan tetaplah keindahan. Wajah yang menarik masih bisa membuat kita tersenyum. Tatapan yang lembut masih mampu menghangatkan hati. Dan tidak ada salahnya jatuh cinta karena seseorang memiliki senyum yang membuat hari terasa lebih cerah.
Masalahnya muncul ketika kita mengira bahwa apa yang memikat mata pasti mampu merawat kehidupan.
Tubuh yang indah dapat membuat seseorang ingin mendekat. Namun, hubungan yang bertahan membutuhkan lebih banyak hal: kejujuran, rasa hormat, kesediaan mendengarkan, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi hari-hari ketika tidak ada sesuatu pun yang terasa istimewa.
Sebab, kehidupan bersama tidak seluruhnya terdiri atas makan malam romantis dan perjalanan ke tempat-tempat indah.
Ada hari ketika kita harus membersihkan rumah, menghadapi tagihan, merawat orang sakit, mengurus pekerjaan, atau sekadar bertahan menghadapi suasana hati yang buruk.
Pada hari-hari seperti itu, kecantikan tidak kehilangan nilainya, tetapi nilainya tidak lagi cukup untuk menjelaskan mengapa kita memilih bertahan.
Kita membutuhkan seseorang yang tidak hanya menyenangkan ketika kita sedang menyenangkan.
Seseorang yang dapat duduk di samping kita ketika percakapan tidak berjalan lancar, ketika rencana gagal, ketika uang menipis, dan ketika kehidupan tidak menawarkan bahan untuk membuat kutipan motivasi.
Seseorang yang membuat kita merasa tidak perlu berpura-pura kuat sepanjang waktu.
Dan, tentu saja, seseorang yang tetap bersedia mengingatkan kita untuk membeli sabun ketika kita terlalu sibuk memikirkan makna keberadaan.
Sebab, jiwa yang mendalam tetap membutuhkan kamar mandi yang bersih.
Barangkali inilah inti kedewasaan dalam cinta: kita tidak lagi sekadar mencari seseorang yang membuat kita terpesona, melainkan seseorang yang bersamanya kita dapat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa harus terus-menerus memainkan peran.
Dulu, kita bertanya, "Apakah dia cukup cantik atau tampan untuk membuatku jatuh cinta?"
Kemudian, setelah pengalaman mengajarkan beberapa hal, pertanyaannya berubah menjadi, "Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya?"
Dan mungkin, pada tahap yang lebih matang, kita mulai bertanya, "Apakah kami bisa saling menjaga tanpa harus kehilangan diri masing-masing?"
Itulah pertanyaan yang lebih sulit, tetapi jauh lebih berguna daripada sekadar menilai seseorang berdasarkan foto profil.
Cinta Bukan Kontes Kecantikan, Bukan Pula Ujian Kesabaran Tanpa Batas
Aforisme Zhvanetsky mengingatkan kita bahwa perjalanan cinta sering kali merupakan perjalanan dari permukaan menuju kedalaman.
Ketika muda, kita mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat. Ketika bertambah dewasa, kita mulai menghargai sesuatu yang dirasakan. Kita belajar bahwa wajah yang memesona tidak selalu menjanjikan ketenteraman, sebagaimana wajah biasa saja tidak otomatis menyimpan kebijaksanaan.
Namun, jangan pula terlalu cepat merasa tercerahkan hanya karena usia bertambah.
Ada orang yang sudah berusia enam puluh tahun tetapi masih mengejar kecantikan seolah-olah sedang mengejar kereta terakhir. Ada yang baru berusia tiga puluh tahun tetapi sudah memahami bahwa kedamaian batin jauh lebih berharga daripada memenangkan pertengkaran.
Usia memang menambah tahun, tetapi tidak selalu menambah kebijaksanaan. Untuk urusan itu, manusia masih harus bekerja keras.
Mungkin, pada akhirnya, kita tidak sedang mencari jiwa yang sepenuhnya sama dengan jiwa kita. Kita sedang mencari seseorang yang membuat perbedaan terasa aman, keheningan terasa nyaman, dan kehidupan terasa lebih mungkin dijalani.
Seseorang yang tidak harus selalu memahami kita dengan sempurna, tetapi bersedia berusaha memahami.
Seseorang yang tidak selalu setuju, tetapi tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan.
Seseorang yang bisa tertawa bersama kita ketika hidup terasa absurd, sebab hidup memang sering kali seperti lelucon yang penulisnya lupa memberikan penjelasan.
Dan ketika malam tiba, kita bisa duduk berdua tanpa harus membuktikan apa pun kepada dunia.
Tidak perlu mengunggah foto. Tidak perlu membuat status tentang belahan jiwa. Tidak perlu menulis bahwa cinta sejati adalah pertemuan dua samudra kesadaran.
Cukup duduk bersama, menyeruput teh, lalu bertanya apakah besok perlu membeli beras.
Jika ia menjawab, "Masih ada setengah karung," dan kita merasa lega karena ternyata isi kepalanya berjalan seirama dengan isi dompet, barangkali itulah salah satu bentuk kedewasaan yang paling nyata.
Sebab, cinta yang matang bukan hanya tentang menemukan jiwa yang membuat kita merasa pulang.
Ia juga tentang menemukan seseorang yang bersedia tinggal, membantu membereskan rumah, dan tidak menghilang ketika genting mulai bocor.
Dulu kita mencari seseorang yang membuat jantung berdebar. Sekarang kita mencari seseorang yang membuat hati tenang. Dan jika ia juga bersedia membayar tagihan listrik tepat waktu, mungkin kita akhirnya telah menemukan keindahan yang tidak sempat dijelaskan oleh para penyair.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/21/2026 03:35:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.