Sekolah untuk Orang Waras: Ketika Kebodohan Lulus dengan Predikat Cum Laude
Belajar dari Marguerite Yourcenar tentang pendidikan yang tidak sekadar membuat kepala penuh, tetapi juga membuat manusia tidak ngawur.
Ada sebuah ironi besar dalam dunia pendidikan modern: manusia menghabiskan belasan tahun di sekolah untuk menjadi pintar, lalu menghabiskan sisa hidupnya untuk membuktikan bahwa kepintaran tidak selalu ada hubungannya dengan kebijaksanaan.
Kita belajar matematika agar bisa menghitung, tetapi sering tidak mampu menghitung akibat perbuatan sendiri. Kita belajar sejarah agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu, tetapi justru mengulangi kesalahan yang sama dengan kostum, slogan, dan nama partai yang berbeda. Kita belajar ilmu pengetahuan agar memahami dunia, tetapi masih gampang percaya pada iklan yang menjanjikan perut rata dalam tujuh hari dan kekayaan tanpa perlu bangun dari tempat tidur.
Lalu kita heran mengapa dunia semakin kacau.
Mungkin ada yang salah dengan sekolah kita. Atau, lebih tepatnya, ada yang salah dengan cara kita memahami tujuan sekolah.
Marguerite Yourcenar, sastrawan Prancis-Belgia yang terkenal melalui Mémoires d'Hadrien, sudah mengendus persoalan ini sejak 1980, ketika ia berbincang dengan Matthieu Galey dalam Les Yeux Ouverts. Ia melihat bahwa ketidaktahuan manusia bukan sekadar kecelakaan intelektual. Dalam masyarakat yang mengaku modern, demokratis, dan beradab, kebodohan bahkan bisa tumbuh secara sistematis.
Tentu saja, tidak ada kementerian yang secara resmi membuka jurusan Kebodohan Terapan. Tidak ada universitas yang memasang spanduk, "Pendaftaran Mahasiswa Baru: Program Studi Tidak Bisa Membedakan Fakta dan Omong Kosong." Namun, jika kita melihat bagaimana manusia dididik, bagaimana informasi disebarkan, dan bagaimana masyarakat memperlakukan kebenaran, kita kadang curiga bahwa jurusan itu sudah lama beroperasi secara diam-diam.
Akreditasinya pun tampak sangat baik.
Lulusannya tersebar di mana-mana.
1. Anak Hafal Nama Menteri, tetapi Tidak Tahu Nama Pohon
Menurut Yourcenar, pendidikan semestinya dimulai dengan kesadaran sederhana bahwa manusia hidup di sebuah planet, bukan di ruang VIP yang disediakan khusus untuk spesies Homo sapiens.
Manusia membutuhkan udara, air, tanah, tumbuhan, dan hewan. Ia tidak bisa hidup hanya dengan kecerdasan, apalagi dengan gelar akademik yang dipajang di belakang meja kerja.
Sayangnya, kita sering mendidik anak-anak seolah-olah bumi hanyalah latar belakang foto kelulusan.
Mereka diajari menghafal ibu kota negara, nama pahlawan, rumus fisika, dan tabel periodik. Semua itu penting. Namun, tidak kalah pentingnya adalah kemampuan mengenali pohon di halaman sekolah, memahami dari mana air berasal, dan mengetahui bahwa sampah plastik tidak otomatis menghilang hanya karena sudah dibuang ke tempat sampah.
Seorang anak mungkin tahu bahwa oksigen memiliki simbol kimia O₂, tetapi belum tentu tahu mengapa pohon di depan rumahnya ditebang.
Ia bisa mengerjakan soal tentang siklus air, tetapi membiarkan keran menyala sepanjang sore.
Ia mendapat nilai sembilan dalam pelajaran lingkungan hidup, lalu membuang bungkus makanan dari jendela mobil.
Inilah prestasi pendidikan yang patut direnungkan: pengetahuan berhasil masuk ke kepala, tetapi gagal menemukan jalan menuju tangan.
Barangkali kita perlu mengubah ujian akhir sekolah. Setelah mengerjakan soal pilihan ganda tentang ekosistem, murid diminta merawat sepetak tanah selama setahun. Setelah mendapat nilai sempurna, mereka harus membuktikan bahwa tanaman yang dipercayakan kepada mereka tidak mati karena kekurangan air, perhatian, atau kesibukan bermain gawai.
Kalau tanamannya mati, jangan langsung diberi remedial teori fotosintesis. Barangkali yang perlu diremedial adalah rasa tanggung jawabnya.
Yourcenar memahami bahwa pendidikan ekologis bukan sekadar membuat anak bisa menjawab pertanyaan tentang lingkungan. Pendidikan ekologis membuat anak sadar bahwa ia sendiri merupakan bagian dari lingkungan yang sedang dipelajarinya.
Bumi bukan mata pelajaran. Bumi adalah rumah.
Dan manusia, betapapun tinggi gelarnya, tetap tidak bisa bernapas dengan ijazah.
2. Sejarah: Seni Mengagumi Leluhur Sambil Menyembunyikan Kesalahannya
Yourcenar juga menginginkan pendidikan sejarah yang jujur.
Ini gagasan yang terdengar sederhana, tetapi bisa menimbulkan kegelisahan besar. Sebab, sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah juga tentang bagaimana orang-orang pada masa kini ingin dikenang oleh orang-orang pada masa depan.
Setiap bangsa tentu memiliki pahlawan. Setiap negara mempunyai kisah kejayaan. Setiap masyarakat senang mendengar cerita bahwa leluhurnya gagah berani, bijaksana, dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan.
Masalahnya, jika semua leluhur selalu benar, lalu siapa yang dahulu melakukan kesalahan?
Apakah kesalahan-kesalahan itu dilakukan oleh bangsa lain yang kebetulan sedang lewat?
Sejarah kadang diperlakukan seperti album keluarga. Foto-foto yang bagus dipajang di ruang tamu, sedangkan foto yang memalukan disimpan di laci. Kalau ada tamu bertanya, kita segera menjelaskan bahwa foto itu hanya salah pencahayaan.
Padahal, bangsa yang dewasa tidak perlu menghapus kesalahan masa lalunya untuk menghormati jasa para pendahulunya.
Mengakui bahwa seorang tokoh berjasa sekaligus memiliki kekurangan bukanlah pengkhianatan. Itu justru tanda bahwa kita mulai belajar membedakan penghormatan dari pemujaan.
Yourcenar mengingatkan bahwa manusia perlu mengenal masa lalu tanpa menjadikannya berhala. Kita boleh mengagumi keberanian para pendahulu, tetapi tidak perlu menyalin seluruh perilaku mereka, termasuk kesalahan yang dahulu mereka lakukan dengan penuh keyakinan.
Bayangkan jika sejarah diajarkan dengan cara demikian.
Murid tidak hanya diminta menghafal tanggal perang, tetapi juga mempelajari mengapa perang terjadi, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang kehilangan rumah, dan mengapa kemenangan sering menghasilkan benih permusuhan baru.
Mereka belajar bahwa sebuah bangsa dapat memiliki masa lalu yang membanggakan tanpa harus menganggap dirinya selalu benar.
Mereka juga belajar bahwa mencintai negara tidak sama dengan menyetujui semua tindakan penguasanya.
Tentu saja, pelajaran semacam ini berisiko membuat murid terlalu kritis. Mereka mungkin mulai bertanya mengapa sesuatu dilakukan, siapa yang diuntungkan, dan apakah sebuah pidato sesuai dengan kenyataan.
Ini berbahaya.
Bukan bagi demokrasi, melainkan bagi orang-orang yang berharap masyarakat cukup puas dengan slogan.
Murid yang kritis sulit ditenangkan hanya dengan kalimat, "Sudahlah, dari dulu memang begitu."
Ia akan bertanya, "Kalau dari dulu memang begitu, mengapa sampai sekarang masih begitu?"
Pertanyaan sederhana yang bisa membuat banyak orang dewasa mendadak sibuk memeriksa telepon genggam.
3. Pendidikan Kehidupan: Dari Nama Bunga hingga Bau Rumah Sakit
Ada sisi lain dari gagasan Yourcenar yang tidak kalah menarik. Ia menginginkan pendidikan yang mempertemukan anak dengan kehidupan nyata, bukan hanya dengan buku pelajaran.
Anak perlu mengenal tumbuhan dan hewan. Ia perlu memahami pertolongan pertama, proses kelahiran, penyakit, dan kematian. Ia juga harus belajar menghormati kehidupan makhluk lain, termasuk dengan menolak praktik viviseksi yang tidak berperikemanusiaan.
Gagasan ini mengandung kritik terhadap pendidikan yang terlalu sibuk menjelaskan kehidupan, tetapi jarang mengajak murid menyentuh kenyataan.
Kita bisa menghabiskan berjam-jam mempelajari definisi pertolongan pertama tanpa pernah tahu apa yang harus dilakukan ketika seseorang tiba-tiba pingsan di depan kita.
Kita bisa mempelajari struktur tubuh manusia dengan sangat terperinci, tetapi kebingungan ketika harus merawat orang tua yang sedang sakit.
Kita bisa membaca puluhan buku tentang empati, lalu merasa terganggu ketika seorang tetangga meminta bantuan.
Pendidikan menjadi semacam museum pengetahuan: semua benda diberi label, tetapi pengunjung dilarang menyentuhnya.
Yourcenar ingin membuka pintu museum itu.
Tentu saja, memperkenalkan anak pada kelahiran, penyakit, dan kematian tidak berarti membawa mereka ke setiap ruang persalinan atau bangsal rumah sakit tanpa persiapan. Anak mempunyai usia, kesiapan emosional, dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Pendidikan kehidupan harus dilakukan dengan pendampingan, penghormatan, dan kepekaan.
Namun, melindungi anak tidak sama dengan menyembunyikan seluruh kenyataan darinya.
Kita tidak harus membuat anak menyaksikan semua kesulitan hidup. Kita hanya perlu menghindari kebiasaan berpura-pura bahwa kehidupan selalu bersih, nyaman, dan berjalan sesuai jadwal pelajaran.
Sebab, suatu hari nanti, mereka akan berhadapan dengan orang sakit, orang yang berduka, kegagalan, kehilangan, dan berbagai kenyataan yang tidak menyediakan pilihan jawaban A, B, C, atau D.
Pada saat itu, pengetahuan saja mungkin tidak cukup.
Mereka membutuhkan keberanian untuk mendekat, kepekaan untuk memahami, dan kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.
Sayangnya, tidak semua hal penting dalam hidup bisa dipelajari melalui ujian pilihan ganda.
Tidak ada soal yang berbunyi:
Ketika sahabat Anda sedang berduka, tindakan terbaik adalah:
A. Menjelaskan teori kesedihan berdasarkan lima buku psikologi.
B. Mengunggah kutipan motivasi tentang ketabahan.
C. Mengatakan bahwa semua terjadi karena suatu alasan.
D. Duduk di sampingnya, mendengarkan, dan membantu sebisanya.
Jawaban D mungkin sederhana. Tetapi dalam kehidupan nyata, justru jawaban itulah yang sering paling sulit dilakukan.
4. Moralitas: Pelajaran yang Tidak Bisa Diberikan Hanya dengan Ceramah
Yourcenar juga menekankan perlunya pendidikan moral dasar agar manusia mampu hidup bersama.
Ia tidak sedang meminta sekolah menjadi pabrik orang suci. Ia menghendaki manusia memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain.
Sayangnya, moralitas sering menjadi pelajaran yang sangat indah di papan tulis, tetapi agak sulit ditemukan di lorong sekolah.
Murid diminta tidak menyontek. Namun, jika ketahuan menyontek, ia mungkin berusaha meyakinkan guru bahwa tindakannya hanyalah bentuk kreativitas dalam mengakses informasi.
Murid diajari kejujuran, tetapi melihat orang dewasa berbohong dengan alasan menjaga citra.
Mereka diminta menghormati orang lain, tetapi menyaksikan penghinaan dipertontonkan sebagai hiburan.
Mereka belajar bahwa mengambil barang orang lain itu salah, lalu mendengar orang dewasa menjelaskan bahwa korupsi tertentu harus dipahami berdasarkan konteks.
Anak-anak bukan hanya mendengar pelajaran. Mereka mengamati perilaku.
Dan pengamatan sering lebih meyakinkan daripada ceramah.
Seorang guru bisa menjelaskan kejujuran selama dua jam. Namun, satu tindakan tidak adil yang dilakukan di depan murid dapat merusak pelajaran itu dalam beberapa detik.
Moralitas tidak cukup diajarkan sebagai daftar larangan. Ia perlu diperlihatkan dalam tindakan sehari-hari: bagaimana orang dewasa mengakui kesalahan, memperlakukan orang yang lebih lemah, menepati janji, dan bersikap ketika tidak ada yang mengawasi.
Sebab, manusia yang hanya berbuat baik ketika dilihat orang lain sebenarnya belum tentu mencintai kebaikan. Mungkin ia hanya sedang menjaga reputasi.
Dan reputasi, sebagaimana kita ketahui, adalah sesuatu yang kadang lebih rajin dirawat daripada karakter.
5. Toleransi Beragama: Mengenal Tetangga Tanpa Harus Menjadi Tetangga Itu
Dalam pandangan Yourcenar, anak perlu mengenal agama-agama besar dunia agar dapat menghormati keyakinan yang berbeda.
Ia tidak menghendaki pemaksaan dogma. Ia menginginkan pengetahuan yang mengurangi prasangka.
Ini penting karena ketidaktahuan sering menyamar sebagai keyakinan yang sangat teguh.
Seseorang bisa sangat yakin bahwa kelompok lain berbahaya, padahal pengetahuannya tentang kelompok tersebut hanya berasal dari potongan video berdurasi tiga puluh detik dan komentar seseorang yang foto profilnya berupa gambar singa.
Ia tidak pernah membaca ajaran kelompok itu. Tidak pernah berbicara dengan penganutnya. Tidak pernah memahami sejarahnya.
Tetapi keyakinannya sudah bulat.
Bulat sekali sampai tidak ada celah untuk memasukkan informasi baru.
Di sinilah pendidikan agama dan pendidikan toleransi semestinya saling membantu. Seseorang dapat memegang teguh keyakinannya sendiri tanpa harus menganggap semua orang yang berbeda sebagai ancaman.
Mengenal agama lain tidak otomatis membuat seseorang kehilangan agamanya, sebagaimana mempelajari bahasa asing tidak otomatis membuat seseorang lupa bahasa ibu.
Kita tidak perlu menjadi penganut semua agama untuk memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat.
Toleransi bukan kewajiban untuk menyetujui semua pendapat. Toleransi adalah kemampuan untuk hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.
Barangkali pelajaran yang paling dibutuhkan anak-anak bukanlah cara memenangkan perdebatan tentang agama, melainkan cara berdialog tanpa menganggap lawan bicara sebagai musuh.
Sebab, orang yang sungguh-sungguh memahami keyakinannya sendiri tidak semestinya merasa bahwa setiap pertanyaan adalah serangan dan setiap perbedaan adalah bencana.
Jika hanya dengan bertemu orang yang berbeda saja iman seseorang langsung panik, mungkin yang perlu diperiksa bukan tetangganya, melainkan cara ia memahami dirinya sendiri.
6. Iklan: Guru Paling Rajin yang Tidak Pernah Masuk Kurikulum
Salah satu gagasan Yourcenar yang terasa sangat relevan adalah pentingnya mengajarkan anak agar tidak mudah tertipu iklan.
Ia mengingatkan bahwa anak perlu belajar mencintai pekerjaan yang berguna dan memahami bagaimana konsumsi dapat dimanipulasi.
Bayangkan, pada 1980 ia sudah mengkhawatirkan pengaruh iklan terhadap manusia. Kini, persoalannya bukan lagi sekadar iklan di televisi atau poster di pinggir jalan.
Iklan sudah masuk ke telepon genggam, media sosial, video pendek, permainan digital, bahkan ke dalam percakapan orang yang sebenarnya sedang berbagi pengalaman.
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa bangun tidur tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi langsung mengetahui lima produk yang menurut algoritma harus segera dibelinya.
Belum sempat menggosok gigi, ia sudah ditawari pasta gigi yang konon mengubah hidup. Belum sempat sarapan, ia sudah melihat suplemen yang menjanjikan tubuh ideal. Belum sempat bekerja, ia sudah menyaksikan seseorang yang mengaku menghasilkan miliaran rupiah dari sebuah metode rahasia.
Metode rahasia itu tentu dijual dalam kelas daring.
Kalau benar-benar rahasia, mengapa dijual massal?
Pertanyaan tersebut mungkin tidak pernah muncul karena kita sedang sibuk mengeklik tombol beli sekarang.
Iklan tidak selalu berbohong secara terang-terangan. Kadang-kadang, ia hanya memilih bagian kenyataan yang paling menguntungkan bagi penjual.
Ia menunjukkan orang bahagia setelah membeli mobil, tetapi tidak menunjukkan tagihan cicilannya.
Ia menunjukkan tubuh bugar setelah meminum produk tertentu, tetapi tidak menjelaskan peran olahraga, pola makan, genetika, atau faktor lain yang relevan.
Ia menunjukkan seseorang sukses setelah mengikuti seminar motivasi, tetapi tidak memberi tahu berapa banyak peserta lain yang pulang dengan motivasi tinggi dan rekening tetap rendah.
Karena itu, pendidikan literasi iklan bukan sekadar mengajari anak membedakan iklan dan berita. Anak perlu belajar bertanya:
Siapa yang membuat pesan ini?
Apa yang ingin dijual?
Bukti apa yang disediakan?
Informasi apa yang tidak disebutkan?
Dan mengapa orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli justru menawarkan paket kebahagiaan seharga tiga juta rupiah?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat penting di zaman ketika perhatian manusia telah menjadi komoditas.
Kita bukan hanya membeli barang. Kita juga membeli kecemasan yang diciptakan agar barang tersebut terasa perlu.
Kita dibuat merasa kurang cantik, kurang sukses, kurang produktif, kurang kaya, dan kurang bahagia. Setelah itu, muncullah produk yang siap menyelesaikan semua kekurangan tersebut.
Industri konsumsi adalah pesulap yang hebat. Ia menciptakan luka, kemudian menjual plester.
Kadang-kadang, plesternya lebih mahal daripada lukanya.
7. Ketika Sekolah Mengajarkan Semua Hal, Kecuali Cara Berpikir
Gagasan Yourcenar pada akhirnya membawa kita kepada pertanyaan mendasar: apakah tujuan pendidikan hanya menghasilkan manusia yang tahu banyak hal, atau manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab?
Kita sering mengukur keberhasilan pendidikan melalui nilai, peringkat, sertifikat, dan ijazah. Semua itu memiliki fungsi penting. Namun, jika dijadikan satu-satunya ukuran, kita berisiko menghasilkan manusia yang pandai memenuhi persyaratan tanpa memahami tujuan di balik persyaratan tersebut.
Murid belajar bukan karena ingin memahami dunia, melainkan karena ingin lulus ujian.
Mahasiswa menulis bukan karena ingin menemukan sesuatu, melainkan karena harus memenuhi kewajiban akademik.
Orang membaca bukan untuk mempertajam pikiran, melainkan agar bisa mengutip kalimat rumit ketika sedang berdiskusi.
Pengetahuan berubah menjadi mata uang sosial.
Semakin banyak istilah asing yang diucapkan, semakin besar peluang seseorang dianggap cerdas. Tidak peduli apakah istilah tersebut benar-benar dipahami atau hanya diletakkan di dalam kalimat seperti hiasan di ruang tamu.
Kita akhirnya memiliki paradoks: orang bisa mengumpulkan banyak pengetahuan tanpa menjadi lebih bijaksana, sebagaimana seseorang bisa memiliki banyak buku tanpa pernah benar-benar membaca isinya.
Tentu saja, ini bukan alasan untuk meremehkan sekolah, universitas, atau pendidikan formal. Justru sebaliknya. Institusi pendidikan perlu mengembalikan pengetahuan kepada tujuan yang lebih besar: membantu manusia memahami kenyataan dan bertindak lebih baik di dalamnya.
Anak perlu belajar matematika, tetapi juga memahami bahwa angka dapat dipakai untuk menjelaskan kenyataan maupun menyamarkannya.
Ia perlu belajar bahasa, tetapi juga memahami bahwa kefasihan berbicara tidak selalu menunjukkan kejujuran.
Ia perlu belajar sejarah, tetapi juga memahami bahwa cerita yang paling sering diulang belum tentu merupakan cerita yang paling lengkap.
Ia perlu belajar sains, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang belum diketahui.
Dan ia perlu belajar berpikir kritis, termasuk terhadap pendapat yang paling disukainya sendiri.
Sebab, berpikir kritis bukan hanya kemampuan menemukan kesalahan orang lain. Itu juga kesediaan untuk memeriksa kemungkinan bahwa kita sendiri sedang keliru.
Bagian terakhir ini biasanya paling sulit.
Mencurigai orang lain memberikan kepuasan. Mencurigai diri sendiri membutuhkan keberanian.
8. Kurikulum Yourcenar: Tidak Ada Mata Pelajaran untuk Menjadi Manusia?
Jika gagasan Yourcenar diterapkan secara sungguh-sungguh, sekolah mungkin perlu menambahkan sejumlah pelajaran yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Bukan sekadar mata pelajaran baru dengan buku paket setebal batu bata, melainkan latihan hidup yang nyata.
Anak belajar merawat tumbuhan, memahami sampah, dan menjaga air.
Ia belajar menolong orang yang terluka, mendengarkan orang yang berduka, dan menghormati orang yang sedang sakit.
Ia belajar sejarah dengan keberanian mengakui keberhasilan maupun kesalahan.
Ia belajar agama dan kebudayaan lain tanpa harus kehilangan keyakinannya sendiri.
Ia belajar mengenali iklan, membedakan bukti dari klaim, dan memahami mengapa sesuatu yang viral belum tentu benar.
Ia juga belajar melakukan pekerjaan yang berguna, menyelesaikan tugas tanpa harus selalu diawasi, dan mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari kambing hitam.
Mungkin sekolah semacam itu tidak akan langsung menghasilkan anak-anak yang selalu mendapat nilai sempurna.
Namun, mungkin mereka akan menghasilkan manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Mereka tidak hanya tahu cara menjawab pertanyaan, tetapi juga tahu kapan harus bertanya.
Tidak hanya tahu cara memenangkan perdebatan, tetapi juga kapan harus mendengarkan.
Tidak hanya tahu cara memperoleh keuntungan, tetapi juga kapan harus menahan diri.
Tidak hanya tahu cara membela kelompoknya sendiri, tetapi juga mampu melihat kemanusiaan pada orang yang berbeda.
Dan yang paling penting, mereka tidak menganggap bahwa menjadi pintar berarti bebas dari kewajiban untuk menjadi baik.
Tentu saja, pelaksanaan kurikulum seperti ini tidak mudah. Guru membutuhkan pelatihan, sekolah membutuhkan dukungan, dan keluarga perlu ikut terlibat. Tidak semua pengalaman hidup cocok diperkenalkan dengan cara yang sama kepada setiap anak.
Pendidikan yang baik membutuhkan ilmu pengetahuan, perencanaan, dan kepekaan terhadap perkembangan anak.
Namun, kesulitan tersebut bukan alasan untuk mempertahankan pendidikan yang hanya pandai mengukur apa yang mudah diukur.
Sebab, ada hal-hal yang sangat penting justru sulit dimasukkan ke dalam tabel nilai.
Kejujuran. Empati. Keberanian moral. Rasa ingin tahu. Tanggung jawab.
Tidak ada satu angka yang bisa merangkum seluruh kualitas itu.
Kalaupun ada rapor khusus untuk mengukur kemampuan seseorang menjadi manusia, barangkali sebagian orang dewasa akan meminta agar nilai tersebut dirahasiakan.
Penutup: Dunia Tidak Kekurangan Orang Pintar, tetapi Kekurangan Orang yang Mau Berpikir
Marguerite Yourcenar menawarkan sebuah gagasan yang sederhana sekaligus radikal: pendidikan seharusnya membantu manusia memahami kehidupan, bukan sekadar menyiapkannya untuk mengikuti sistem.
Ia ingin anak sadar bahwa bumi memiliki batas, sejarah tidak selalu suci, agama perlu dipahami dengan hormat, pekerjaan harus memiliki kegunaan, dan iklan tidak selalu datang membawa kebenaran.
Ia menginginkan pendidikan yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan, bukan pendidikan yang membuat ketidaktahuan tampak terpelajar.
Empat dekade setelah gagasan itu dikemukakan, persoalannya masih terasa dekat.
Kita memiliki akses terhadap informasi yang belum pernah tersedia sebanyak ini dalam sejarah manusia. Namun, kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Seseorang dapat mengakses jurnal ilmiah melalui telepon genggam, tetapi lebih percaya kepada video anonim yang menjanjikan rahasia kesehatan universal.
Ia dapat membaca sejarah dunia dalam hitungan detik, tetapi memilih mempercayai cerita yang paling sesuai dengan prasangkanya.
Ia dapat mengikuti kuliah tentang lingkungan, lalu menganggap sungai sebagai tempat yang cocok untuk membuang sesuatu selama tidak ada yang melihat.
Teknologi membuat pengetahuan semakin mudah dijangkau. Akan tetapi, ia tidak bisa memaksa manusia untuk menggunakan pengetahuan itu dengan baik.
Di sinilah pendidikan seharusnya mengambil peran.
Bukan dengan mengajari anak menghafal lebih banyak hal, melainkan membantunya memahami mengapa pengetahuan penting, bagaimana kebenaran diuji, dan apa tanggung jawab manusia setelah mengetahui sesuatu.
Sebab, kebodohan yang paling berbahaya bukanlah ketidaktahuan yang disadari. Ketidaktahuan semacam itu masih memiliki peluang untuk belajar.
Yang lebih berbahaya adalah ketidaktahuan yang merasa dirinya paling pintar, kebencian yang merasa dirinya paling bermoral, dan keserakahan yang menganggap dirinya sebagai keberhasilan.
Ketiganya dapat mengenakan jas mahal, berbicara dengan bahasa akademik, dan memperoleh gelar kehormatan.
Bahkan, ketiganya bisa lulus dengan predikat cum laude.
Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya bertanya berapa banyak anak yang berhasil lulus ujian. Kita perlu bertanya berapa banyak yang setelah lulus mampu membedakan fakta dari kebohongan, keberanian dari kesombongan, dan kebutuhan dari keinginan yang sengaja diciptakan orang lain.
Berapa banyak yang tumbuh menjadi manusia yang tidak merusak bumi demi keuntungan sesaat, tidak memalsukan sejarah demi kebanggaan kelompok, dan tidak merendahkan orang lain demi merasa lebih tinggi?
Berapa banyak yang berani berkata, "Saya tidak tahu," ketika memang tidak tahu, lalu berusaha mencari tahu alih-alih menyusun teori konspirasi?
Dan berapa banyak yang mampu mengakui, "Saya salah," tanpa merasa bahwa harga dirinya baru saja dinyatakan bangkrut?
Mungkin di situlah ukuran pendidikan yang sebenarnya.
Bukan ketika seseorang memiliki jawaban untuk semua pertanyaan, melainkan ketika ia cukup cerdas untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, cukup rendah hati untuk menerima koreksi, dan cukup manusiawi untuk tidak menggunakan pengetahuannya sebagai senjata bagi orang lain.
Sebab, sekolah boleh saja mengajarkan cara menjadi juara kelas. Universitas boleh memberikan gelar setinggi langit. Negara boleh mencetak jutaan sarjana.
Tetapi jika setelah semua itu manusia tetap tidak mampu merawat bumi, menghormati sesama, memeriksa kebenaran, dan mengendalikan keserakahannya sendiri, kita perlu mengakui satu hal yang agak memalukan:
Pendidikan kita mungkin berhasil mencerdaskan kepala, tetapi belum tentu berhasil mendidik penghuninya.
Dan selama manusia masih mengira bahwa gelar adalah bukti kebijaksanaan, sementara kebijaksanaan justru menuntut kerendahan hati, barangkali kita memang membutuhkan satu mata pelajaran tambahan.
Namanya sederhana: Belajar Menjadi Manusia.
Sayangnya, mata pelajaran itu tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku, tidak bisa dituntaskan dengan ujian pilihan ganda, dan tidak menyediakan jalan pintas menuju ijazah.
Pelajarannya berlangsung seumur hidup.
Bahkan, sebagian orang baru menyadari bahwa mereka belum lulus ketika sudah pensiun menjadi guru bagi orang lain.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/10/2026 06:27:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.