Sang “Idiot” di Tengah Dunia yang Transaksional
Ada manusia yang kalau ditolong akan berkata, “Terima kasih.”
Ada yang berkata, “Terima kasih, nanti saya balas.”
Ada pula yang lebih modern: “Terima kasih. Kalau ada proyek, kabari.”
Begitulah peradaban berkembang. Dulu manusia mengenal kasih sayang. Sekarang kita mengenal networking.
Di tengah dunia seperti itulah Pangeran Mychkine muncul dalam novel L’Idiot karya Fyodor Dostoevsky. Ia datang membawa sesuatu yang agak mencurigakan bagi masyarakat modern: hati yang bersih.
Masalahnya, hati yang bersih ternyata sulit dipakai untuk melakukan transaksi.
Mychkine dianggap “idiot”. Tetapi tentu bukan karena ia tidak bisa berpikir. Ia justru terlalu waras untuk ikut dalam kegilaan sosial di sekelilingnya. Ia tidak pandai menghitung keuntungan dari kebaikan, tidak piawai menyembunyikan niat, tidak suka memainkan perasaan orang, dan—ini yang paling fatal—ia memperlakukan manusia sebagai manusia.
Di zaman tertentu, sikap seperti itu memang bisa dianggap penyakit.
Ketika Kebaikan Dianggap Gangguan Sistem
Dalam L’Idiot, kata “idiot” adalah julukan yang ditempelkan masyarakat kepada Mychkine. Bukan diagnosis kecerdasan, melainkan semacam stempel sosial.
Kurang lebih begini logikanya:
“Orang ini terlalu jujur.”
“Kasihan.”
“Dia terlalu mudah percaya.”
“Bodoh.”
“Dia tidak memanfaatkan kesempatan.”
“Parah. Idiot.”
Kita mengenal logika tersebut sampai hari ini.
Kalau seseorang menolak mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain, kita menyebutnya kurang pintar.
Kalau seseorang tidak membalas penghinaan, kita bilang dia tidak punya keberanian.
Kalau seseorang memilih hidup sederhana, kita curiga: “Pasti belum sukses.”
Kalau seseorang masih percaya bahwa hubungan antarmanusia seharusnya dibangun atas kasih sayang, bukan kalkulasi manfaat, kita mulai memandangnya seperti makhluk langka dari kebun binatang moral.
“Ini orang dari zaman kapan?”
Mychkine mungkin akan menjawab, “Entahlah. Saya cuma ingin menjadi manusia.”
Dan masyarakat akan mengangguk pelan.
“Kasihan. Belum upgrade.”
Dunia yang Semua Kebaikannya Punya Kwitansi
Dunia dalam L’Idiot penuh dengan uang, status, kecemburuan, ambisi, gengsi, dan permainan sosial. Orang tidak hanya bertanya, “Apa yang kamu rasakan?”
Mereka juga bertanya:
“Apa untungnya?”
“Apa posisi sosialmu?”
“Siapa keluargamu?”
“Berapa warisanmu?”
“Dengan siapa kamu bergaul?”
“Kalau saya membantu dia, saya dapat apa?”
Pertanyaan terakhir barangkali tidak pernah diucapkan secara terang-terangan, tetapi sering bekerja diam-diam di belakang kepala.
Kita membantu teman, lalu berharap suatu hari dia membantu kita.
Kita mengucapkan selamat, sambil menghitung apakah suatu hari giliran kita akan diberi ucapan yang sama.
Kita mentraktir makan, lalu diam-diam mengingat jumlah tagihan.
Bahkan di media sosial, kebaikan kadang sudah mengenal metrik:
berapa like,
berapa share,
berapa komentar,
dan apakah orang penting ikut melihat.
Kebaikan yang tidak menghasilkan engagement mulai terasa seperti investasi bodong.
Mychkine, seandainya hidup di zaman media sosial, mungkin akan menjadi pengguna yang sangat menyedihkan.
Ia menolong orang tanpa mengunggahnya.
Memaafkan orang tanpa membuat thread.
Berbuat baik tanpa menulis, “Tidak semua orang tahu bahwa saya sebenarnya…”
Algoritma tentu akan kebingungan.
Mychkine dan Kejahatan yang Bernama “Tidak Punya Siasat”
Mychkine tidak bodoh. Justru masalahnya adalah ia tidak mempunyai cukup banyak siasat.
Ia tidak memahami bahwa dalam masyarakat tertentu, ketulusan harus diberi dosis.
Terlalu jujur membuat orang tidak nyaman.
Terlalu pemaaf membuat orang curiga.
Terlalu baik membuat orang bertanya:
“Ini ada maunya apa?”
Itulah tragedi terbesar manusia modern: kita begitu terbiasa dengan manipulasi sehingga ketulusan tampak seperti bentuk manipulasi yang belum terbongkar.
Kalau seseorang baik kepada kita, kita curiga.
Kalau seseorang tiba-tiba perhatian, kita bertanya:
“Dia mau pinjam uang?”
Kalau seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak mengharapkan apa-apa, kita semakin curiga.
“Wah, justru ini yang bahaya.”
Mychkine masuk ke dunia seperti itu dengan keyakinan bahwa manusia masih mungkin dicintai tanpa syarat.
Ia seperti orang membawa payung ke dalam rumah karena mengira hujan akan turun.
Orang-orang melihatnya dan berkata:
“Bodoh.”
Kebaikan sebagai Cermin
Yang menarik, Mychkine bukan hanya menjadi orang baik di tengah orang-orang yang tidak baik. Ia berfungsi seperti cermin.
Dan manusia umumnya tidak suka cermin yang terlalu jujur.
Kalau cermin memperlihatkan wajah kita kusut, kita bisa mengganti cermin.
Tetapi kalau seseorang memperlihatkan keburukan moral kita hanya dengan bersikap baik, persoalannya menjadi lebih rumit.
Mychkine tidak perlu berkhotbah panjang.
Ia cukup menunjukkan belas kasih.
Ia cukup berkata jujur.
Ia cukup memperlakukan orang yang terluka sebagai manusia.
Dan tiba-tiba orang lain mulai melihat dirinya sendiri.
Di situlah masalah dimulai.
Sebab tidak ada yang lebih mengganggu daripada orang baik yang tidak merasa perlu menghakimi kita. Ia membuat kita menghakimi diri sendiri.
Nastassia, Rogojine, dan Cinta yang Tidak Lagi Sehat
Tragedi L’Idiot juga menunjukkan bahwa persoalan manusia tidak sesederhana “orang baik melawan orang jahat”.
Nastassia Filippovna bukan sekadar perempuan jahat atau perempuan korban. Ia adalah manusia yang terluka, dipermalukan, diobjektifikasi, lalu hidup dalam pusaran rasa malu dan kehancuran diri.
Rogojine mencintai dengan cara yang berubah menjadi obsesi.
Mychkine mencintai dengan belas kasih.
Dan di antara keduanya, cinta tidak otomatis menjadi penyelamat.
Ini penting.
Sebab kita sering memiliki fantasi bahwa kalau seseorang cukup baik, ia pasti bisa menyelamatkan orang lain.
Sayangnya, manusia bukan tanaman hias.
Tidak cukup disiram setiap pagi dengan kasih sayang lalu menunggu tumbuh sehat.
Luka memiliki sejarah.
Trauma memiliki akar.
Hasrat memiliki ego.
Dan cinta pun kadang datang membawa koper penuh masalah.
Mychkine ingin menyelamatkan, tetapi dunia tidak selalu bisa diselamatkan oleh orang yang baik.
Kadang orang baik hanya mampu menunjukkan betapa rusaknya keadaan.
Dan itu sendiri sudah merupakan tragedi.
Kalau Mychkine Hidup di Zaman “Hustle”
Bayangkan Mychkine hidup sekarang.
Ia mengikuti seminar motivasi.
Pembicara berkata:
“Jangan terlalu baik. Dunia akan memanfaatkan Anda!”
Mychkine mengangkat tangan.
“Bagaimana kalau kita tetap baik?”
Ruangan hening.
Pembicara tersenyum profesional.
“Pertanyaan bagus. Tetapi Anda harus membangun personal branding terlebih dahulu.”
Mychkine bingung.
Kemudian ia masuk media sosial.
Ia melihat orang-orang berkata:
“Jangan percaya siapa pun.”
“Cut off toxic people.”
“Protect your energy.”
“Become the best version of yourself.”
Semuanya benar.
Tetapi setelah membaca seribu kutipan tentang menjaga diri, orang mulai lupa satu hal kecil: manusia lain juga manusia.
Kita sibuk membangun batas diri sampai tembok kita lebih tinggi daripada empati.
Kita sibuk mencari hubungan sehat sampai setiap kekurangan pasangan dianggap red flag.
Kita sibuk mengembangkan diri sampai lupa bahwa sesekali kita juga perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami orang lain.
Mychkine mungkin akan kembali ke sanatorium.
“Dokter, saya ingin pulang.”
“Kenapa?”
“Saya baru lima menit di internet.”
Dunia yang Menganggap Naif sebagai Dosa
Kita hidup dalam zaman yang sangat menghargai kecerdikan.
Tetapi ada perbedaan antara cerdas dan licik.
Orang cerdas memahami permainan.
Orang licik mengubah permainan menjadi keuntungan pribadi.
Masalahnya, masyarakat sering memberi penghargaan kepada yang kedua karena hasilnya lebih cepat terlihat.
Orang yang manipulatif tampak sukses.
Orang yang sabar tampak kalah.
Orang yang jujur tampak rugi.
Orang yang pandai memainkan citra tampak hebat.
Orang yang diam-diam berbuat baik tidak masuk berita.
Karena itu, dunia sering keliru mengukur manusia.
Ia mengira kemenangan adalah bukti kebenaran.
Padahal orang bisa menang dengan cara yang sangat buruk.
Ia mengira kekalahan adalah bukti kebodohan.
Padahal orang bisa kalah karena menolak menjadi kejam.
Mychkine berada tepat di wilayah menyakitkan itu.
Ia bukan pemenang.
Tetapi justru karena itu ia menjadi pertanyaan.
Siapa yang Sebenarnya Idiot?
Inilah lelucon besar Dostoevsky.
Kita membaca novel berjudul L’Idiot sambil bertanya:
“Siapa sebenarnya yang idiot?”
Mychkine?
Atau masyarakat yang menganggap kasih sayang sebagai kelemahan?
Orang yang tidak pandai menipu?
Atau orang yang begitu mahir menipu sampai akhirnya tidak tahu lagi kapan dirinya sedang jujur?
Orang yang percaya kepada manusia?
Atau orang yang tidak percaya kepada siapa pun tetapi akhirnya hidup sendirian bersama kecurigaannya?
Pertanyaan ini menjadi semakin lucu di zaman sekarang.
Sebab kita memiliki teknologi untuk berbicara dengan jutaan orang, tetapi semakin sulit berbicara dengan orang di sebelah kita.
Kita memiliki ribuan teman digital, tetapi sedikit sekali manusia yang boleh melihat wajah kita ketika sedang gagal.
Kita bisa memblokir seseorang dalam satu detik, tetapi membutuhkan bertahun-tahun untuk memahami diri sendiri.
Dan kita menyebut semua itu kemajuan.
Mychkine mungkin hanya akan tersenyum.
“Kalau begitu,” katanya, “saya memang idiot.”
Mungkin Kita Memang Membutuhkan Sedikit Ke-“Idiot”-an
Barangkali yang ingin dikatakan L’Idiot bukanlah bahwa kita harus menjadi naif.
Dunia memang membutuhkan kecerdasan, kewaspadaan, batas diri, dan kemampuan membaca situasi.
Tetapi manusia juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan performance indicator: belas kasih.
Kita membutuhkan keberanian untuk tetap manusiawi meskipun dunia memberi insentif kepada kekejaman.
Kita membutuhkan kemampuan untuk percaya tanpa menjadi bodoh, memaafkan tanpa menjadi korban, dan mencintai tanpa menjadikan orang lain proyek penyelamatan.
Sebab kalau seluruh dunia menjadi sangat pintar dalam menghitung keuntungan, tetapi tidak ada lagi yang mau berbuat baik tanpa keuntungan, mungkin justru dunia itulah yang sedang mengalami kebodohan paling besar.
Maka mungkin “idiot” bukan selalu orang yang tidak memahami dunia.
Kadang “idiot” adalah orang yang memahami permainan, tetapi memilih tidak ikut bermain dengan aturan yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Dan itu tentu pilihan yang mahal.
Sebab di dunia transaksional, orang seperti Mychkine akan sering rugi.
Tidak apa-apa.
Barangkali ada kerugian tertentu yang justru menyelamatkan jiwa.
Dan ada kemenangan tertentu yang, setelah dirayakan, membuat kita malu melihat diri sendiri di cermin.
Jadi, sebelum buru-buru mengatakan kepada seseorang, “Jangan terlalu baik, nanti kamu dimanfaatkan,” mungkin kita perlu bertanya:
Jangan-jangan yang membuat dunia semakin kejam bukan karena terlalu banyak orang baik yang bodoh, melainkan karena terlalu banyak orang pintar yang merasa kebaikan adalah kebodohan?
Kalau begitu, Dostoevsky mungkin sedang bercanda dengan kita dari abad ke-19.
Ia memberi kita seorang “idiot” yang tidak berhasil menyelamatkan dunia.
Lalu diam-diam bertanya:
“Kalian yang merasa sangat pintar itu, sudah berhasil menyelamatkan kemanusiaan kalian sendiri?”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/07/2026 02:02:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.