Baca Kalau Mau, Jangan Kalau Terpaksa

Borges, Buku yang Membosankan, dan Kemerdekaan Pembaca

Ada orang yang membaca karena ingin tahu.

Ada yang membaca karena ingin bahagia.

Ada pula yang membaca karena sedang difoto.

Yang terakhir ini bukan fenomena kecil. Di zaman media sosial, buku kadang tidak lagi berfungsi sebagai sesuatu yang dibaca, melainkan sebagai properti fotografi. Buku diletakkan di meja, kopi diletakkan di sampingnya, kacamata diletakkan secara artistik, lalu kamera bekerja. Setelah itu muncul keterangan: “Weekend well spent.”

Padahal bukunya baru dibuka halaman tujuh.

Sisanya adalah perjuangan melawan kantuk.

Di tengah budaya semacam itu, sebuah gagasan yang dikaitkan dengan Jorge Luis Borges terasa seperti tamparan halus kepada dunia literasi yang terlalu serius: membaca tidak cocok dengan kalimat perintah.

Membaca bukan sesuatu yang bisa diteriakkan:

“Baca!”

Sebab kalau sudah diperintah, kegiatan itu berubah dari kenikmatan menjadi pekerjaan rumah.

Dan kita semua tahu, begitu sesuatu berubah menjadi pekerjaan rumah, bahkan buku paling indah pun bisa mendadak terasa seperti tagihan listrik.

Borges dan Kejahatan Bernama “Bacaan Wajib”

Ada satu gagasan yang sangat menarik dalam pemikiran Borges: membaca seharusnya merupakan tindakan bebas.

Kita tidak bisa memerintahkan seseorang untuk mencintai.

Kita juga tidak bisa memerintahkan seseorang untuk bermimpi.

Dan agaknya kita tidak bisa memerintahkan seseorang untuk membaca dengan sungguh-sungguh.

Kita memang bisa berkata:

“Baca buku ini!”

Tetapi yang tidak bisa kita perintahkan adalah:

“Nikmati buku ini!”

Nah, di situlah masalahnya.

Guru dapat memberikan tugas membaca seratus halaman. Orang tua dapat membelikan satu lemari buku. Teman dapat berkata, “Masa kamu belum baca buku ini?”

Tetapi tidak seorang pun dapat menjamin bahwa setelah halaman ke-37, pembaca tidak diam-diam menatap langit-langit sambil bertanya:

“Apakah hidup memang harus seperti ini?”

Borges memahami persoalan tersebut. Baginya, membaca bukan semata-mata kegiatan intelektual. Membaca adalah kenikmatan.

Karena itu, sebuah buku yang dianggap “penting” oleh seluruh dunia belum tentu penting bagi kita.

Dan sebuah buku yang dianggap remeh oleh orang lain bisa saja menjadi buku yang menyelamatkan kita dari kebosanan hidup.

Literatur, rupanya, tidak memiliki sistem demokrasi yang sempurna.

Buku yang mendapat seribu penghargaan belum tentu cocok dengan kita.

Sebaliknya, buku yang ditemukan secara tidak sengaja di rak tua bisa membuat kita merasa menemukan sahabat.

Jangan Memaksa Orang Membaca Dostoevsky

Misalnya saja ada seseorang yang baru mulai membaca.

Kita lalu datang dengan wajah seorang profesor:

“Kalau mau serius membaca, kamu harus membaca Dostoevsky.”

Dia bertanya:

“Mulai dari mana?”

“Kejahatan dan Hukuman.”

“Berapa halaman?”

“Sekitar enam ratus.”

Dia menelan ludah.

“Kalau belum siap?”

“Kamu harus membacanya.”

Akhirnya dia membaca.

Lima halaman pertama masih semangat.

Sepuluh halaman kemudian mulai menguap.

Tiga puluh halaman kemudian ia membuka media sosial.

Lima puluh halaman kemudian ia mulai berpikir bahwa mungkin Kejahatan dan Hukuman sebenarnya adalah hukuman bagi pembacanya.

Padahal masalahnya bukan Dostoevsky.

Masalahnya adalah kita mengira semua orang harus menikmati buku yang sama dengan cara yang sama.

Itulah yang hendak dibongkar oleh gagasan Borges.

Buku bukan obat yang dosisnya harus sama untuk semua orang.

Tidak ada resep:

“Minum dua bab sebelum tidur. Jika belum tercerahkan, tambah tiga halaman.”

Buku Klasik Tidak Otomatis Menjadi Teman Kita

Ada pula penyakit lain dalam dunia membaca: penghormatan berlebihan kepada buku klasik.

Begitu sebuah buku disebut “klasik”, sebagian orang langsung merasa bersalah kalau tidak menyukainya.

“Bagaimana mungkin kamu tidak suka?”

“Ini karya agung!”

“Ini sudah dibaca jutaan orang!”

“Ini memengaruhi sejarah sastra dunia!”

Semua benar.

Tetapi tetap saja ada kemungkinan kita tidak suka.

Dan itu tidak membuat kita menjadi orang bodoh.

Kita hanya sedang tidak cocok.

Sebab membaca bukan ujian masuk universitas.

Kalau kita tidak menikmati Marcel Proust, tidak berarti Proust harus diturunkan dari rak dan meminta maaf kepada kita.

Begitu pula kalau kita lebih menikmati novel ringan daripada karya filsafat setebal batu bata, dunia tidak akan runtuh.

Yang runtuh biasanya hanya gengsi kita.

Penyakit “Goodreads di Kepala”

Di zaman modern, tekanan membaca justru semakin aneh.

Dulu orang membaca buku.

Sekarang orang juga membaca daftar buku yang akan dibaca.

Lalu membuat daftar buku yang belum selesai dibaca.

Kemudian membuat daftar buku yang ingin dibaca setelah selesai membaca buku yang sedang dibaca.

Akhirnya kita memiliki:

TBR.

To Be Read.

Daftarnya panjang sekali.

Kadang lebih panjang daripada umur manusia.

Ada lima puluh buku di rak yang belum dibaca, tetapi kita tetap membeli lima buku baru karena diskon.

Alasannya:

“Ini investasi intelektual.”

Tentu.

Sama seperti membeli alat olahraga lalu menyimpannya di gudang adalah investasi kesehatan.

Kita merasa produktif karena memiliki buku.

Padahal memiliki buku dan membaca buku adalah dua cabang olahraga yang berbeda.

Rak buku kita semakin penuh.

Pengetahuan kita belum tentu.

Tetapi foto Instagram kita tampak sangat meyakinkan.

Membaca Bukan Perlombaan

Masalah terbesar budaya membaca modern adalah munculnya kompetisi yang sebenarnya tidak perlu.

“Aku sudah membaca 50 buku tahun ini.”

“Oh, aku 80.”

“Aku 120.”

Pada titik tertentu, membaca berubah menjadi olahraga lari.

Bedanya, pelari memperoleh medali.

Pembaca memperoleh thread.

Lalu muncul orang yang membaca 200 buku setahun.

Kita merasa gagal sebagai manusia karena baru menyelesaikan tiga.

Padahal mungkin tiga buku itu benar-benar mengubah hidupnya, sedangkan dua ratus buku orang lain hanya berhasil mengubah angka statistik.

Borges mengingatkan sesuatu yang sederhana:

Membaca bukan soal berapa banyak buku yang kita habiskan, tetapi apa yang kita rasakan ketika membacanya.

Satu halaman yang membuat kita berpikir bisa lebih berharga daripada seratus halaman yang kita lalui hanya demi mencentang daftar.

Daniel Pennac dan Hak untuk Tidak Membaca

Gagasan ini kemudian sangat terkenal melalui Daniel Pennac dalam Comme un roman.

Pennac bahkan berbicara tentang hak-hak pembaca, termasuk hak untuk tidak membaca, hak untuk melompati halaman, hak untuk tidak menyelesaikan buku, bahkan hak untuk membaca ulang.

Ini terdengar revolusioner hanya karena dunia pendidikan terlalu lama memperlakukan buku seperti kontrak kerja.

Kalau sudah mulai, harus selesai.

Kalau sudah dibeli, harus dibaca.

Kalau sudah dipinjam, harus dikembalikan.

Kalau sudah terkenal, harus disukai.

Padahal sebuah buku bukan pasangan hidup.

Kita boleh meninggalkannya.

Tidak perlu perceraian di pengadilan.

Cukup tutup bukunya.

Kalau suatu hari rindu, buka lagi.

Jangan Membaca Hanya Karena Semua Orang Membacanya

Ada godaan besar dalam media sosial untuk membaca apa yang sedang dibaca semua orang.

Seseorang mengunggah foto buku.

Sepuluh ribu orang menyukainya.

Kita membeli.

Seorang tokoh terkenal mengatakan buku itu mengubah hidupnya.

Kita membeli.

Seorang influencer berkata buku itu “wajib dibaca sebelum mati”.

Kita membeli.

Akhirnya rak kita penuh dengan buku yang katanya akan mengubah hidup kita.

Tetapi kehidupan tetap sama.

Tagihan tetap datang.

Macet tetap ada.

Tetangga tetap berisik.

Dan kita masih lupa menaruh kunci motor.

Mungkin karena buku itu memang tidak pernah dimaksudkan untuk menyelesaikan semua persoalan hidup.

Ia hanya menawarkan sebuah ruang.

Ruang untuk berpikir.

Ruang untuk berkhayal.

Ruang untuk merasa ditemani.

Dan kadang-kadang, ruang untuk melarikan diri sebentar dari kenyataan yang terlalu berisik.

Ada Buku yang Datang pada Waktu yang Tepat

Buku yang sama juga bisa memiliki makna berbeda pada usia berbeda.

Kita membaca sebuah novel pada umur dua puluh tahun dan tidak menemukan apa-apa.

Sepuluh tahun kemudian kita membacanya lagi.

Tiba-tiba kita berkata:

“Lho, ternyata buku ini bicara tentang saya.”

Bukan bukunya yang berubah.

Kitalah yang berubah.

Karena itu membaca tidak selalu membutuhkan kecepatan.

Ada buku yang memang harus dibaca perlahan.

Ada buku yang harus ditinggalkan dulu.

Ada buku yang baru bisa kita pahami setelah mengalami sesuatu dalam hidup.

Dan ada buku yang sejak halaman pertama sudah membuat kita sadar:

“Ini bukan buku saya.”

Tidak apa-apa.

Taruh kembali.

Buku tidak akan tersinggung.

Setidaknya sejauh yang kita tahu.

Membaca sebagai Kebahagiaan

Pada akhirnya, mungkin inilah inti gagasan Borges: membaca harus dikembalikan kepada kebahagiaan.

Bukan kepada kewajiban.

Bukan kepada gengsi.

Bukan kepada jumlah halaman.

Bukan kepada jumlah buku yang selesai dalam setahun.

Dan bukan pula kepada kebutuhan untuk terlihat pintar.

Membaca adalah perjumpaan pribadi antara manusia dan kata-kata.

Kadang kita membaca untuk memperoleh pengetahuan.

Kadang untuk memperoleh hiburan.

Kadang untuk memahami dunia.

Kadang untuk memahami diri sendiri.

Dan kadang-kadang kita membaca hanya karena malam terlalu panjang dan tidur belum datang.

Semua alasan itu sah.

Sebab membaca tidak perlu selalu menghasilkan kebijaksanaan.

Kadang-kadang hasilnya hanya:

“Wah, bagus sekali.”

Itu sudah cukup.

Epilog: Kalau Tidak Suka, Tutup Saja

Mungkin ada pelajaran yang agak berbahaya dari Borges bagi para guru, orang tua, kritikus sastra, dan influencer buku:

jangan terlalu cepat menyuruh orang membaca.

Sebab semakin keras kita berkata “Kamu harus membaca!”, semakin besar kemungkinan pembaca tersebut mengembangkan alergi terhadap buku.

Katakan saja:

“Kalau mau, coba baca.”

Lalu biarkan buku bekerja.

Kalau ia menemukan kebahagiaan, ia akan kembali.

Kalau tidak, biarkan ia pergi mencari buku lain.

Sebab barangkali tugas kita bukan membuat semua orang membaca buku yang sama.

Tugas kita adalah membantu orang menemukan buku yang membuat mereka ingin membaca lagi.

Dan mungkin itulah kebebasan paling indah yang bisa diberikan sebuah buku:

kita bebas membukanya, bebas menikmatinya, bebas meninggalkannya, dan—yang paling penting—bebas kembali kepadanya.

Sebab cinta, mimpi, dan membaca memang punya satu kesamaan:

Kalau dipaksa, semuanya kehilangan pesona.

Kalau datang dengan sukarela, semuanya bisa menjadi kebahagiaan.

Dan kalau ada yang bertanya,

“Buku apa yang wajib kamu baca?”

Jawaban paling Borges mungkin sederhana:

“Yang membuatmu ingin membacanya.”

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026

Baca Kalau Mau, Jangan Kalau Terpaksa Baca Kalau Mau, Jangan Kalau Terpaksa Reviewed by banyu bening Ajibarang on 10/08/2026 03:18:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list