Cinta Bisa Mengalahkan Segalanya, Kecuali Tagihan dan Sakit Gigi

Renungan tentang romantisme, kemiskinan, dan kenyataan hidup dalam cermin Marina Tsvetaeva

Ada pepatah romantis yang sudah beredar sejak manusia mengenal puisi, bunga mawar, dan kebiasaan meminjam uang kepada teman: cinta mengalahkan segalanya.

Kalimat ini terdengar begitu indah sampai-sampai kita ingin mempercayainya seumur hidup. Apalagi kalau dibacakan dengan suara lembut, ditemani musik piano, dan diucapkan seseorang yang sedang jatuh cinta. Rasanya, dunia ini milik berdua. Gunung bisa didaki, lautan bisa diseberangi, badai bisa dihadapi, bahkan mertua yang galak pun mungkin bisa diluluhkan.

Tetapi tunggu dulu.

Coba tanyakan kepada pasangan muda yang uang belanjanya tinggal dua puluh ribu rupiah, sementara tanggal gajian masih sepuluh hari lagi. Apakah cinta masih mampu mengalahkan segalanya?

Mungkin mampu. Mereka bisa saling berpegangan tangan, menatap mata masing-masing, lalu berkata, “Sayang, kita pasti bisa melewati ini.”

Setelah itu, keduanya menatap sebungkus mi instan dengan penuh harapan.

Cinta memang luar biasa. Namun, mi instan tidak bisa dimasak hanya dengan ketulusan. Tetap diperlukan air, kompor, dan sedikit keberuntungan agar gas tidak habis di tengah proses memasak.

Di sinilah romantisme mulai berhadapan dengan akuntansi.

Ketika Puisi Bertemu Tukang Kontrakan

Ada kutipan yang dinisbatkan kepada penyair Rusia, Marina Tsvetaeva, yang kira-kira berbunyi: cinta mampu mengalahkan segala sesuatu, kecuali kemiskinan dan sakit gigi.

Kita perlu berhati-hati: keaslian kutipan tersebut belum dapat dipastikan. Namun, gagasannya terasa begitu masuk akal sehingga kita hampir ingin mengirimkan honorarium kepada orang yang pertama kali mengucapkannya.

Tsvetaeva sendiri bukan penyair yang hidup di menara gading, jauh dari penderitaan. Hidupnya diwarnai gejolak sejarah, pengasingan, kehilangan, dan kesulitan ekonomi. Ia mengenal kenyataan bahwa kehidupan manusia tidak selalu berjalan mengikuti irama puisi.

Barangkali karena itulah gagasan tentang batas-batas cinta terasa begitu manusiawi.

Cinta bisa membuat seseorang rela berjalan kaki berkilo-kilometer demi bertemu kekasih. Tetapi ketika pulang, ia tetap membutuhkan ongkos atau setidaknya sandal yang tidak jebol.

Cinta bisa membuat suami berkata kepada istrinya, “Aku akan selalu membahagiakanmu.”

Namun, kalimat itu akan terdengar sedikit berbeda ketika pemilik kontrakan mengetuk pintu sambil membawa buku catatan tunggakan tiga bulan.

“Mas, saya percaya cinta Mas kepada istri. Tapi saya juga punya cinta kepada uang sewa.”

Begitulah kehidupan. Setiap orang memiliki bahasa cintanya sendiri. Ada yang mengungkapkan cinta melalui bunga, ada yang melalui puisi, dan ada pula yang melalui transfer tepat waktu.

Yang terakhir ini mungkin tidak terlalu puitis, tetapi cukup ampuh mencegah pertengkaran rumah tangga.

Sakit Gigi: Musuh Bebuyutan Para Filsuf

Kalau kemiskinan masih bisa dibicarakan dengan bahasa ekonomi, sakit gigi adalah perkara yang lebih demokratis. Ia tidak peduli apakah seseorang kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak tamat sekolah, romantis atau bahkan tidak percaya pada cinta.

Begitu gigi berdenyut pada pukul dua dini hari, seluruh filsafat kehidupan mendadak kehilangan daya tariknya.

Orang yang kemarin mengutip Nietzsche, Camus, dan Rumi bisa berubah menjadi manusia paling sederhana di muka bumi.

“Ya Allah, semoga pagi segera datang.”

Tak ada lagi perdebatan tentang eksistensialisme. Tak ada lagi pembahasan mengenai makna penderitaan. Bahkan persoalan apakah cinta merupakan konstruksi sosial atau kebutuhan biologis terasa kurang penting dibandingkan pertanyaan: klinik gigi mana yang buka pagi-pagi?

Bayangkan seorang penyair sedang jatuh cinta. Ia menulis:

Di matamu kutemukan semesta, di senyummu kutemukan cahaya, di dekatmu seluruh luka terasa sirna.

Lalu mendadak giginya berdenyut.

Puisi berikutnya menjadi jauh lebih pendek:

Sayang, tolong carikan dokter gigi.

Inilah kejujuran tubuh. Jiwa boleh melayang ke langit ketujuh, tetapi gigi tetap tertanam di rahang. Dan kalau ia bermasalah, kita tidak bisa menyelesaikannya dengan membaca kumpulan puisi cinta sambil berharap saraf gigi tersentuh oleh keindahan metafora.

Kadang-kadang, yang dibutuhkan bukan pencerahan spiritual, melainkan pemeriksaan dokter gigi.

Tentu saja, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Kita boleh berdoa sambil membuat janji pemeriksaan. Tuhan tidak pernah mensyaratkan agar manusia memilih antara tawakal dan menjaga kesehatan gigi.

Cinta Itu Kuat, tetapi Bukan Tukang Sulap

Masalahnya, budaya populer sering menjual cinta sebagai obat untuk segala penyakit kehidupan.

Kalau miskin, yang penting saling mencintai. Kalau berbeda pendapat, yang penting saling mencintai. Kalau pasangan tidak bertanggung jawab, yang penting saling mencintai. Kalau salah satu terus-menerus menyakiti yang lain, konon cinta sejati harus bersabar.

Lama-lama, cinta diperlakukan seperti kartu sakti yang bisa dipakai untuk membatalkan semua kewajiban.

Suami tidak bekerja? “Yang penting cinta.”

Istri kelelahan mengurus rumah sendirian? “Yang penting cinta.”

Uang belanja habis untuk hal yang tidak perlu? “Yang penting cinta.”

Tagihan listrik datang? Nah, pada bagian ini, cinta biasanya mulai berunding dengan kenyataan.

Padahal, cinta yang sehat bukanlah kemampuan untuk menanggung penderitaan tanpa batas. Cinta justru semestinya mendorong manusia untuk memperbaiki keadaan, berbagi beban, dan tidak menjadikan pengorbanan satu pihak sebagai fasilitas gratis bagi pihak lainnya.

Mencintai orang miskin bukan berarti kita harus menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang indah. Mencintai seseorang yang sedang sakit juga bukan berarti kita harus menolak pengobatan demi membuktikan kesetiaan.

Cinta memberi alasan untuk bertahan, tetapi juga memberi keberanian untuk mencari jalan keluar.

Kalau pasangan sedang kesulitan ekonomi, cinta yang baik tidak berhenti pada kalimat, “Aku menerima kamu apa adanya.”

Ia berlanjut dengan pertanyaan, “Apa yang bisa kita lakukan bersama?”

Kalau pasangan sedang sakit, cinta tidak cukup berkata, “Aku ikut merasakan sakitmu.”

Sesekali, cinta perlu berkata, “Ayo, kita ke dokter. Biayanya kita pikirkan bersama.”

Sebab cinta bukan tukang sulap. Ia tidak bisa mengubah udara menjadi nasi, air mata menjadi uang belanja, atau rasa sakit menjadi sembuh hanya dengan pelukan.

Tetapi cinta bisa membuat dua orang berhenti saling menyalahkan dan mulai mencari solusi. Itu pun sudah merupakan keajaiban yang cukup besar.

Romantis Boleh, Realistis Jangan Dilarang

Ada yang khawatir bahwa terlalu realistis akan membuat cinta kehilangan keindahannya.

Menurut saya, justru sebaliknya.

Romantisme tanpa kenyataan sering kali hanya menghasilkan janji-janji yang terdengar merdu, tetapi sulit dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, cinta yang berani melihat kenyataan bisa tumbuh menjadi hubungan yang lebih dewasa.

Bayangkan dua orang yang sedang jatuh cinta.

Yang pertama berkata, “Aku akan membawamu ke ujung dunia.”

Yang kedua berkata, “Aku ingin hidup bersamamu. Kita perlu menabung, menjaga kesehatan, membagi pekerjaan rumah, dan belajar menyelesaikan masalah tanpa saling merendahkan.”

Kalimat pertama cocok untuk film romantis. Kalimat kedua mungkin kurang laku dijadikan kutipan di media sosial, tetapi lebih menjanjikan untuk kehidupan setelah pesta pernikahan selesai.

Toh, rumah tangga tidak hanya berisi matahari terbenam, perjalanan ke pantai, dan foto berdua dengan keterangan forever and always.

Ada cucian yang menumpuk, saluran air tersumbat, anak yang demam, harga kebutuhan pokok yang naik, dan pertanyaan abadi: siapa yang terakhir kali menghabiskan isi galon?

Di tengah semua itu, cinta tidak harus selalu tampil dalam bentuk puisi.

Kadang-kadang, cinta adalah suami yang bangun lebih pagi untuk memasak. Cinta adalah istri yang mengingatkan jadwal pemeriksaan kesehatan. Cinta adalah kesediaan membicarakan utang tanpa saling mempermalukan. Cinta adalah dua orang yang tetap menghormati satu sama lain ketika keadaan tidak sedang bersahabat.

Dan, tentu saja, cinta adalah seseorang yang bersedia menemani kita ke dokter gigi, meskipun ia sendiri paling takut melihat alat-alat kedokteran.

Kemiskinan Tidak Romantis, tetapi Bisa Dihadapi Bersama

Ada perbedaan besar antara mengatakan bahwa cinta tidak cukup untuk mengatasi kemiskinan dan mengatakan bahwa cinta tidak berguna ketika seseorang miskin.

Yang pertama merupakan pengakuan terhadap kenyataan. Yang kedua merupakan penghinaan terhadap harapan.

Cinta tidak otomatis menghasilkan pekerjaan, memperluas kesempatan, atau menghapus ketimpangan. Kita tetap membutuhkan pendidikan, keterampilan, kebijakan yang adil, kesempatan ekonomi, dan dukungan sosial.

Namun, cinta bisa menjadi alasan seseorang terus berusaha ketika keadaan terasa berat. Ia dapat menghadirkan rasa aman, solidaritas, dan keyakinan bahwa kesulitan tidak harus ditanggung sendirian.

Hanya saja, kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan cinta sebagai alasan untuk memuliakan penderitaan.

Orang miskin tidak harus dipuji karena mampu bertahan dalam kekurangan apabila sebenarnya ia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Pasangan yang hidup sederhana tidak perlu merasa gagal hanya karena belum mampu membeli rumah sendiri. Tetapi mereka juga tidak perlu berpura-pura bahwa tagihan yang menumpuk adalah bagian indah dari kisah cinta.

Kesederhanaan bisa menjadi pilihan yang membahagiakan. Kemiskinan yang memaksa orang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar adalah persoalan yang perlu diatasi.

Keduanya tidak sama, meskipun sering dibungkus dengan keterangan foto: Bahagia itu sederhana.

Benar, bahagia memang bisa sederhana. Tetapi kesederhanaan akan terasa lebih nikmat jika bukan akibat tidak punya pilihan.

Cinta Tidak Mengalahkan Segalanya, tetapi Membuat Kita Tidak Sendirian

Mungkin inilah pelajaran paling masuk akal dari kutipan yang dinisbatkan kepada Marina Tsvetaeva tersebut.

Cinta tidak perlu dibebani tugas untuk mengalahkan seluruh alam semesta. Ia tidak harus menjadi obat untuk setiap luka, mesin pencetak uang, sekaligus dokter spesialis gigi.

Cinta sudah memiliki pekerjaan yang cukup mulia: membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Ia tidak selalu bisa menghilangkan kemiskinan, tetapi dapat mendorong kita bekerja sama untuk keluar darinya. Ia tidak selalu mampu menghapus rasa sakit, tetapi dapat membuat seseorang merasa ditemani ketika sedang menderita.

Dan ketika semua puisi cinta sudah dibacakan, semua janji sudah diucapkan, sementara gigi tetap berdenyut tanpa kompromi, cinta dapat mengambil bentuk paling sederhana: mengantar pasangan ke klinik, menunggu di ruang pemeriksaan, lalu membayar obat sesuai kemampuan.

Mungkin itu bukan adegan yang akan membuat sutradara film romantis terharu. Tidak ada hujan buatan, biola, atau pelukan dramatis di bawah lampu jalan.

Tetapi justru di situlah cinta menjadi nyata.

Sebab pada akhirnya, cinta bukan kemampuan untuk mengalahkan semua masalah, melainkan kesediaan untuk tidak meninggalkan seseorang sendirian ketika masalah datang.

Dan jika suatu hari kita mendengar seseorang berkata bahwa cinta mengalahkan segalanya, kita tidak perlu langsung membantahnya.

Cukup tanyakan dua hal dengan sopan:

“Apakah tagihan kontrakan sudah dibayar?”

“Kalau gigi sakit, kliniknya di mana?”

Jika keduanya sudah ada jawabannya, romantisme boleh dilanjutkan.

Kalau belum, tidak apa-apa. Cinta masih bisa menunggu sebentar.

Tetapi sakit gigi, sebagaimana kita ketahui bersama, bukan tipe makhluk yang suka menunggu.

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026

Cinta Bisa Mengalahkan Segalanya, Kecuali Tagihan dan Sakit Gigi Cinta Bisa Mengalahkan Segalanya, Kecuali Tagihan dan Sakit Gigi Reviewed by banyu bening Ajibarang on 10/18/2026 02:54:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list