Lermontov: Jenius yang Keburu Dipanggil Tuhan, Membuat Tolstoy dan Dostoyevsky Kebagian Panggung
Ketika Bintang Sastra Rusia Jatuh Sebelum Sempat Mengurus Royalti
Ada sebuah ketidakadilan dalam kehidupan yang jarang dibicarakan secara serius: orang berbakat sering kali tidak diberi umur panjang, sedangkan orang yang gemar berbicara tanpa isi justru bisa hidup sampai sempat mengulang cerita yang sama kepada tujuh generasi cucunya.
Sejarah sastra Rusia abad ke-19 menyimpan kisah menyedihkan tentang dua jenius yang meninggal terlalu muda. Aleksandr Pushkin tewas dalam duel pada usia 37 tahun, sementara Mikhail Lermontov menyusul dengan cara serupa pada usia 26 tahun. Keduanya pergi sebelum sempat menuntaskan seluruh kemungkinan yang tersimpan dalam kepala mereka.
Kalau dipikir-pikir, sastra Rusia zaman itu memang punya masalah serius dengan urusan umur panjang. Para penulisnya tidak hanya berkelahi dengan ide, masyarakat, dan Tuhan, tetapi kadang-kadang juga dengan sesama manusia yang kebetulan membawa pistol.
Di negeri lain, penulis mungkin berseteru melalui surat terbuka, kritik sastra, atau ulasan pedas di koran. Di Rusia abad ke-19, perdebatan tertentu bisa berakhir dengan seseorang terbaring di tanah, sementara yang lain pulang membawa penyesalan dan kemungkinan besar reputasi yang makin buruk.
Lermontov sendiri tampaknya belum sempat menikmati usia ketika seorang pengarang mulai merasa pantas disebut maestro, menerima undangan kehormatan, dan memandang rendah penulis muda yang dianggap kurang berbakat.
Ia keburu mati pada usia 26 tahun.
Usia ketika banyak orang sekarang masih bingung menentukan jalan hidup, mengganti pekerjaan setiap dua tahun, atau sibuk membuat utas tentang lima kebiasaan orang sukses. Lermontov pada umur yang sama sudah meninggalkan karya-karya yang membuat para pembaca sastra berabad-abad kemudian masih sibuk membicarakan dirinya.
Barangkali inilah bukti bahwa produktivitas manusia memang tidak bisa diukur berdasarkan jumlah tahun yang dihabiskan untuk mengeluh tentang kehidupan.
1. Lermontov: Pemuda yang Tidak Sempat Tua, tetapi Sudah Keburu Mendalam
Mikhail Lermontov menulis novel A Hero of Our Time ketika usianya masih sekitar 23–24 tahun. Tokoh utamanya, Grigory Pechorin, adalah manusia yang rumit: cerdas, sinis, gelisah, dan tampaknya terlalu bosan untuk menikmati kehidupan yang sebenarnya masih terbuka lebar di hadapannya.
Pechorin merupakan jenis manusia yang kalau hidup pada zaman sekarang mungkin akan sering mengunggah kalimat seperti:
"Aku tidak membenci manusia. Aku hanya kecewa pada kualitas percakapan mereka."
Lima menit kemudian, ia mengunggah kutipan tentang kesepian, lalu memeriksa berulang kali siapa saja yang menyukai unggahannya.
Pechorin bukan sekadar pemuda yang sedang galau. Ia adalah gambaran manusia yang memiliki kemampuan memahami kelemahan orang lain, tetapi tidak selalu sanggup memahami dirinya sendiri. Ia bisa membedah motif orang lain dengan ketajaman seorang ahli bedah, tetapi ketika diminta menjelaskan mengapa dirinya sendiri menderita, ia mungkin hanya mengangkat bahu dan berkata, "Memang begitulah kehidupan."
Manusia seperti ini tidak pernah kekurangan pengikut di media sosial.
Bedanya, Pechorin hidup pada abad ke-19 dan menumpahkan kegelisahannya ke dalam sastra. Para pengikutnya pada abad ke-21 cukup menulis, "Aku sudah berada di fase tidak ingin menjelaskan apa-apa kepada siapa pun," kemudian menambahkan musik sedih sebagai latar.
Lermontov sudah memahami persoalan manusia modern jauh sebelum manusia modern menemukan Wi-Fi.
Ia melihat bahwa manusia bisa memiliki kecerdasan tinggi tanpa kebahagiaan, kebebasan tanpa ketenangan, dan banyak kesempatan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Kalau saja Lermontov hidup sekarang, mungkin ia tidak perlu bersusah payah mencari bahan novel. Cukup membuka kolom komentar di internet selama lima belas menit.
Namun, kita patut bersyukur ia hidup pada zaman ketika kegelisahan masih bisa diolah menjadi karya sastra, bukan sekadar menjadi konten bersambung dengan judul Healing dari Luka yang Tak Terlihat.
2. Kutipan Tolstoy: Kalau Lermontov Tidak Mati, Apakah Tolstoy dan Dostoyevsky Akan Menganggur?
Akun @AdabRuss mengangkat sebuah kutipan yang konon berasal dari Leo Tolstoy:
"Kalau pemuda itu tidak mati terlalu dini, maka tidak akan ada aku maupun Dostoyevsky."
Kutipan ini perlu diperlakukan dengan hati-hati karena keaslian dan konteks historisnya tidak dapat dianggap pasti hanya berdasarkan pengulangan di media sosial. Namun, sebagai bahan renungan, kalimat tersebut sungguh menarik.
Bayangkan seorang raksasa sastra seperti Tolstoy mengakui bahwa Lermontov mungkin memiliki potensi yang begitu besar sehingga dirinya dan Dostoyevsky tidak akan mendapatkan tempat yang sama dalam sejarah sastra.
Ini seperti seorang juara dunia yang berkata, "Seandainya anak itu tidak meninggal muda, mungkin saya tidak akan pernah menjadi juara."
Tentu saja, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa Lermontov pasti lebih hebat daripada Tolstoy dan Dostoyevsky. Sastra bukan pertandingan lari yang hasilnya dapat ditentukan dengan melihat siapa yang mencapai garis finis terlebih dahulu.
Tidak ada wasit yang berdiri di antara rak-rak buku sambil mengangkat papan skor:
Lermontov: 98 poin.
Dostoyevsky: 95 poin.
Tolstoy: 93 poin.
Pemenang mendapatkan medali emas, sementara yang kalah diwajibkan menulis satu novel tambahan.
Kehebatan sastra tidak bekerja seperti itu. Tolstoy memiliki keluasan pandangan sosial dan moral yang luar biasa. Dostoyevsky menggali jurang psikologis, spiritual, dan filosofis manusia dengan intensitas yang khas. Sementara Lermontov telah memperlihatkan kemampuan istimewa dalam membedah alienasi, ironi, dan konflik batin manusia pada usia yang sangat muda.
Ketiganya memiliki keistimewaan masing-masing.
Tetapi, mari kita izinkan imajinasi berjalan sedikit lebih jauh.
Seandainya Lermontov hidup sampai usia 60 atau 70 tahun, mungkin ia akan menghasilkan novel-novel yang mengubah sejarah sastra Rusia. Mungkin Tolstoy akan memiliki pesaing yang jauh lebih tangguh. Mungkin Dostoyevsky harus bekerja lebih keras untuk menemukan wilayah psikologis yang belum dijelajahi pendahulunya.
Atau mungkin mereka justru saling mengagumi, bertukar pikiran, lalu menulis karya-karya yang semakin memperkaya sastra Rusia.
Sayangnya, sejarah tidak menyediakan tombol undo.
Kita tidak bisa kembali ke tahun 1841, meminta Lermontov menunda duel, lalu mengingatkannya bahwa dunia masih membutuhkan beberapa ribu halaman tulisan darinya.
Seandainya bisa, barangkali seseorang akan berteriak dari kejauhan:
"Wahai Lermontov! Simpan dulu pistolmu! Tolstoy dan Dostoyevsky belum selesai menulis!"
Namun, sejarah tidak memiliki layanan pelanggan yang dapat dihubungi ketika seorang jenius meninggal terlalu dini.
3. Pushkin Sudah Pergi, Lermontov Menyusul: Sastra Rusia Kehilangan Dua Bintang
Kematian Pushkin pada 1837 meninggalkan luka mendalam dalam kehidupan sastra Rusia. Lermontov meresponsnya melalui puisi Death of a Poet, sebuah karya yang bukan hanya menyuarakan duka, tetapi juga kemarahan terhadap keadaan yang mengitari kematian sang penyair.
Puisi itu memperlihatkan bahwa Lermontov bukan sekadar pengagum Pushkin. Ia memiliki suara sendiri, keberanian sendiri, dan kemampuan untuk mengubah kesedihan menjadi pernyataan yang mengguncang.
Namun, empat tahun setelah kematian Pushkin, Lermontov sendiri tewas dalam duel pada 1841.
Kalau kehidupan sastra Rusia merupakan sebuah pertunjukan teater, keadaan ini sungguh menyebalkan.
Baru saja penonton kehilangan pemeran utama, seorang pemain muda tampil mengambil alih panggung. Penampilannya menjanjikan, dialognya tajam, dan penonton mulai berharap pertunjukan akan berlangsung lebih lama.
Tiba-tiba, tirai ditutup lagi.
Penonton pun bertanya kepada pengelola teater, "Maaf, pertunjukannya baru mulai. Mengapa sudah selesai?"
Pengelola menjawab, "Pemeran utamanya meninggal."
"Kalau begitu, siapa yang akan melanjutkan cerita?"
"Entahlah. Kita tunggu saja generasi berikutnya."
Untungnya, sastra Rusia tidak benar-benar kehilangan panggungnya. Tolstoy, Dostoyevsky, Turgenev, dan penulis-penulis lain kemudian mengembangkan tradisi sastra yang luar biasa kaya.
Tetapi, kehadiran mereka tidak menghapus pertanyaan tentang apa yang mungkin dihasilkan Lermontov.
Justru karena sastra Rusia kemudian mencapai puncak kejayaannya, kehilangan Lermontov terasa semakin menyakitkan. Kita dapat melihat betapa luasnya wilayah yang berhasil dijelajahi oleh para penerusnya, lalu membayangkan betapa jauh Lermontov mungkin dapat melangkah jika diberi kesempatan yang sama.
Ia sudah menunjukkan kemampuannya dalam novel A Hero of Our Time, puisi naratif Demon dan Mtsyri, serta puisi-puisi liris yang memperlihatkan pergulatan batin dan semangat pemberontakan.
Ia bukan penulis yang baru akan mulai menunjukkan bakatnya jika diberi umur panjang.
Ia sudah membuktikan bakatnya ketika umurnya masih pendek.
Itulah yang membuat kehilangan ini terasa begitu besar.
4. Empat Tahun Berkarya Serius, tetapi Warisannya Bertahan Berabad-abad
Ada orang yang membutuhkan puluhan tahun untuk menemukan gaya menulisnya. Ada pula yang menghabiskan separuh hidup untuk mencari tema yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Lermontov tampaknya tidak membutuhkan waktu selama itu untuk memperlihatkan kemampuannya.
Dalam rentang hidup yang hanya 26 tahun, dengan masa produktivitas sastra matang yang relatif singkat, ia meninggalkan karya-karya yang terus dibaca, ditafsirkan, dan diperdebatkan.
Bandingkan dengan manusia zaman sekarang yang terkadang menghabiskan empat tahun untuk membangun citra sebagai pemikir besar, tetapi belum menghasilkan satu gagasan yang benar-benar menjadi miliknya.
Ia sudah memiliki foto hitam-putih, kutipan berbahasa Latin, latar musik klasik, dan pengikut yang menyebutnya filsuf.
Sayangnya, ketika ditanya apa isi pemikirannya, jawabannya hanya, "Kita semua sedang berproses."
Tentu saja, berproses itu penting. Namun, proses yang berlangsung selama empat tahun tanpa hasil kadang-kadang bukan proses kreatif, melainkan sekadar kebiasaan menunda dengan penampilan yang lebih intelektual.
Lermontov tidak sempat membangun merek pribadi. Ia tidak memiliki akun media sosial untuk mengumumkan bahwa dirinya sedang menulis karya monumental. Ia tidak perlu membuat unggahan tentang kedalaman jiwa agar pembaca menganggapnya mendalam.
Karyanya sendiri yang berbicara.
Ironisnya, dua abad kemudian, namanya justru kembali beredar melalui media sosial. Orang-orang mengutipnya, mengaguminya, dan mendiskusikan potensi yang tidak sempat berkembang.
Teknologi telah berubah. Cara manusia mengagumi penulis juga berubah. Namun, satu hal tetap sama: kita selalu tertarik pada orang yang tampaknya menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang sempat mereka berikan kepada dunia.
Mungkin karena kita sendiri ingin percaya bahwa manusia tidak sepenuhnya dapat diukur berdasarkan hasil yang sudah dicapainya.
Ada potensi yang tidak pernah menjadi kenyataan, tetapi tetap terasa nyata dalam imajinasi kita.
5. Kutipan Apokrifa dan Bisnis Menjadi Bijaksana di Internet
Kisah Lermontov juga mengingatkan kita pada kebiasaan media sosial yang sangat menarik: setiap pemikiran bagus tampaknya harus memiliki pemilik terkenal.
Kalau ada kalimat yang terdengar bijaksana, seseorang akan segera bertanya, "Ini kata siapa?"
Jika jawabannya orang biasa, mungkin kalimat itu hanya memperoleh dua tanda suka dan satu komentar dari teman dekat.
Tetapi jika kalimat yang sama ditempelkan pada nama Tolstoy, Dostoyevsky, Nietzsche, atau Einstein, mendadak ia memiliki aura kebijaksanaan yang luar biasa.
Kalimatnya tidak berubah. Yang berubah hanya nama di bawahnya.
Inilah keajaiban pemasaran intelektual.
Sebuah kalimat sederhana bisa naik kelas hanya dengan mengenakan jas milik seorang filsuf.
Misalnya, seseorang menulis:
"Manusia sering kali tidak menyadari betapa berharganya sesuatu sampai ia kehilangannya."
Kalimat itu mungkin dianggap biasa.
Namun, tambahkan keterangan "— Fyodor Dostoyevsky" dan latar gambar seorang pria berjanggut menatap hujan dari jendela, maka kalimat tersebut mendadak tampak seperti hasil pergulatan batin selama tiga puluh tahun.
Padahal, bisa saja penulisnya baru memikirkannya ketika kehilangan sandal di masjid.
Karena itu, kutipan tentang Tolstoy dan Lermontov perlu diperiksa asal-usulnya. Mengagumi gagasannya tidak berarti kita harus menerima atribusinya tanpa pertanyaan.
Kita boleh menikmati keindahan sebuah kalimat sekaligus memeriksa apakah orang yang namanya tercantum di bawahnya benar-benar pernah mengucapkannya.
Mengagumi sastra tidak mengharuskan kita menangguhkan akal sehat.
Sebaliknya, kecintaan pada sastra semestinya membuat kita semakin menghargai kebenaran, konteks, dan ketelitian.
Sebab, jika setiap kalimat indah boleh ditempelkan pada siapa saja, lama-lama Tolstoy akan dianggap menulis seluruh kebijaksanaan dunia, termasuk petuah tentang diet, investasi saham, dan cara mengatasi pasangan yang suka menghilang tanpa kabar.
Barangkali pada akhirnya, Tolstoy sendiri akan mengajukan keberatan.
Bukan karena kalimat-kalimat itu buruk, melainkan karena ia sudah cukup sibuk menulis War and Peace tanpa harus bertanggung jawab atas semua status bijak di internet.
6. Yang Paling Menyedihkan Bukan Karya yang Hilang, Melainkan Karya yang Tak Pernah Lahir
Ada sebuah gagasan menyentuh dalam balasan @RaedYounis5 terhadap unggahan tersebut: ketika seseorang yang berbakat meninggal terlalu dini, kita tidak hanya berduka atas apa yang telah ditinggalkannya, tetapi juga atas segala sesuatu yang mungkin ditulisnya dan tidak pernah terwujud.
Inilah bagian paling menyedihkan dari kisah Lermontov.
Kita dapat membaca A Hero of Our Time. Kita dapat menikmati puisi-puisinya. Kita dapat mempelajari bagaimana ia memahami manusia dan zamannya.
Tetapi kita tidak akan pernah membaca novel yang mungkin ditulisnya pada usia 40 tahun.
Kita tidak akan mengetahui bagaimana pemikirannya berubah ketika ia mengalami kegagalan, kehilangan, cinta yang matang, atau kekecewaan yang lebih rumit daripada kegelisahan seorang pemuda.
Kita tidak akan mengetahui apakah ia akan menjadi semakin bijaksana, semakin sinis, atau justru semakin jenaka dalam memandang kehidupan.
Mungkin pada usia 50 tahun ia akan menulis novel tentang seorang pejabat yang menghabiskan hidup untuk mengejar kehormatan, tetapi baru menyadari pada akhir hayatnya bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Mungkin ia akan menulis tentang seorang bangsawan yang memiliki segalanya kecuali ketenangan.
Mungkin ia akan menciptakan tokoh yang begitu rumit sehingga para kritikus membutuhkan puluhan tahun untuk menyepakati apakah tokoh itu seorang pemberontak, korban keadaan, atau sekadar manusia yang terlalu pandai mencari alasan untuk tidak bahagia.
Kita tidak tahu.
Dan justru karena tidak tahu, imajinasi kita terus bekerja.
Karya yang sudah selesai dapat dibaca dan dinilai. Karya yang tidak pernah lahir tidak memiliki batas. Ia dapat menjadi apa saja dalam pikiran kita.
Di sinilah tragedi Lermontov bertemu dengan keindahan yang aneh: ketidakselesaian hidupnya membuat kemungkinan-kemungkinannya terus hidup.
Namun, jangan sampai kita terlalu romantis sampai lupa bahwa kematian dini bukanlah syarat untuk menjadi jenius. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak penyair yang meninggal dalam duel demi membuktikan kehebatan mereka.
Kita justru berharap para penulis berbakat diberi umur panjang agar dapat menyelesaikan pekerjaan mereka, merevisi kesalahan, mengubah pandangan, dan menertawakan gagasan-gagasan mereka sendiri yang dahulu dianggap sangat agung.
Jenius juga berhak menjadi tua.
Bahkan, jenius mungkin perlu hidup cukup lama untuk menyadari bahwa tidak semua masalah kehidupan membutuhkan sebuah novel tebal.
Sebagian cukup diselesaikan dengan meminta maaf.
Sebagian lagi cukup dengan tidur nyenyak.
Dan sebagian lainnya, terutama yang melibatkan media sosial, mungkin sebaiknya tidak perlu ditanggapi sama sekali.
7. Bintang Jatuh yang Membuat Kita Menengadah
Lermontov meninggal pada usia 26 tahun, tetapi namanya bertahan jauh melampaui usia manusia biasa.
Ia tidak sempat menjadi Tolstoy yang menua, tidak sempat menjadi Dostoyevsky yang terus menggali kedalaman jiwa manusia, dan tidak sempat menyaksikan bagaimana sastra Rusia berkembang menjadi salah satu tradisi sastra terbesar di dunia.
Namun, ia telah meninggalkan sesuatu yang tidak dapat dibatalkan oleh waktu: karya-karya yang membuktikan bahwa kehidupan yang singkat tidak selalu menghasilkan warisan yang kecil.
Tentu saja, kita tidak dapat memastikan bahwa Lermontov akan melampaui Tolstoy dan Dostoyevsky seandainya ia hidup lebih lama. Itu adalah wilayah spekulasi, bukan kesimpulan sejarah.
Tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah menunjukkan potensi luar biasa yang membuat pertanyaan tersebut layak diajukan.
Dan mungkin kita tidak perlu mencari jawaban final.
Sebab, dalam kehidupan manusia, tidak semua pertanyaan harus berakhir dengan peringkat, medali, atau keputusan tentang siapa yang paling hebat.
Kadang-kadang, pertanyaan itu cukup membuat kita berhenti sejenak dan menyadari betapa banyak kemungkinan yang bisa hilang hanya karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Lermontov seperti bintang jatuh di langit sastra Rusia. Ia melintas sebentar, meninggalkan cahaya yang membuat orang-orang menengadah, lalu menghilang sebelum siapa pun sempat memastikan seberapa terang sebenarnya ia dapat bersinar.
Sementara itu, kita yang masih hidup sering kali terlalu sibuk menghitung usia, membandingkan pencapaian, dan mengkhawatirkan apakah nama kita akan dikenang setelah meninggal.
Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa lama kita hidup atau seberapa tinggi kita berdiri di antara orang-orang terkenal.
Melainkan: apa yang kita lakukan dengan waktu yang benar-benar kita miliki?
Sebab, ada orang yang hidup 80 tahun tetapi hanya mengulang kebiasaan yang sama. Ada orang yang hidup 60 tahun dan meninggalkan karya besar. Ada pula yang hidup 26 tahun, lalu membuat manusia dua abad kemudian masih bertanya-tanya tentang semua hal yang tidak sempat dilakukannya.
Barangkali itulah pelajaran paling jenaka sekaligus paling getir dari Lermontov: kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan kita.
Jadi, kalau hari ini kita mempunyai gagasan yang bagus, barangkali ada baiknya segera menuliskannya.
Jangan menunggu sampai suasana hati sempurna, kopi mencapai suhu ideal, atau jumlah pengikut bertambah.
Dan, demi keselamatan bersama, jangan menunggu sampai ada orang yang menantang kita berduel.
Lermontov sudah membuktikan bahwa waktu bisa sangat kejam terhadap bakat yang belum selesai berkembang.
Adapun kita, yang mungkin tidak memiliki bakat sebesar dirinya, setidaknya masih memiliki kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Itu pun, kalau kita berhenti sebentar menggulir layar ponsel.
Karena siapa tahu, di antara jutaan manusia yang sedang sibuk membagikan kutipan bijak tentang kehidupan, ada seseorang yang sebenarnya memiliki sebuah mahakarya di kepalanya.
Sayangnya, mahakarya itu belum juga ditulis karena pemiliknya masih sibuk mencari tahu apakah kutipan tentang Lermontov tadi benar-benar berasal dari Tolstoy.
Dan begitulah: sang bintang jatuh telah lama menghilang, tetapi kita yang masih berdiri di bawah langit justru sibuk memperdebatkan siapa yang paling berhak menceritakan cahayanya.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/17/2026 03:44:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.