JIWA RUSIA, TUBUH INGGRIS, DAN MANUSIA YANG SIBUK MENCARI JATI DIRI
Sebuah Renungan tentang Bahasa, Nasionalisme, dan Kesombongan yang Berjiwa
Ada sebuah cara sederhana untuk mengukur kedalaman spiritual suatu bangsa: masuklah ke sebuah ruangan kosong, lalu perhatikan apa yang Anda katakan.
Menurut komedian Rusia Mikhail Zadornov, jika orang Rusia masuk ke ruangan dan tidak menemukan siapa pun, ia akan berkata, «Ни души» (ni dushi), yang berarti kurang lebih, "Tak ada jiwa."
Sementara itu, orang Inggris akan berkata, "Nobody."
Nah, di sinilah persoalan besar peradaban manusia konon bermula.
Orang Rusia mencari jiwa. Orang Inggris mencari tubuh.
Orang Rusia kecewa karena tidak menemukan jiwa yang bisa diajak berbincang. Orang Inggris kecewa karena tidak menemukan tubuh yang bisa ditanya letak kamar kecilnya.
Dari perbedaan dua ungkapan tersebut, Zadornov kemudian mengajak kita menyimpulkan bahwa orang Rusia lebih spiritual, sedangkan orang Barat lebih materialistis.
Kesimpulan yang begitu indah hingga membuat kita curiga: jangan-jangan filsafat memang hanya persoalan memilih kata yang terdengar paling meyakinkan.
Bayangkan jika seluruh persoalan dunia bisa diselesaikan dengan cara demikian. Kita tidak perlu lagi membaca buku filsafat setebal batu bata, menghadiri seminar internasional, atau berdebat di media sosial sampai lupa makan. Cukup buka kamus, cari dua kata yang kebetulan mirip, lalu umumkan bahwa bangsa kita memiliki kedalaman eksistensial yang tidak dimiliki bangsa lain.
Nobel Filsafat mungkin akan segera dibagikan kepada siapa saja yang paling lihai menghubungkan kamus dengan harga diri nasional.
1. Ketika Kata-Kata Dijadikan Bukti Keunggulan Bangsa
Mikhail Zadornov bukan sekadar pelawak yang ingin membuat orang tertawa. Ia adalah pelawak yang tahu bahwa manusia sering kali lebih senang mendengar dirinya sendiri dipuji daripada mendengar kebenaran yang tidak mengenakkan.
Karena itu, ia menawarkan sebuah hadiah istimewa kepada penontonnya: alasan linguistik untuk merasa lebih unggul daripada bangsa lain.
Lihatlah, katanya kira-kira, orang Rusia menggunakan kata jiwa, sedangkan orang Inggris menggunakan kata tubuh. Bukankah itu membuktikan bahwa orang Rusia lebih mendalam?
Penonton pun tertawa.
Sebagian mungkin pulang sambil merenungkan hakikat keberadaan. Sebagian lainnya mungkin pulang dengan perasaan bangga karena akhirnya menemukan bukti ilmiah bahwa nenek moyangnya lebih spiritual daripada tetangga yang suka minum teh.
Inilah kehebatan humor nasionalistis. Ia mampu membuat orang merasa telah memenangkan perdebatan besar tanpa harus repot-repot mempelajari persoalannya.
Kita tidak perlu memahami seluruh sejarah filsafat Rusia. Kita tidak perlu membaca Dostoevsky, Tolstoy, atau karya-karya teologi Ortodoks. Kita cukup menghafal satu ungkapan tentang jiwa, lalu menggunakannya sebagai kartu anggota klub bangsa-bangsa yang merasa paling dalam.
Sementara itu, orang Inggris yang disebut materialistis mungkin sedang duduk di perpustakaan, membaca William Blake, dan menulis puisi tentang keabadian jiwa.
Tetapi siapa peduli?
Ia telanjur kalah oleh sebuah kata.
Dalam pertandingan kebanggaan nasional, fakta sering kali datang terlambat. Stereotip sudah lebih dahulu naik podium sambil membawa medali emas.
2. Orang Rusia Punya Jiwa, Orang Inggris Punya Tubuh. Lalu Siapa yang Punya Utang?
Mari kita terima sejenak teori Zadornov.
Orang Rusia punya jiwa. Orang Inggris punya tubuh.
Pertanyaannya, apakah orang Rusia yang kehilangan dompet masih bisa membayar makan malam dengan kedalaman spiritualnya?
Apakah orang Inggris yang kehilangan pekerjaan bisa mengajukan surat pengunduran diri atas nama tubuh, sementara jiwanya tetap bekerja lembur?
Dan bagaimana jika seorang Rusia mengalami sakit gigi?
Apakah ia cukup merenungkan penderitaan jiwa, atau tetap harus pergi ke dokter gigi yang tarifnya tidak mengenal konsep русская душа?
Kita mulai melihat persoalannya.
Manusia memang memiliki dimensi spiritual, tetapi ia juga mempunyai perut yang keroncongan, kaki yang pegal, tagihan listrik yang jatuh tempo, dan lutut yang berbunyi ketika bangkit dari kursi.
Jiwa mungkin tidak bisa diukur dengan timbangan, tetapi berat badan tetap bisa membuat seseorang kesulitan menaiki tangga.
Bahkan seorang sufi yang telah mencapai ketenangan batin mungkin masih harus menunggu nasi matang. Pencerahan spiritual tidak otomatis mempercepat kerja penanak nasi.
Masalahnya, manusia senang membagi dirinya menjadi dua kubu: yang luhur dan yang rendah, yang spiritual dan yang material, yang mengejar keabadian dan yang sekadar mengejar diskon akhir bulan.
Padahal, orang yang paling rajin membicarakan keagungan jiwa belum tentu paling murah hati ketika menghitung uang patungan.
Ada orang yang bisa berjam-jam membahas keabadian, tetapi langsung kehilangan kesabaran ketika pesanan kopi datang terlambat lima menit.
Jiwanya mungkin sudah melanglang buana ke alam metafisika. Namun, kesabarannya masih tertinggal di antrean kasir.
Barangkali inilah tragedi manusia: kita ingin dikenal sebagai makhluk spiritual, tetapi sering kali dikendalikan oleh hal-hal yang sangat duniawi.
Kita ingin menyelamatkan jiwa, tetapi masih sibuk menyelamatkan muka.
3. Kamus Bukan Kitab Suci, dan Etimologi Bukan Surat Keterangan Kesucian
Secara bahasa, Zadornov memang menemukan sesuatu yang menarik.
Ungkapan Rusia ni dushi secara harfiah mengandung kata dusha, yang berarti jiwa. Sementara itu, kata bahasa Inggris nobody terbentuk dari unsur no dan body.
Namun, dari sini hingga kesimpulan bahwa orang Rusia lebih spiritual daripada orang Inggris, terdapat sebuah lompatan yang cukup jauh.
Lompatan itu begitu jauh sehingga jika dilakukan oleh manusia biasa, kita mungkin menyarankannya membawa bekal dan memeriksa kondisi lutut terlebih dahulu.
Sebab, kata nobody dalam penggunaan bahasa Inggris sehari-hari berarti "tidak seorang pun". Orang yang mengucapkannya tidak sedang melakukan inventarisasi anatomi manusia.
Ia tidak sedang berkata, "Saya telah memeriksa ruangan ini dan tidak menemukan satu pun tubuh biologis."
Ia hanya ingin mengatakan bahwa ruangan tersebut kosong.
Sebaliknya, penutur bahasa Inggris juga mengenal ungkapan not a soul, yang kurang lebih berarti "tak ada seorang pun". Rupanya, mereka juga sesekali ingat bahwa manusia bukan sekadar kumpulan organ yang kebetulan bisa berjalan.
Barangkali orang Inggris memang memiliki jiwa. Hanya saja, jiwa mereka tidak selalu diwajibkan muncul dalam setiap percakapan.
Kita pun tidak bisa menyimpulkan bahwa bangsa yang menyebut seseorang sebagai sweetheart pasti memiliki hati lebih manis daripada bangsa yang menyebutnya dengan istilah lain.
Kalau demikian, kita bisa mengadakan olimpiade kebudayaan berdasarkan nama panggilan.
Bangsa yang paling sering menyebut orang lain "sayang" akan mendapat medali emas kasih sayang. Bangsa yang gemar menggunakan kata "hati" menjadi juara empati. Adapun bangsa yang suka menyebut orang lain "anjing" mungkin perlu mengikuti program remedial kemanusiaan.
Tentu saja, semua itu akan lebih mudah jika kita tidak perlu memeriksa bagaimana mereka benar-benar memperlakukan sesama.
Padahal, bahasa bisa mengandung sejarah, kebiasaan, dan cara pandang tertentu tanpa otomatis menjadi bukti bahwa seluruh penuturnya memiliki watak yang sama.
Kata-kata adalah petunjuk yang menarik. Namun, petunjuk bukanlah putusan pengadilan.
Kamus dapat membantu kita memahami bahasa, tetapi jangan memintanya menerbitkan sertifikat bahwa suatu bangsa memiliki jiwa paling mulia di dunia.
Kamus bukan kantor imigrasi menuju surga.
4. Jiwa Rusia yang Agung dan Sejarah yang Tidak Selalu Berjiwa
Kita tidak bisa membicarakan jiwa Rusia tanpa menyebut nama-nama besar seperti Dostoevsky dan Tolstoy.
Dalam karya-karya mereka, manusia bukan sekadar makhluk yang makan, tidur, bekerja, dan kemudian meninggal. Manusia adalah makhluk yang bergulat dengan rasa bersalah, cinta, penderitaan, kebebasan, iman, dan pertanyaan tentang makna hidup.
Tokoh-tokoh Dostoevsky bisa berdebat tentang Tuhan sambil berjalan menuju kehancuran moral. Tokoh-tokoh Tolstoy bisa mencari kebenaran di tengah kehidupan yang tampak mapan tetapi terasa kosong.
Di tangan mereka, jiwa bukan aksesori kebudayaan yang dipakai untuk menghadiri festival nasional. Jiwa adalah medan pertempuran.
Kadang-kadang manusia ingin menjadi suci, tetapi tangannya masih menggenggam kesombongan.
Kadang-kadang ia berbicara tentang kasih sayang, tetapi hatinya menyimpan dendam yang diwariskan turun-temurun.
Kadang-kadang ia menginginkan kebenaran, tetapi hanya selama kebenaran itu tidak merusak pendapatnya sendiri.
Di sinilah sastra Rusia menunjukkan kedalamannya: bukan karena orang Rusia otomatis lebih suci daripada orang lain, melainkan karena para sastrawannya berani menggambarkan betapa rumit, menyedihkan, dan menggelikannya manusia ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.
Namun, sejarah Rusia juga menyimpan paradoks.
Negeri yang melahirkan karya-karya agung tentang jiwa itu pernah mengalami periode panjang ketika ideologi resmi negara menekankan materialisme dialektis dan menolak agama sebagai penjelasan utama tentang dunia.
Tentu saja, sejarah sebuah bangsa tidak bisa direduksi menjadi satu ideologi. Orang-orang tetap memiliki keyakinan, tradisi, dan kehidupan batin yang beragam. Tetapi kenyataan tersebut cukup untuk mengingatkan kita bahwa sebuah kata dalam bahasa tidak otomatis menentukan keyakinan seluruh masyarakat.
Rusia bisa berbicara tentang jiwa sambil berdebat tentang materialisme.
Orang Barat bisa membicarakan tubuh sambil menulis traktat teologi.
Manusia memang makhluk yang luar biasa: ia mampu menciptakan konsep paling luhur, kemudian menghabiskan berabad-abad bertengkar tentang siapa yang paling berhak memilikinya.
Jiwa pun akhirnya menjadi bahan perselisihan administratif.
Seolah-olah Tuhan akan memeriksa paspor kebangsaan sebelum menentukan kedalaman seseorang.
5. Nasionalisme: Ketika Jiwa Memerlukan Tepuk Tangan
Humor Zadornov memiliki daya tarik karena menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk merasa istimewa.
Kita ingin percaya bahwa bangsa kita mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki bangsa lain.
Jika bukan teknologi, mungkin spiritualitas.
Jika bukan kekayaan, mungkin kebijaksanaan.
Jika bukan kedisiplinan, mungkin keramahan.
Jika bukan kemampuan mengelola negara, mungkin kemampuan membuat orang tertawa ketika membicarakan kegagalan negara.
Setiap bangsa mempunyai cara tersendiri untuk membangun citra dirinya. Ada yang bangga karena filsafatnya, ada yang bangga karena kulinernya, ada pula yang bangga karena merasa paling sederhana meskipun membutuhkan tiga paragraf untuk menjelaskan kesederhanaannya.
Kita pun mengenal ungkapan bahwa bangsa tertentu memiliki hati yang hangat, bangsa lain mempunyai pikiran yang rasional, sementara bangsa berikutnya konon memiliki jiwa yang lebih dalam.
Akan tetapi, semakin sering seseorang mengatakan bahwa bangsanya paling bermoral, semakin menarik untuk memeriksa bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak sepaham dengannya.
Sebab, moralitas tidak selalu tampak dalam pidato.
Ia sering kali muncul dalam perkara kecil: apakah seseorang mengembalikan uang yang bukan miliknya, apakah ia mengakui kesalahan, apakah ia memperlakukan orang miskin dengan hormat, dan apakah ia tetap jujur ketika tidak ada kamera yang merekam.
Tidak ada kamus yang bisa menggantikan ujian semacam itu.
Kita bisa menyebut bangsa kita sebagai bangsa yang berjiwa besar. Tetapi jika kita menggunakan kebanggaan tersebut untuk merendahkan bangsa lain, jangan-jangan yang sedang membesar bukan jiwa kita, melainkan kepala kita.
Dan kepala yang terlalu besar bisa membuat seseorang kesulitan memasuki pintu kerendahan hati.
Di media sosial, persoalan ini menjadi lebih menarik.
Sebuah kutipan filosofis diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, diberi latar hitam, dipasangi nama Dostoevsky atau Nietzsche, lalu dibagikan ribuan kali.
Orang-orang mengangguk penuh kekaguman.
Sebagian merasa tercerahkan. Sebagian merasa lebih pintar daripada teman-temannya. Sebagian lainnya langsung mengunggah ulang dengan keterangan, "Inilah yang tidak dipahami kebanyakan orang."
Padahal, belum tentu mereka memahami kutipan itu sendiri.
Yang penting, mereka sudah merasa menjadi bagian dari kelompok manusia yang lebih dalam.
Jiwa pun memperoleh pengikut.
Algoritma memperoleh interaksi.
Dan kebijaksanaan, entah mengapa, masih harus berjuang mendapatkan perhatian.
6. Bagaimana Jika Kita Mengadakan Olimpiade Jiwa?
Bayangkan jika teori Zadornov benar-benar dijadikan dasar kompetisi internasional.
Kita akan mengadakan Olimpiade Jiwa Sedunia.
Setiap bangsa mengirimkan delegasi terbaiknya.
Rusia mengirimkan sastrawan yang mampu menangis sambil membahas penderitaan eksistensial.
Inggris mengirimkan filsuf yang mampu menjelaskan jiwa dengan kalimat yang sangat tenang, lengkap dengan secangkir teh.
Prancis mengirimkan intelektual yang mempertanyakan apakah kompetisi jiwa itu sendiri merupakan konstruksi sosial.
Jerman mengirimkan panitia yang sudah menyusun aturan, jadwal, kategori penilaian, dan formulir pengaduan apabila terjadi ketidakadilan metafisik.
Sementara itu, bangsa yang tidak kebagian kategori spiritual akan memprotes karena merasa jiwanya didiskriminasi.
Juri kemudian mengumumkan kriteria penilaian.
Kedalaman jiwa dinilai dari kemampuan merenungkan kematian, ketulusan mencintai sesama, kesediaan mengakui kesalahan, dan kemampuan menahan diri ketika sedang marah.
Mendadak suasana menjadi sunyi.
Para peserta mulai gelisah.
Sebab, mereka baru menyadari bahwa memenangkan kompetisi jiwa jauh lebih sulit daripada memenangi perdebatan tentang jiwa.
Seorang peserta mungkin mampu menjelaskan penderitaan manusia selama tiga jam, tetapi belum tentu bersedia mendengarkan keluhan istrinya selama sepuluh menit.
Peserta lain bisa berpidato tentang persaudaraan umat manusia, tetapi langsung marah ketika namanya tidak dicantumkan di daftar penerima penghargaan.
Ada pula peserta yang sangat fasih berbicara tentang kerendahan hati. Ia bahkan meminta agar pidatonya tidak dipuji karena ingin tetap rendah hati.
Sayangnya, permintaan itu disampaikannya melalui pengeras suara berkapasitas stadion.
Akhirnya, panitia memutuskan untuk membatalkan Olimpiade Jiwa.
Bukan karena manusia tidak memiliki jiwa, melainkan karena terlalu banyak peserta yang ingin membuktikan bahwa jiwa merekalah yang paling unggul.
Kompetisi itu berakhir sebelum babak final.
Para peserta pulang membawa medali imajiner, sementara juri masih mencari definisi kerendahan hati yang tidak disertai keinginan untuk diumumkan.
7. Jadi, Kita Ini Jiwa yang Memiliki Tubuh atau Tubuh yang Mengaku Punya Jiwa?
Pertanyaan ini tentu lebih rumit daripada sekadar membandingkan dua ungkapan.
Dalam tradisi filsafat dan agama, hubungan antara tubuh dan jiwa telah menjadi bahan perdebatan panjang. Ada pandangan yang membedakan keduanya, ada yang memahami manusia sebagai kesatuan, dan ada pula yang mempertanyakan apakah konsep jiwa harus dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari tubuh.
Kita tidak perlu menyelesaikan semua perdebatan itu hanya untuk memahami lelucon Zadornov.
Namun, pertanyaan tersebut bisa menjadi cermin yang cukup berguna.
Ketika seseorang mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah jiwa, kita bisa bertanya: bagaimana ia memperlakukan tubuh orang lain yang sedang kelaparan?
Ketika seseorang mengatakan bahwa manusia hanyalah tubuh, kita bisa bertanya: bagaimana ia menjelaskan cinta, kehilangan, kesetiaan, atau rasa bersalah yang tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi kebutuhan biologis?
Keduanya adalah pertanyaan penting.
Tetapi jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa ditentukan hanya dari kata yang digunakan sebuah bangsa untuk menyebut ketidakhadiran seseorang.
Kita tidak bisa menyimpulkan kedalaman spiritual suatu masyarakat dari satu ekspresi bahasa, sebagaimana kita tidak bisa menentukan kualitas masakan sebuah negara hanya dari nama restoran nasionalnya.
Bahasa memang menyimpan jejak sejarah dan kebudayaan. Ia dapat mengarahkan perhatian kita pada aspek tertentu dari pengalaman manusia. Ia bisa memperkaya cara kita memahami dunia.
Tetapi bahasa juga bisa menipu kita jika kita terlalu bersemangat mencari pembenaran bagi keyakinan yang sudah kita miliki.
Kita melihat sebuah kata yang indah, lalu menganggapnya sebagai bukti bahwa pemilik bahasa itu memiliki watak yang indah pula.
Kita menemukan ungkapan yang terdengar materialistis, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa penuturnya telah kehilangan hubungan dengan dunia batin.
Padahal, manusia bukan kamus berjalan.
Orang yang memakai kata "jiwa" belum tentu bijaksana. Orang yang memakai kata "tubuh" belum tentu dangkal. Dan orang yang mampu menjelaskan perbedaan keduanya dengan sangat meyakinkan belum tentu sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Barangkali ia hanya sedang mencari cara baru untuk memenangkan perdebatan di internet.
Penutup: Jangan Sampai Jiwa Kita Hilang Ketika Mencari Jiwa Orang Lain
Lelucon Mikhail Zadornov tentang ni dushi dan nobody memang menarik. Ia mengajak kita melihat bahwa bahasa tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kebudayaan.
Di balik kata-kata sederhana, kadang-kadang terdapat sejarah panjang tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.
Namun, lelucon itu juga mengingatkan kita pada kecenderungan yang tidak kalah menarik: manusia suka menggunakan hal-hal yang rumit untuk membuktikan sesuatu yang sederhana tentang dirinya sendiri.
Kita ingin dianggap bijaksana, maka kita mengutip filsuf.
Kita ingin dianggap spiritual, maka kita berbicara tentang jiwa.
Kita ingin dianggap unggul, maka kita membandingkan bangsa kita dengan bangsa lain.
Dan jika semua itu belum cukup, kita membuat utas panjang di media sosial untuk menjelaskan mengapa orang yang tidak setuju dengan kita sesungguhnya belum mencapai kedalaman berpikir yang sama.
Jiwa kita, rupanya, memerlukan pengakuan publik.
Ia tidak cukup hanya hidup. Ia ingin diverifikasi.
Jika memungkinkan, ia juga ingin mendapatkan tanda centang biru.
Maka, mungkin persoalan terpenting bukanlah apakah orang Rusia lebih berjiwa daripada orang Inggris, atau apakah orang Inggris terlalu sibuk dengan tubuhnya sendiri.
Persoalan yang lebih penting adalah apakah kita benar-benar memahami manusia yang sedang kita bicarakan.
Apakah kita melihatnya sebagai pribadi yang utuh, dengan pikiran, tubuh, perasaan, sejarah, dan pergulatan batinnya? Ataukah kita hanya melihatnya sebagai wakil dari sebuah bangsa yang kebetulan tidak menggunakan kata-kata seperti yang kita gunakan?
Sebab, jiwa yang besar tidak selalu membutuhkan kata-kata besar untuk membuktikan keberadaannya.
Ia mungkin hadir dalam tindakan sederhana: mengakui kesalahan, menolong orang lain tanpa meminta pujian, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, atau menahan diri untuk tidak merasa paling benar.
Dan barangkali, jika suatu hari kita memasuki sebuah ruangan kosong, kita tidak perlu terlalu sibuk memperdebatkan apakah yang tidak ada di sana adalah jiwa atau tubuh.
Kita cukup berkata, "Wah, kosong."
Setidaknya, untuk kali ini, kita tidak mengubah ruangan kosong menjadi medan perang kebudayaan.
Kita tidak perlu mengalahkan bangsa lain untuk merasa menjadi manusia.
Kita tidak perlu memenangi perdebatan tentang jiwa untuk menunjukkan bahwa kita memilikinya.
Sebab, jangan-jangan, ketika kita terlalu sibuk membuktikan bahwa bangsa kitalah yang paling berjiwa, justru ada sesuatu yang perlahan-lahan menghilang dari diri kita sendiri.
Bukan tubuh.
Bukan pula kata-kata.
Melainkan kerendahan hati.
Dan kalau itu sampai terjadi, kita boleh saja tetap menggunakan kata jiwa dalam setiap kalimat.
Namun, seperti kata orang yang sedang mencari kunci di tempat yang salah, kita mungkin perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Jangan-jangan, yang hilang bukan jiwa orang lain, melainkan jiwa kita sendiri.
Semoga saja, ketika kita akhirnya menemukannya, ia tidak sedang berada di ruangan lain sambil mengeluh:
"Ni dushi!"
Tak ada jiwa!
Dan kali ini, bukan karena ruangannya kosong, melainkan karena pemiliknya terlalu sibuk merasa paling benar.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
10/16/2026 03:19:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.