Ketika Nurani Bisa Dibeli: Negeri yang Semua Urusannya Lancar, Kecuali Keadilan

Ada sebuah tahap kemajuan peradaban ketika manusia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” melainkan mulai bertanya, “Berapa biayanya?”

Pertanyaan pertama membutuhkan nurani. Pertanyaan kedua cukup membutuhkan kalkulator, koneksi internet, dan nomor telepon seseorang yang namanya tidak boleh disebut sembarangan.

Penyair Rusia Andrei Dementiev, melalui kritiknya terhadap kehidupan masyarakat pasca-runtuhnya Uni Soviet, seperti sedang mengingatkan kita bahwa sebuah negeri bisa mengalami kemajuan ekonomi, tetapi sekaligus mengalami kemunduran dalam urusan hati. Gedung-gedung boleh menjulang, pasar boleh ramai, dan rekening sebagian orang boleh membengkak. Namun, jika kejujuran sudah menjadi barang mewah, kemajuan itu patut diperiksa kembali. Jangan-jangan yang berkembang bukan peradaban, melainkan keterampilan manusia memperdagangkan prinsip.

1. Nurani Punya Harga, Tinggal Tanya Bagian Pembelian

Dahulu, orang mengenal pasar sebagai tempat jual beli beras, sayuran, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Kini, dalam masyarakat yang mengalami krisis moral, pasar seolah memiliki cabang baru: pasar kesempatan.

Di sana, jabatan bisa dinegosiasikan, proyek bisa diatur, dan pintu yang semestinya terbuka bagi orang berprestasi mendadak membutuhkan kunci khusus. Kunci itu biasanya tidak dijual di toko bangunan, melainkan tersimpan di dalam jaringan pertemanan yang sangat eksklusif.

Orang yang memiliki kemampuan bertanya, “Apa syaratnya?”

Orang yang memiliki koneksi bertanya, “Siapa yang bisa dihubungi?”

Sementara orang yang memiliki uang bertanya, “Kalau dipercepat, tambah berapa?”

Begitulah kehidupan menjadi praktis. Birokrasi yang semula berliku-liku bisa mendadak lurus seperti jalan tol setelah seseorang menemukan gerbang yang tepat. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kartu akses. Sebagian harus tetap mengantre sambil memeluk map berisi dokumen lengkap, fotokopi KTP, ijazah, surat keterangan, dan harapan yang semakin tipis.

Yang paling menyedihkan, terkadang mereka yang mengantre itulah yang justru paling memenuhi persyaratan.

Mereka datang membawa kemampuan, sementara pesaingnya datang membawa nama seseorang.

Kemampuan tentu penting, tetapi dalam sistem yang sakit, kemampuan sering kali hanya menjadi pelengkap administrasi. Ibarat ijazah yang bagus untuk dipajang di dinding, sementara keputusan sudah dibuat di ruang sebelah.

2. Orang Pintar Kalah, Orang Dalam Menang

Bayangkan sebuah perlombaan mencari orang terbaik untuk menduduki suatu jabatan.

Peserta pertama memiliki pendidikan memadai, pengalaman panjang, rekam jejak bagus, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, membaca berbagai referensi, mempelajari aturan, bahkan berlatih menjawab pertanyaan wawancara di depan cermin.

Peserta kedua memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja, tetapi pamannya mengenal seseorang yang pernah makan siang bersama orang yang berwenang menentukan hasil.

Dalam keadaan normal, peserta pertama semestinya lebih unggul.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan menurut buku pelajaran. Kadang-kadang, peserta pertama kalah sebelum pertandingan dimulai karena peserta kedua sudah lebih dahulu memenangkan pertandingan di meja makan.

Di sinilah muncul ilmu baru yang tidak diajarkan di universitas: manajemen hubungan strategis dengan kerabat yang tepat.

Gelar akademik boleh berderet, tetapi silsilah pertemanan kadang lebih menentukan. Orang sibuk meneliti cara meningkatkan kompetensi, sementara orang lain sibuk meneliti siapa yang memiliki kewenangan menandatangani surat keputusan.

Peneliti berbakat menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan pengetahuan. Orang yang lebih beruntung cukup mengembangkan jaringan.

Tentu, jaringan sosial bukanlah sesuatu yang salah. Mengenal orang lain adalah bagian wajar dari kehidupan. Masalah muncul ketika hubungan menggantikan kemampuan, kedekatan mengalahkan kelayakan, dan rekomendasi berubah menjadi jalan pintas untuk melompati aturan.

Akhirnya, masyarakat memperoleh pemimpin yang bukan selalu paling mampu, melainkan paling dekat dengan orang yang memilih.

Lalu ketika pekerjaan berantakan, semua orang mengadakan rapat evaluasi.

Orang yang memilih mengatakan bahwa prosesnya sudah sesuai prosedur. Orang yang terpilih mengatakan bahwa dirinya masih membutuhkan waktu. Orang yang dirugikan diminta bersabar.

Sementara masalah yang sesungguhnya tetap duduk di kursi utama, lengkap dengan fasilitas dan uang perjalanan dinas.

3. Semua Tahu Salah, tetapi Semua Punya Alasan

Bagian paling getir dari kritik Dementiev bukan sekadar kenyataan bahwa uang dan koneksi dapat membeli kesempatan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika orang-orang yang terlibat sebenarnya mengetahui bahwa tindakan mereka salah.

Mereka tahu praktik itu tidak adil. Mereka tahu seseorang yang lebih layak telah disingkirkan. Mereka tahu aturan sedang dipelintir.

Namun, mereka tetap melakukannya.

Mengapa?

Karena manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang terdengar masuk akal, terutama ketika kesalahan itu menguntungkan dirinya sendiri.

Korupsi, misalnya, jarang diperkenalkan dengan kalimat, “Mari kita merusak masa depan bangsa.”

Tidak. Kalimatnya biasanya lebih bersahabat.

“Ini sudah tradisi.”

“Semua juga begitu.”

“Kalau kita tidak ikut, nanti malah dipersulit.”

“Anggap saja uang terima kasih.”

“Ini bukan suap, hanya bentuk apresiasi.”

Bahasa ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan pemilihan kata yang tepat, perbuatan tercela bisa mengenakan jas, berdasi, lalu menghadiri seminar integritas.

Uang pelicin berubah menjadi biaya koordinasi. Nepotisme berubah menjadi kepercayaan terhadap keluarga sendiri. Penyalahgunaan wewenang berubah menjadi kebijakan yang membutuhkan penjelasan tambahan.

Bahkan nurani pun bisa diajak berunding.

Pada awalnya, hati kecil mungkin memprotes. Ia berkata, “Ini tidak benar.”

Namun, pemiliknya menjawab, “Sebentar, kita sedang butuh uang.”

Hati kecil kembali protes. Pemiliknya menawarkan kompromi, “Sekali ini saja.”

Beberapa tahun kemudian, kompromi itu sudah memiliki kantor, staf administrasi, dan prosedur operasional standar.

Nurani tidak mati mendadak. Ia lebih sering dipensiunkan secara bertahap, dengan alasan efisiensi.

4. Korupsi Paling Berbahaya Adalah Korupsi yang Dianggap Biasa

Korupsi uang dapat dihitung. Ada nominal, aliran dana, rekening, dan bukti transaksi. Korupsi nurani jauh lebih sulit diukur karena ia bekerja melalui kebiasaan.

Masyarakat yang terbiasa melihat ketidakadilan lama-kelamaan berhenti terkejut. Yang dahulu dianggap skandal, sekarang hanya menjadi bahan obrolan sambil minum kopi.

Ketika seseorang mendapatkan jabatan karena koneksi, orang lain menggeleng sebentar, lalu bertanya siapa koneksinya.

Ketika orang jujur tersingkir, masyarakat menyayangkan nasibnya, tetapi diam-diam menyarankan agar ia lebih pandai membangun jaringan.

Ketika aturan dilanggar, orang tidak lagi sibuk bertanya bagaimana mencegah pelanggaran. Mereka sibuk mencari tahu apakah ada cara agar dirinya juga tidak dirugikan.

Di sinilah ketidakadilan mencapai kemenangan tertingginya: bukan ketika semua orang menyukainya, melainkan ketika semua orang menganggapnya tidak mungkin diubah.

Sistem yang buruk akhirnya tidak perlu memaksa semua orang menjadi tidak jujur. Cukup membuat kejujuran terasa terlalu mahal.

Orang yang jujur dipuji sebagai teladan, tetapi tidak selalu diberi kesempatan. Orang yang berani menolak penyimpangan dianggap idealis, tetapi sering kali juga dianggap kurang memahami kenyataan.

Akhirnya, idealisme menjadi semacam hobi yang bagus untuk pidato, tetapi kurang praktis untuk mengurus kehidupan sehari-hari.

Padahal, kalau semua orang terus menyesuaikan diri dengan sistem yang buruk, sistem itu tidak akan pernah merasa perlu memperbaiki diri.

Ia justru akan semakin percaya diri, seperti pejabat yang selalu mendapat laporan bahwa semua program berjalan lancar, padahal rakyat di luar gedung sedang kebingungan mencari jalan keluar.

5. Jangan-Jangan Kita Juga Sedang Mencari Orang Dalam

Kritik terhadap Rusia pasca-Soviet tentu memiliki latar sejarah tersendiri. Masa transisi setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991 ditandai perubahan ekonomi dan politik yang besar, termasuk munculnya ketimpangan serta menguatnya kelompok-kelompok yang memiliki akses istimewa terhadap kekayaan dan kekuasaan.

Namun, kekuatan kritik semacam ini justru terletak pada kemampuannya melampaui batas negara.

Di Indonesia, kita juga akrab dengan istilah orang dalam. Istilah itu kadang diucapkan sambil tertawa, seolah-olah hanya bagian dari humor nasional. Kita bahkan bisa menceritakan pengalaman ketidakadilan dengan gaya komedi yang mengagumkan.

Seseorang bercerita bahwa ia gagal mendapatkan pekerjaan meskipun memenuhi persyaratan. Temannya menjawab, “Kurang satu syarat.”

“Apa?”

“Tidak punya saudara di dalam.”

Semua tertawa.

Tetapi setelah tawa selesai, ada pertanyaan yang tertinggal: mengapa ketidakadilan begitu mudah menjadi bahan lelucon?

Mungkin karena menertawakannya terasa lebih ringan daripada menghadapinya. Mungkin pula karena kita sudah terlalu sering melihat hal yang sama sehingga kemarahan pun kehilangan tenaga.

Kita mengkritik nepotisme, tetapi terkadang berharap anak sendiri memperoleh keuntungan darinya. Kita mengecam orang yang menyalahgunakan jabatan, tetapi berharap kenalan kita bisa membantu mempercepat urusan. Kita ingin sistem yang adil, asalkan ketika giliran kita tiba, sistem itu tidak terlalu kaku.

Di sinilah ujian moral yang sesungguhnya.

Mudah sekali membenci ketidakadilan ketika kita menjadi korbannya. Jauh lebih sulit menolaknya ketika ketidakadilan itu menawarkan keuntungan kepada kita.

Orang yang mengantre biasanya menginginkan antrean yang tertib. Tetapi orang yang mendadak dipersilakan masuk melalui pintu samping mungkin akan segera menemukan teori baru tentang fleksibilitas pelayanan.

Begitu pula seseorang yang mengkritik nepotisme ketika tidak memiliki akses, lalu menyebutnya sebagai bentuk kasih sayang keluarga ketika kesempatan itu datang kepada kerabatnya.

Rupanya, prinsip kadang-kadang sangat teguh selama belum diuji dengan keuntungan pribadi.

Karena itu, persoalannya bukan hanya siapa yang korup dan siapa yang jujur. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah kita tetap menganggap sesuatu salah ketika kita sendiri berpeluang memperoleh manfaat darinya.

6. Negeri Bisa Kehilangan Orang Terbaik Tanpa Mengusir Mereka

Dampak nepotisme tidak berhenti pada orang yang gagal mendapatkan jabatan. Ia juga merugikan masyarakat yang kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan kemampuan orang-orang terbaiknya.

Bayangkan seorang guru yang kompeten tidak mendapatkan posisi yang semestinya. Seorang peneliti berbakat kehilangan dukungan. Seorang pegawai jujur terus-menerus tersisih karena tidak pandai memainkan permainan kekuasaan.

Mereka mungkin tidak langsung meninggalkan negeri. Sebagian tetap bekerja, tetap membayar pajak, dan tetap menjalankan tugasnya. Namun, sedikit demi sedikit, semangat mereka terkikis.

Mereka mulai bertanya, “Untuk apa bekerja sebaik mungkin jika hasilnya tidak berbeda?”

Pertanyaan itu berbahaya bukan karena menunjukkan kemalasan, melainkan karena menunjukkan hilangnya kepercayaan terhadap hubungan antara usaha dan hasil.

Masyarakat yang sehat tidak menjamin bahwa setiap orang rajin pasti sukses. Kehidupan tetap memiliki unsur keberuntungan, persaingan, dan keterbatasan. Namun, masyarakat yang adil setidaknya berusaha memastikan bahwa kemampuan dan integritas memiliki peluang yang masuk akal untuk dihargai.

Sebaliknya, ketika koneksi lebih menentukan daripada kompetensi, orang berbakat belajar bahwa prestasi saja tidak cukup. Sebagian mencari tempat lain yang lebih menghargai kemampuan mereka. Sebagian bertahan dengan frustrasi. Sebagian lagi akhirnya ikut bermain karena merasa tidak punya pilihan.

Inilah ironi terbesar dari sistem yang rusak: ia tidak hanya memberi hadiah kepada orang yang salah, tetapi juga mengajari orang yang benar untuk meragukan kebenaran.

Lama-kelamaan, lembaga dipenuhi orang yang pandai menjaga kedudukan, bukan selalu orang yang pandai menjalankan tugas. Rapat menjadi semakin panjang, laporan semakin tebal, dan persoalan semakin kreatif dalam menemukan cara untuk tidak selesai.

Semua tampak sibuk.

Hanya hasilnya yang tidak ikut bekerja.

7. Nurani Tidak Seharusnya Menjadi Barang Impor

Kita tidak harus menjadi penyair Rusia untuk memahami kegelisahan Dementiev. Kita hanya perlu hidup cukup lama untuk melihat bagaimana nilai-nilai yang seharusnya mendasar dapat berubah menjadi barang yang dinegosiasikan.

Kejujuran tidak seharusnya menjadi keberanian luar biasa. Keadilan tidak seharusnya menjadi kemewahan. Mendapatkan pekerjaan karena kemampuan tidak seharusnya menjadi kisah inspiratif yang perlu dirayakan secara nasional.

Semua itu semestinya menjadi hal yang wajar.

Tentu, memperbaiki keadaan tidak cukup dengan mengajak setiap orang menjadi baik. Sistem juga harus dirancang agar penyimpangan sulit dilakukan, mudah terdeteksi, dan membawa konsekuensi yang nyata.

Rekrutmen perlu transparan. Konflik kepentingan harus dikendalikan. Pengawasan harus bekerja. Pelapor pelanggaran perlu dilindungi. Jabatan harus diperlakukan sebagai amanah, bukan warisan keluarga atau hadiah persahabatan.

Dan yang tidak kalah penting, masyarakat perlu berhenti menganggap kecerdikan mengakali aturan sebagai tanda kecerdasan yang patut dibanggakan.

Sebab, orang yang berhasil menerobos antrean mungkin merasa dirinya pintar. Tetapi jika semua orang melakukan hal yang sama, antrean itu tidak akan menjadi lebih cepat. Ia hanya berubah menjadi kerumunan yang saling sikut.

Begitu pula sebuah negara. Jika setiap orang mencari jalan pintas, akhirnya tidak ada lagi jalan yang benar-benar bisa dipercaya.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh sistem dalam semalam. Namun, kita dapat memulai dari keputusan-keputusan yang dekat: tidak meminta perlakuan istimewa yang merugikan orang lain, tidak memaksakan kerabat yang tidak layak, tidak membenarkan penyimpangan hanya karena dilakukan oleh kelompok sendiri, dan tidak menganggap uang sebagai obat untuk segala persoalan.

Langkah-langkah itu mungkin tidak menghasilkan berita utama. Tidak ada seremoni pemotongan pita untuk seseorang yang menolak menyalahgunakan wewenang.

Tetapi justru di situlah integritas bekerja: dalam tindakan yang benar meskipun tidak menghasilkan tepuk tangan.

Harga Nurani Selalu Lebih Mahal daripada Tarifnya

Kritik Andrei Dementiev mengingatkan kita bahwa krisis moral bukan hanya terjadi ketika seseorang mengambil uang yang bukan haknya. Krisis itu menjadi jauh lebih serius ketika masyarakat mulai menganggap tindakan tersebut sebagai bagian normal dari kehidupan.

Pada tahap itu, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak uang yang dicuri, melainkan berapa banyak orang yang kehilangan keyakinan bahwa kejujuran masih berguna.

Sebab, ketika uang bisa membeli jabatan, koneksi bisa mengalahkan kemampuan, dan kesalahan bisa disucikan melalui alasan yang terdengar masuk akal, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keadilan hari ini. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan generasi berikutnya terhadap arti usaha, prestasi, dan kebenaran.

Barangkali kita perlu membuka sebuah loket pelayanan baru di setiap kantor: Loket Pengaduan Nurani.

Syaratnya sederhana: tidak perlu fotokopi KTP, tidak perlu surat pengantar, dan tidak perlu mengenal pejabat.

Cukup datang membawa keberanian untuk berkata, “Ini salah, meskipun menguntungkan saya.”

Sayangnya, loket semacam itu mungkin akan sepi pada hari pertama. Bukan karena masyarakat tidak memahami letaknya, melainkan karena banyak orang sedang sibuk mengurus sesuatu di loket sebelah.

Loket yang menawarkan keuntungan pribadi.

Dan jika suatu hari nurani benar-benar dijual, barangkali masalah terbesarnya bukan karena harganya terlalu mahal.

Melainkan karena terlalu banyak orang bersedia membelinya—dan terlalu sedikit yang masih ingin memilikinya.

Sebab, negeri yang kehilangan uang masih bisa mencari kekayaan. Negeri yang kehilangan orang-orang terbaiknya masih bisa mendidik generasi baru. Tetapi negeri yang kehilangan rasa malu terhadap ketidakadilan akan kesulitan menemukan alasan untuk memperbaiki dirinya sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026

Ketika Nurani Bisa Dibeli: Negeri yang Semua Urusannya Lancar, Kecuali Keadilan Ketika Nurani Bisa Dibeli: Negeri yang Semua Urusannya Lancar, Kecuali Keadilan Reviewed by banyu bening Ajibarang on 10/22/2026 02:39:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list