Kita Ini Bukan Manusia Istimewa, Cuma Belum Kena Giliran

Tentang kesombongan manusia, musibah, dan empati yang sering datang terlambat

Ada satu keistimewaan manusia yang jarang dibicarakan dalam seminar motivasi: kemampuan merasa bahwa semua hal buruk di dunia ini hanya berlaku untuk orang lain.

Orang lain bisa sakit, kita merasa sehat. Orang lain bisa bangkrut, kita merasa keuangan aman. Orang lain bisa bercerai, kita merasa rumah tangga baik-baik saja. Orang lain kehilangan pekerjaan, kita malah sibuk mengomentari bahwa mereka kurang pandai mengatur hidup.

Seolah-olah kehidupan memiliki dua daftar khusus: daftar orang yang boleh tertimpa musibah dan daftar orang yang mendapatkan fasilitas bebas masalah seumur hidup.

Tentu saja, kita dengan penuh percaya diri mendaftarkan diri ke daftar kedua.

Sayangnya, tidak ada loket pendaftaran untuk menjadi manusia kebal penderitaan. Bahkan kalaupun ada, petugasnya mungkin hanya akan tersenyum sambil berkata, “Silakan ambil nomor antrean. Semua orang dapat giliran.”

1. Merasa Istimewa Sebelum Ditampar Kenyataan

Paul Auster, dalam Winter Journal (2012), mengingatkan bahwa kita sering mengira sesuatu yang menimpa orang lain mustahil terjadi kepada diri sendiri. Namun, perlahan-lahan, satu demi satu hal itu benar-benar datang, persis seperti yang dialami orang lain.

Kalimat ini sebetulnya sederhana, tetapi efeknya seperti melihat saldo rekening setelah belanja daring selama satu bulan: mendadak kita sadar bahwa selama ini hidup tidak berjalan sesuai perkiraan.

Kita melihat tetangga sakit dan berkata, “Kasihan, ya. Mungkin kurang menjaga kesehatan.”

Ketika diri sendiri jatuh sakit, kita baru memahami bahwa tubuh bukan mesin produksi yang bisa dipaksa bekerja dua puluh empat jam hanya dengan kopi, doa, dan tekad baja.

Kita melihat orang kehilangan pekerjaan dan berkata, “Harusnya punya tabungan darurat.”

Ketika perusahaan melakukan efisiensi dan nama kita masuk daftar, mendadak istilah tabungan darurat terdengar seperti nama malaikat yang seharusnya datang menolong, tetapi ternyata tidak punya nomor WhatsApp kita.

Begitulah manusia. Sebelum mengalami sesuatu, kita merasa menjadi ahli. Setelah mengalaminya, kita berubah menjadi filsuf.

Dulu kita mudah berkata, “Ah, begitu saja kok sedih!”

Sekarang, ketika mengalami hal serupa, kita menulis status panjang tentang luka batin, ketidakpastian hidup, dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Kalau statusnya belum cukup menyentuh, kita tambahkan musik piano yang melankolis.

Padahal, masalahnya bukan kehidupan yang tiba-tiba menjadi kejam. Barangkali selama ini kita saja yang terlalu percaya diri menganggap diri sebagai pengecualian.

2. Hidup Tidak Membaca Riwayat Prestasi Kita

Ada orang yang merasa aman karena memiliki pendidikan tinggi. Ada yang percaya diri karena kekayaannya cukup untuk membeli banyak hal. Ada pula yang merasa terlindungi karena memiliki jabatan, koneksi, atau pengikut media sosial sampai ratusan ribu.

Semua itu memang berguna. Pendidikan membantu kita berpikir, uang mempermudah urusan, dan koneksi bisa membuka pintu yang sebelumnya tertutup.

Namun, kehidupan memiliki kebiasaan buruk: ia tidak selalu menghormati daftar prestasi yang kita pajang di dinding.

Kita boleh memiliki gelar akademik sepanjang tiga baris, tetapi tetap kebingungan ketika dokter menjelaskan hasil pemeriksaan.

Kita boleh memiliki rumah megah, tetapi tidak bisa membeli kembali satu menit terakhir bersama orang tua yang telah meninggal.

Kita boleh memiliki jabatan direktur, tetapi ketika pasangan berkata, “Kita perlu bicara,” mendadak seluruh keterampilan manajemen risiko terasa tidak berguna.

Bahkan orang yang paling kaya pun tetap harus menua. Bedanya, ia mungkin bisa membeli kasur yang lebih nyaman untuk menghadapi sakit punggung.

Uang memang bisa memperbaiki banyak keadaan, tetapi tidak sanggup menghapus seluruh keterbatasan manusia. Teknologi dapat membantu memperpanjang usia, tetapi belum menyediakan tombol undo untuk setiap keputusan yang kita sesali.

Asuransi bisa menanggung biaya tertentu, tetapi tidak menjamin kita bebas dari kesedihan. Kalau ada perusahaan yang menawarkan polis bebas kehilangan, mungkin yang pertama kali diasuransikan justru bagian pemasaran karena terlalu berani menjanjikan sesuatu yang mustahil.

Kehidupan tidak membenci kita. Ia hanya tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti rencana yang telah kita susun dengan rapi.

3. Kita Sering Menjadi Hakim Sebelum Menjadi Terdakwa

Salah satu kebiasaan manusia yang paling menghibur sekaligus menyedihkan adalah menghakimi penderitaan orang lain dari tempat yang nyaman.

Ketika seseorang gagal membangun rumah tangga, kita segera menemukan kesalahannya. Mungkin kurang sabar, kurang komunikasi, terlalu emosional, atau terlalu banyak bermain telepon genggam.

Ketika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, kita punya resep sederhana: bekerja lebih keras, hidup hemat, jangan gengsi.

Ketika seseorang mengalami depresi atau kehilangan semangat hidup, kita terkadang menyarankan agar ia lebih banyak bersyukur.

Nasihat-nasihat itu tidak selalu salah. Persoalannya, kita sering menyampaikannya seolah-olah semua masalah manusia bisa diselesaikan dengan tiga langkah, satu seminar, dan sebuah kutipan motivasi berlatar matahari terbit.

Kita lupa bahwa setiap orang memiliki keadaan yang tidak seluruhnya terlihat dari luar.

Orang yang tampak malas mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak kita ketahui. Orang yang mudah marah mungkin sedang menanggung beban yang tidak sanggup ia ceritakan. Orang yang rumah tangganya berantakan mungkin sudah berjuang bertahun-tahun sebelum akhirnya menyerah.

Tentu saja, memahami keadaan orang lain bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Empati tidak mengharuskan kita menghapus tanggung jawab. Namun, empati mengingatkan kita agar tidak buru-buru mengubah penderitaan orang menjadi bahan sidang pengadilan.

Apalagi kita sendiri belum tentu lebih baik. Kita hanya belum menjalani ujian dengan soal yang sama.

Ada orang yang pandai memberi nasihat tentang kesabaran karena belum pernah diuji dengan masalah yang membuatnya kehilangan kesabaran. Ada yang fasih berbicara tentang keikhlasan karena belum pernah kehilangan sesuatu yang benar-benar dicintainya.

Maka, sebelum berkata, “Kalau saya jadi kamu, saya pasti bisa menghadapinya,” sebaiknya kita bertanya dahulu kepada diri sendiri: benarkah kita mampu, atau kita hanya sedang berkhayal menjadi pahlawan dalam cerita orang lain?

4. Empati Tidak Perlu Menunggu Kita Babak Belur

Ada dua macam cara manusia belajar memahami penderitaan.

Pertama, melalui pengalaman sendiri. Kita baru memahami kesepian setelah ditinggalkan, baru memahami kehilangan setelah berduka, dan baru memahami sulitnya mencari pekerjaan setelah berkali-kali menerima surat penolakan.

Kedua, melalui kesadaran. Kita mencoba memahami bahwa orang lain juga memiliki hati, ketakutan, keterbatasan, dan kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginannya.

Cara pertama sering kali efektif, tetapi ongkosnya mahal.

Kita harus kehilangan sesuatu untuk memahami arti kehilangan. Kita harus terluka untuk memahami rasa sakit. Kita harus terjatuh untuk menyadari bahwa orang yang jatuh tidak selalu membutuhkan ceramah tentang cara berdiri.

Padahal, kita bisa belajar tanpa harus mengalami seluruh penderitaan itu sendiri.

Kita tidak harus menjadi yatim piatu untuk memahami kesedihan seseorang yang kehilangan orang tuanya. Kita tidak harus bangkrut untuk menghormati orang yang sedang kesulitan ekonomi. Kita tidak harus mengalami perceraian untuk berbicara dengan lembut kepada seseorang yang rumah tangganya sedang berada di ambang kehancuran.

Cukup dengan menyadari satu hal: apa yang terjadi kepada orang lain bukan sesuatu yang mustahil terjadi kepada kita.

Kesadaran ini bukan ajakan untuk hidup ketakutan. Kita tidak perlu setiap pagi bangun tidur sambil berkata, “Hari ini musibah apa yang akan datang?”

Itu namanya bukan kewaspadaan, melainkan membuat kehidupan terasa seperti grup WhatsApp keluarga yang setiap saat bisa mengirim kabar buruk.

Kita tetap boleh optimistis, merencanakan masa depan, bekerja keras, menjaga kesehatan, dan menabung. Semua itu penting.

Namun, di sela-sela ikhtiar tersebut, sisakan sedikit ruang untuk kerendahan hati. Jangan sampai keberhasilan membuat kita mengira bahwa semua orang yang gagal pasti kurang berusaha. Jangan sampai kesehatan membuat kita meremehkan orang sakit. Jangan sampai kebahagiaan membuat kita kehilangan kemampuan memahami kesedihan.

Kita boleh berusaha agar tidak jatuh. Tetapi jika suatu hari melihat orang lain terjatuh, jangan buru-buru menertawakannya hanya karena kaki kita masih kuat.

5. Media Sosial dan Olimpiade Kesempurnaan

Di zaman media sosial, ilusi kekebalan diri mendapat bantuan teknologi.

Kita melihat orang memamerkan rumah baru, mobil baru, perjalanan wisata, bisnis yang berkembang, dan keluarga yang tampak bahagia. Semua orang seperti sedang mengikuti Olimpiade Kehidupan, dengan kategori rumah tangga harmonis, karier cemerlang, tubuh sehat, dan liburan ke tempat yang harga kopinya setara dengan makan siang satu keluarga.

Kita pun mulai percaya bahwa hidup normal berarti hidup yang selalu meningkat.

Padahal, media sosial lebih sering menampilkan panggung daripada ruang belakang. Kita melihat foto seseorang tersenyum di tepi pantai, tetapi tidak tahu apakah sebelum foto itu diambil ia baru saja bertengkar dengan pasangannya.

Kita melihat seseorang mengunggah pencapaian bisnis, tetapi tidak tahu berapa banyak malam yang ia habiskan untuk mencemaskan utang.

Kita melihat keluarga tersenyum kompak, tetapi tidak tahu apakah lima menit sebelumnya mereka berdebat tentang siapa yang bertanggung jawab membawa bekal.

Kita akhirnya membandingkan kehidupan kita yang utuh—dengan segala kekacauan, kecemasan, dan cucian yang belum selesai—dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Dari sana, lahirlah kesimpulan yang keliru: orang lain selalu lebih bahagia, sedangkan kita mungkin sedang salah mengelola hidup.

Padahal, semua orang mempunyai bagian kehidupan yang tidak masuk ke dalam bingkai foto.

Maka, tidak perlu terlalu iri kepada orang yang tampak sempurna. Barangkali ia memang sedang bahagia. Syukurlah. Namun, kebahagiaannya tidak membuktikan bahwa hidupnya bebas dari kerentanan.

Begitu pula, jangan merasa diri paling malang hanya karena kehidupan kita sedang berantakan. Bisa jadi, kita sedang menjalani musim yang tidak nyaman, bukan menerima vonis bahwa seluruh masa depan akan gelap.

Kehidupan manusia tidak sesederhana unggahan tiga puluh detik. Kita semua memiliki cerita yang lebih panjang daripada yang sanggup ditampung layar ponsel.

6. Kerendahan Hati: Bukan Merendahkan Diri, Melainkan Menyadari Batas

Kerendahan hati sering disalahpahami sebagai kebiasaan menganggap diri tidak berharga.

Padahal, orang yang rendah hati tidak harus berkata, “Saya ini tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan tidak pantas menjadi siapa-siapa.”

Kalau setiap hari begitu, yang dibutuhkan mungkin bukan filsafat, melainkan teman bicara yang baik.

Kerendahan hati yang sejati justru berarti mengetahui bahwa kita memiliki kemampuan, tetapi tidak mahakuasa. Kita bisa berhasil, tetapi tidak mengendalikan seluruh keadaan. Kita dapat merencanakan kehidupan, tetapi tidak menjamin semua rencana akan terlaksana.

Kita tidak lebih kebal daripada orang lain hanya karena hari ini sedang sehat. Kita tidak otomatis lebih bijaksana daripada orang yang sedang gagal. Kita tidak menjadi manusia yang lebih baik hanya karena belum mengalami ujian yang sama.

Kesadaran itu seharusnya membuat kita lebih santun dalam berbicara, lebih berhati-hati dalam menilai, dan lebih ringan tangan ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Sebab, siapa tahu, suatu hari kita berada di tempat yang sama.

Hari ini kita yang memberikan pertolongan. Besok mungkin kita yang membutuhkan uluran tangan. Hari ini kita mendengarkan curahan hati seseorang. Besok mungkin kita sendiri yang perlu didengarkan tanpa dipotong dengan kalimat, “Makanya, dari dulu saya sudah bilang.”

Kalimat itu memang sangat populer dalam kehidupan manusia. Sayangnya, ia jarang menyembuhkan apa pun selain ego orang yang mengucapkannya.

Kita Semua Sedang Menunggu Giliran Menjadi Manusia

Pesan Paul Auster dalam Winter Journal mengingatkan kita bahwa berbagai pengalaman manusia—penuaan, kehilangan, sakit, kegagalan, dan kesedihan—pada akhirnya dapat menghampiri siapa saja.

Kita boleh berusaha menghindarinya, mengurangi risikonya, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Namun, kita tidak bisa menjadikan kehidupan sebagai kontrak yang mewajibkan dunia selalu berlaku sesuai keinginan kita.

Barangkali inilah alasan mengapa kita perlu lebih banyak berempati dan lebih sedikit menghakimi.

Bukan karena kita harus menganggap semua tindakan benar, melainkan karena kita sadar bahwa manusia tidak hidup di ruang steril. Setiap orang sedang menghadapi sesuatu, entah yang terlihat jelas maupun yang disembunyikan di balik senyuman.

Jangan menunggu kehilangan orang tercinta untuk belajar menghargai waktu bersama keluarga. Jangan menunggu jatuh sakit untuk memahami kecemasan orang yang sedang menjalani pengobatan. Jangan menunggu mengalami kegagalan untuk berhenti meremehkan mereka yang sedang berjuang.

Dan jangan menunggu hidup menjungkirbalikkan keadaan kita untuk menyadari bahwa selama ini kita terlalu mudah menghakimi.

Sebab, kehidupan tidak pernah menjanjikan bahwa kita akan menjadi pengecualian. Ia hanya memberi kita kesempatan untuk menjalani hari ini sebaik mungkin, sebelum keadaan berubah menjadi sesuatu yang belum pernah kita bayangkan.

Pada akhirnya, kita semua hanyalah manusia yang sedang belajar berjalan di atas tanah yang sama. Ada yang langkahnya mantap, ada yang tertatih-tatih, ada yang baru saja bangkit, dan ada pula yang diam-diam sedang berusaha agar tidak roboh.

Jadi, kalau hari ini kita sedang berdiri tegak, tidak ada salahnya membantu orang yang sedang jatuh.

Tidak perlu menunggu kita ikut terjatuh untuk memahami bahwa lantai memang keras.

Karena kita bukan manusia istimewa yang kebal terhadap kehidupan. Kita hanya manusia biasa yang kebetulan belum mengalami semuanya.

Dan kalau suatu hari giliran kita tiba, semoga masih ada orang yang bersedia mengulurkan tangan—bukan sibuk berdiri di samping kita sambil berkata, “Nah, sekarang tahu, kan?”

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2026

Kita Ini Bukan Manusia Istimewa, Cuma Belum Kena Giliran Kita Ini Bukan Manusia Istimewa, Cuma Belum Kena Giliran Reviewed by banyu bening Ajibarang on 10/22/2026 05:46:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list