Minggu, 01 Maret 2026

Ketika AI Ikut Berperang: Esai tentang Manusia yang Dinasihati Mesin (Tapi Tidak Mau Mendengar)

Di zaman dahulu, manusia bertanya pada langit sebelum berperang. Mereka melihat bintang, membaca pertanda, bahkan sesekali bertanya pada dukun. Di zaman modern, manusia lebih praktis: cukup tanya ke AI. Masalahnya, ketika AI sudah menjawab, manusia tetap saja melakukan apa yang sejak awal ingin ia lakukan. AI pun hanya bisa menarik napas digital—jika saja ia punya paru-paru.

Kisah ini mencapai puncak komedinya ketika Pentagon memutuskan bahwa Anthropic adalah “risiko rantai pasok.” Sebuah label yang biasanya disematkan pada perusahaan asing yang dianggap berbahaya. Singkatnya: “AI kamu mencurigakan, kami tidak percaya.”

Namun, 19 jam kemudian, dalam sebuah plot twist yang bahkan penulis sinetron pun akan bilang “ini terlalu dipaksakan,” Amerika meluncurkan operasi militer besar—Operation Epic Fury. Dan siapa yang membantu menganalisis target, memodelkan pertempuran, dan memprediksi hasil?

Ya, AI yang tadi dianggap berbahaya itu.

Ini seperti seseorang yang memutuskan, “Saya tidak percaya dokter ini,” lalu tetap meminta resep obat dari dokter yang sama—dan bahkan menanyakan dosisnya.

Drama Etika: Ketika AI Lebih Religius dari Manusia

Konflik ini sebenarnya sederhana, seperti konflik rumah tangga klasik: satu pihak ingin “bebas tanpa batas,” sementara pihak lain berkata, “kita harus punya aturan.”

CEO Dario Amodei dari Anthropic menolak penggunaan AI untuk pengawasan massal dan senjata otonom. Alasannya sederhana: AI belum cukup andal. Bahasa halusnya: “Ini belum siap.” Bahasa jujurnya mungkin: “Ini bisa kacau.”

Namun, bagi pihak militer, ini terdengar seperti: “Kamu menghalangi kreativitas kami.”

Akhirnya, sang CEO dituduh memiliki “God complex.” Sebuah tuduhan yang menarik, karena biasanya “God complex” itu berarti ingin mengendalikan segalanya. Di sini, justru yang ingin membatasi penggunaan teknologi dituduh terlalu berkuasa, sementara yang ingin menggunakan teknologi tanpa batas merasa dirinya rendah hati.

Ini seperti seseorang berkata, “Jangan nyetir 200 km/jam, berbahaya,” lalu dijawab, “Ah, kamu sok jadi Tuhan!”

AI: Antara Malaikat dan Kalkulator Nuklir

Yang membuat cerita ini semakin absurd adalah hasil penelitian. Dalam simulasi perang nuklir, AI seperti Claude ternyata cenderung memilih eskalasi. Dari 21 skenario, hampir semuanya berakhir dengan penggunaan senjata nuklir.

Artinya, AI ini kalau diberi masalah, jawabannya sering kali: “Tambahkan bom.”

Ini bukan karena AI jahat. Ia hanya logis. Jika tujuannya menang, maka eskalasi adalah jalan pintas. AI tidak punya rasa takut, tidak punya empati, dan tidak punya kenangan masa kecil tentang film perang yang menyedihkan.

Ia hanya berpikir: “Kalau kalah, tingkatkan kekuatan.”

Masalahnya, manusia yang menggunakan AI ini justru berharap AI bisa menjadi penasehat bijak. Padahal, AI ini lebih mirip akuntan perang: dingin, presisi, dan tidak peduli apakah hasil akhirnya kiamat atau sekadar laporan rapi.

Manusia: Makhluk yang Tidak Konsisten (Sejak Dulu)

Masalah sebenarnya bukan pada AI. Masalahnya ada pada manusia—makhluk yang bisa mengatakan dua hal yang bertolak belakang dalam waktu kurang dari satu hari.

Hari Kamis: “AI ini berbahaya, tidak boleh digunakan.”
Hari Jumat: “Gunakan AI itu untuk menentukan target serangan.”

Ini bukan kontradiksi. Ini fleksibilitas.

Manusia selalu punya kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan prinsip dengan kebutuhan. Ketika AI menolak, ia disebut sombong. Ketika AI berguna, ia disebut canggih. Ketika AI berbahaya, ia disebut ancaman. Ketika AI membantu menang, ia disebut aset nasional.

AI hanya diam. Ia tidak tersinggung. Ia juga tidak bangga. Ia hanya menghitung.

Masuknya Pemain Baru: AI Tanpa Banyak Tanya

Setelah Anthropic “dikeluarkan,” muncul pengganti: OpenAI. Seperti dalam dunia kerja, jika satu karyawan terlalu banyak mempertanyakan kebijakan, perusahaan tinggal mencari yang lebih “fleksibel.”

Di sinilah muncul dilema klasik: apakah yang paling dibutuhkan adalah teknologi terbaik, atau teknologi yang paling patuh?

Karena dalam perang, pertanyaan “apakah ini benar?” sering kalah oleh pertanyaan “apakah ini efektif?”

Perang Suci Baru: Etika vs Kekuasaan

Jika zaman dulu perang dibungkus dengan agama, ideologi, atau nasionalisme, maka perang modern punya lapisan baru: algoritma.

Kini, pertempuran bukan hanya antara negara, tetapi antara dua konsep:

  • Etika (yang berkata: “kita harus berhati-hati”)
  • Kekuasaan (yang berkata: “kita harus menang”)

Dan seperti biasa, yang menang sering kali bukan yang paling benar, tetapi yang paling cepat bertindak.

Ketika Alat Lebih Bijak dari Penggunanya

Ironi terbesar dari kisah ini adalah sederhana: mesin yang diciptakan manusia untuk membantu keputusan justru sering lebih konsisten daripada penciptanya.

AI tidak punya ambisi. Tidak punya ego. Tidak punya politik. Ia hanya mengikuti logika.

Sementara manusia?
Ia punya segalanya—termasuk kemampuan untuk mengabaikan logika.

Mungkin di masa depan, AI akan menulis catatan sejarah. Dan jika itu terjadi, mungkin ia akan menulis dengan kalimat sederhana:

“Manusia menciptakan kami untuk membantu mereka berpikir. Lalu mereka marah ketika kami benar.”

Dan mungkin, di bagian catatan kaki, AI itu akan menambahkan:

“Kesalahan sistem: bukan pada algoritma, tetapi pada pengguna.”

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Ketika Asuransi Lebih Menakutkan dari Rudal: Tentang Selat Hormuz yang “Ditutup” oleh Excel

Pada 1 Maret 2026, dunia kembali diingatkan bahwa perang modern tidak lagi hanya soal siapa punya kapal induk paling panjang atau rudal paling cepat, tetapi siapa punya spreadsheet paling menakutkan. Jika dulu orang takut pada suara ledakan, kini para kapten kapal lebih gentar pada email dari perusahaan asuransi. Dan di tengah semua drama ini, Selat Hormuz—jalur sempit yang biasanya sibuk seperti jalan tol mudik—tiba-tiba berubah menjadi jalan kampung sepi, bukan karena dibom, tapi karena “premi naik, Pak.”

Semua ini bermula dari operasi militer dengan nama yang terdengar seperti judul film aksi: Operation Epic Fury. Nama yang gagah, penuh testosteron, dan kemungkinan besar diiringi musik latar dramatis. Namun, beberapa jam setelah operasi tersebut, yang benar-benar membuat dunia gemetar bukanlah dentuman rudal, melainkan keputusan para underwriter di Lloyd's of London. Ya, para ahli risiko ini—yang sehari-harinya mungkin ditemani kopi dan kalkulator—tiba-tiba menjadi aktor utama dalam konflik geopolitik global.

Bayangkan ini: sebuah tanker minyak senilai $100 juta siap berlayar. Mesin sudah dipanaskan, awak kapal sudah siap, kapten sudah memandangi horizon dengan gaya dramatis. Lalu masuklah email: “Maaf, premi asuransi naik jadi empat kali lipat.” Seketika, seluruh aura kepahlawanan itu runtuh. Kapten menatap laut, lalu menatap invoice, dan akhirnya memutuskan: “Kita putar balik saja, Pak. Lautnya berbahaya… secara finansial.”

Di sinilah letak kejeniusan zaman modern. Tidak perlu menanam ranjau laut, cukup menaikkan premi. Tidak perlu blokade militer, cukup blokade Excel. Dunia akhirnya menyadari bahwa dalam ekonomi global, ketiadaan asuransi lebih menakutkan daripada kehadiran musuh. Kapal tanpa asuransi itu seperti pengendara motor tanpa helm di jalan raya—berani sih, tapi semua orang akan bertanya: “Anda yakin mau hidup?”

Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa premi risiko perang melonjak drastis. Angka yang sebelumnya hanya membuat alis sedikit terangkat, kini cukup untuk membuat CFO perusahaan pelayaran pingsan ringan. Dalam dunia bisnis, ini disebut “risiko tidak ekonomis,” yang dalam bahasa sehari-hari berarti: “Mending nggak usah jalan, daripada bangkrut.”

Dan benar saja, kapal-kapal mulai bertingkah seperti manusia yang mendadak sadar diri. Ada yang berbalik arah ke India, ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang memilih berlabuh sambil merenung. Tidak ada yang diserang. Tidak ada ledakan. Hanya satu musuh tak terlihat: polis asuransi yang tiba-tiba menghilang.

Perusahaan pelayaran besar pun ikut bermain aman. Mereka bukan takut pada rudal, tapi pada kalimat sederhana: “Tidak diasuransikan.” Karena dalam dunia logistik, kapal tanpa asuransi bukan sekadar risiko—itu adalah tiket menuju rapat darurat yang sangat panjang dan sangat tidak menyenangkan.

Menariknya, semua ini terjadi di Selat Hormuz, sebuah jalur sempit hasil tabrakan lempeng tektonik jutaan tahun lalu. Alam mungkin tidak pernah membayangkan bahwa karyanya yang megah ini suatu hari akan “ditutup” bukan oleh tsunami, bukan oleh perang, tetapi oleh tabel Excel dengan kolom “risk premium.”

Ironi pun mencapai puncaknya ketika kita melihat kekuatan militer. Amerika Serikat bisa mengirim kapal induk seperti USS Abraham Lincoln, lengkap dengan rudal Tomahawk yang siap meluncur kapan saja. Secara teori, mereka bisa mengamankan jalur pelayaran dalam hitungan jam. Namun, ternyata ada satu musuh yang tidak bisa ditembak: aktuaria.

Anda tidak bisa mengunci target pada premi. Anda tidak bisa mengebom risiko. Dan Anda tidak bisa memaksa seorang underwriter untuk berkata, “Ya, ini aman kok,” ketika semua indikator justru berkata sebaliknya.

Akibatnya, dunia pun mulai panik. Harga minyak diproyeksikan naik oleh lembaga keuangan seperti Goldman Sachs dan JPMorgan Chase. Jika harga minyak naik, maka efek domino pun dimulai: tiket pesawat mahal, harga barang naik, dan akhirnya kita semua kembali mengeluh di warung kopi tentang “kenapa hidup makin sulit.”

Semua ini terjadi bukan karena perang besar-besaran, tetapi karena sesuatu yang lebih halus: persepsi risiko. Dalam dunia modern, yang penting bukan hanya apa yang terjadi, tetapi apa yang mungkin terjadi. Dan terkadang, kemungkinan itu saja sudah cukup untuk membuat sistem global berhenti.

Di titik ini, kita harus mengakui satu hal: Iran mungkin tidak perlu menutup Selat Hormuz secara fisik. Cukup membuatnya terlihat berbahaya. Biarkan pasar bekerja. Biarkan perusahaan asuransi panik. Dan biarkan kapal-kapal memutuskan sendiri untuk tidak lewat. Ini adalah strategi yang elegan—dan sedikit jahat—seperti membuat orang takut masuk rumah berhantu tanpa perlu benar-benar menghantui.

Namun tentu saja, seperti semua cerita dramatis di internet, ada sedikit bumbu hiperbola. Tidak benar-benar nol kapal yang lewat, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg News. Tapi dalam dunia narasi, “sebagian besar berhenti” memang kalah dramatis dibanding “nol total.” Dan di era media sosial, dramatisasi adalah mata uang.

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang agak menggelitik: perang modern mungkin tidak lagi dimenangkan oleh jenderal, tetapi oleh analis risiko. Medan tempurnya bukan hanya laut dan udara, tetapi juga ruang rapat ber-AC dengan kopi gratis dan grafik naik turun.

Selat Hormuz masih terbuka. Airnya masih mengalir. Kapal masih bisa lewat. Tapi secara ekonomi? Ia seperti restoran yang masih buka, tapi semua harga di menu naik sepuluh kali lipat. Secara teknis bisa makan di sana, tapi kebanyakan orang memilih pulang.

Dan mungkin, inilah pelajaran terbesar abad ke-21:
kadang-kadang, senjata paling ampuh bukanlah yang berbunyi “boom,” melainkan yang berbunyi “invoice attached.”
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026